Indika Energy (INDY) Investasi Tambang Emas & Fuel Storage

PT Indika Energy Tbk. tengah mengembangkan diversifikasi usaha dengsn melakukan investasi pada bisnis tambang emas dan penyimpanan bahan bakar minyak atau fuel storage.
Muhammad Ridwan
Muhammad Ridwan - Bisnis.com 25 April 2019  |  20:58 WIB

Bisnis.com, JAKARTA — PT Indika Energy Tbk. tengah mengembangkan diversifikasi usaha dengsn melakukan investasi pada bisnis tambang emas dan penyimpanan bahan bakar minyak atau fuel storage.

Dalam paparan publik yang digelar perseroan pada Kamis (25/4/2019), Direktur Indika Energy Aziz Armand menjelaskan bahwa saat ini perseroan tengah mengerjakan proyek terminal penampungan bahan bakar minyak (BBM).

Proyek pembangunan dan pengoperasian terminal penyimpanan BBM tersebut dilakukan oleh entitas anak perseroan yakni PT Karingau Gapura Terminal Energi.

Aziz mengatakan bahwa perseroan menginvestasikan senilai US$108 juta khusus untuk pembangunan terminal penyimpanan BBM tersebut.

Dia mengatakan bahwa perseroan akan mengucurkan yang cukup besar untuk proyek tersebut pada tahun ini yakni senilai US$95 juta.

Pada akhir 2018, perseroan telah menandatangani kesepakatan untuk dana pinjaman sebesar US$75 juta melalui tiga bank yaitu PT Bank Mandiri (Persero) Tbk., MUFG Bank Ltd., dan ICICI Bank Ltd.

“Proyeknya dimulai pada tahun ini,” ujarnya di Jakarta, Kamis (25/4/2019).

Emiten berkode saham INDY tersebut akan mengerjakan proyek tersebut selama 18 bulan yang terhitung sejak Januari 2019. Perseroan menargetkan terminal penyimpanan BBM tersebut akan rampung pada semester II/2020.

Menurut keterangan perseroan, kontrak penyimpanan BBM tersebut memiliki jangka waktu 20 tahun dengan opsi perpanjangan 10 tahun.

Sementara itu, INDY juga melakukan investasi terhadap tambang Awak Mas yang berlokasi di Sulawesi Selatan.

Investasi tersebut dilakukan perseroan melalui anak usahanya Indika Mineral Investindo yang mengakuisisi 19,9% saham perusahaan pertambangan emas Nusantara Resources Limited yang tercatat di Bursa Australia.

Nusantara Resources merupakaan pemilik 100% tambang Awak Mas yang memiliki sumber daya potensial sebanyak 2 juta onz, dan cadangan potensial sebanyak 1,1 juta onz.

Aziz mengatakan bahwa saat ini, perseroan tengah berada dalam tahapan bankable feasibility study untuk proyek yang menelan biaya US$150–US$200 juta.

“Bankable feasibility study sudah mulai dan diharapkan selesai akhir tahun ini,” ucapnya.

Pada 2019, INDY mengalokasikan belanja modal senilai US$315,5 juta yang akan digunakan perseroan dan entitas anak.

Untuk sektor kontraktor pertambangan, perseroan menganggarkan belanja modal US$177,2 juta, sektor jasa energi, minyak, dan gas perseroan mengalokasikan belanja modal US$10 juta.

Sementara itu, untuk sektor sumber daya energi dan produksi batu bara, perseroan menganggarkan belanja modal US$7 juta dan sektor transportasi dan logistik dianggarakan belanja modal US$11,7 juta.

“Capex sebagian besar ada di PT Petrosea Tbk.,” jelasnya.

Sepanjang kuartal I/2019 INDY membukukan pendapatan US$700,7 juta. Nilai tersebut melemah 13,4% dibandingkan dengan tahun sebelumnya US$809 juta.

Aziz menjelaskan bahwa PT Kideco Jaya Agung memproduksi batu bara secara optimal dan sesuai target yaitu sekitar 24% atau 8,3 juta ton batu bara dari total target produksi 34 juta ton pada tahun ini.

Meskipun demikian, melemahnya harga batu bara menyebabkan pendapatan Kideco menurun dan berakibat pada menyusutnya pendapatan perseroan.

Di sisi lain, Petrosea, Tripatra, dan PT Mitrabahtera Segara Sejati Tbk. (MBSS) menghasilkan performa positif sepanjang kuartal I/2019.

Petrosea membukukan pendapatan sebesar US$115,2 juta atau meningkat 28,6% dibanding US$89,5 juta bandingkan dengan tahun sebelumnya. Peningkatan pendapatan juga terjadi pada Tripatra, yang berhasil membukukan pendapatan sebesar US$96,5 juta atau meningkat 60,1% dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

Sementara itu, MBSS berhasil meningkatkan pendapatan sebesar 45,3% menjadi US$20,9 juta, dan diikuti dengan laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar US$1,5 juta, berbalik untuk dari tahun sebelumnya yang mencatatkan rugi US$5,5 juta pada kuartal I/2018.

Alhasil, perseroan membukukan laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar US$11,7 juta turun 79,95% dari tahun sebelum US$58,37 juta. Sementara laba inti perseroan pada kuartal I/2019 tercatat sebesar US$33,6 juta.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
indika energy, pertambangan

Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top