Baja Berhasil Rebound di Tengah Prospek Pelemahan Permintaan

Harga baja berjangka di China berhasil naik tipis pada perdagangan Kamis (25/4/2019), meski pasar tetap berhati-hati terhadap proyeksi permintaan baja di tengah melambatnya proses destocking oleh trader.
Finna U. Ulfah
Finna U. Ulfah - Bisnis.com 25 April 2019  |  15:54 WIB

Bisnis.com, JAKARTA — Harga baja berjangka di China berhasil naik tipis pada perdagangan Kamis (25/4/2019), meski pasar tetap berhati-hati terhadap proyeksi permintaan baja di tengah melambatnya proses destocking oleh trader.

Berdasarkan data Bloomberg, pada perdagangan Kamis (25/4/2019), harga baja rebar di bursa Shanghai ditutup menguat 0,29% naik 11 poin menjadi 3.744 yuan per ton. Sementara itu, harga baja Hot-Rolled Coil juga menguat 0,08% menjadi 3.681 yuan per ton.

"Persediaan produk baja masih lemah, tetapi dalam kecepatan yang lebih lambat, sehingga menunjukkan musim permintaan yang rendah untuk konsumsi baja semakin dekat," kata analis Huatai Futures dalam risetnya seperti dikutip dari Reuters, Kamis (25/4/2019).

Salah satu pabrik baja terbesar di China, Baoshan Iron and Steel Co, mengatakan bahwa  pihaknya melihat adanya risiko melambatnya permintaan dan peningkatan produksi di China, yang merupakan negara penyumbang setengah dari pasokan global.

Bahkan, pihaknya memproyeksi pendapatan yang lebih rendah pada 2019 akibat beberapa industri terkait yang memiliki sinyal pelemahan. "Kontraksi dalam industri termasuk properti dan otomotif akan memperlambat konsumsi tahun ini, meskipun infrastruktur tetap relatif kuat," jelas Baoshan Iron and Steel Co dalam keterangan resminya seperti dikutip dari Bloomberg, Kamis (25/4/2019).

Pasar baja China dapat membantu mengatur suasana industri di seluruh dunia, dengan tren permintaan, pasokan, harga, dan ekspor yang membawa implikasi bagi pabrik di seluruh dunia.

Prospek yang hati-hati dari Baoshan kontras dengan serangkaian sinyal positif dari negara dengan ekonomi terbesar Asia, karena pertumbuhan kuartal pertamanya tahun ini dapat melampaui ekspektasi.

Adapun, pergeseran dalam prospek pabrik ditangkap dalam angka pendapatannya. Baoshan mencatatkan penurunan 46% dalam laba bersih atau sebesar 2,73 miliar yuan pada kuartal pertama tahun ini, lebih rendah dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

Penurunan tersebut menjadi penurunan laba pertama sejak 2015 yang diakibatkan harga bahan baku yang lebih tinggi dan permintaan yang lemah pada lembaran mobil sehingga merusak profitabilitas perusahaan.

Seperti diketahui, sejak awal tahun harga kontrak bijih besi telah berada di jalur bullish dan naik signifikan akibat gangguan pasokan dari kecelakaan bendungan di tambang milik Vale di Brasil yang menyebabkan ditutupnya salah satu tambang penghasil bijih besi terbesar di dunia.

Pada perdagangan Kamis (25/4/2019), harga bijih besi di bursa Dalian melemah 0,24% menjadi 620,50 yuan per ton atau setara US$92,04 per ton, telah bergerak menguat 28,68% secara year to date (ytd).

Harga bijih besi di bursa Singapura menguat tipis 0,03% menjadi US$88,23 per ton, menguat 30,91% secara ytd. Padahal, laba perusahaan sepanjang 2018 berhasil mencapai rekor tertinggi, sebesar 21,6 miliar yuan atau US$32 miliar dan dengan pendapatan sekitar 5 miliar yuan setiap kuartal.

Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump mengatakan bahwa pembicaraan perdagangan yang sedang berlangsung antara AS dan China telah berjalan baik, yang juga membantu meningkatkan sentimen pasar. Pertemuan selanjutnya dijadwalkan dimulai pada 30 April di Beijing dan diikuti oleh diskusi lebih lanjut di Washington pada 8 Mei.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
baja, harga baja

Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top
Tutup