Jokowi-Amin Unggul Berdasarkan Hasil Quick Count, Rupiah Dibuka Menguat

Pasca-pemilihan umum 2019, rupiah berhasil dibuka menguat pada perdagangan Kamis (18/4/2019).
Finna U. Ulfah | 18 April 2019 08:35 WIB
Karyawan bank memperlihatkan uang pecahan Dolar AS dan Rupiah di Jakarta, Senin (7/1/2019). - ANTARA/Rivan Awal Lingga

Bisnis.com, JAKARTA — Pasca-pemilihan umum 2019, rupiah berhasil dibuka menguat pada perdagangan Kamis (18/4/2019).

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah masih melanjutkan penguatan selama 5 hari berturut-turut. Pada pembukaan perdagangan Kamis (18/4/2019), rupiah menunjukkan keperkasaannya dengan menguat 0,59% atau naik 82 poin menjadi Rp.14.002 per dolar AS. 

Adapun, dari hasil hitung cepat atau quick count Pemilu 2019 yang diselenggarakan kemarin (17/4/2019), mayoritas lembaga survei menunjukkan bahwa pasangan petahana nomor urut 01 Joko Widodo dan Ma'ruf Amin berhasil mengungguli pasangan oposisi nomor urut 02 Prabowo dan Sandiaga Uno.

Mengutip Bisnis.com, berdasarkan polling Charta Politika hingga pukul 08.08 WIB, Jokowi-Amin unggul 54,32% dibandingkan dengan Prabowo-Sandi sebesar 45,68%

Polling Poltracking Indonesia juga menunjukkan 54,87% banding 45,13% untuk pasangan Jokowi-Amin melawan Prabowo-Sandi.

Sementara itu, polling Indikator Politik Indonesia juga mengungguli Jokowi-Amin sebesar 53,91% dibandingkan dengan Prabowo-Sandi sebesar 46,09%.

Wakil Presiden sekaligus analis senior Sovereign Risk Group dari Moody's Investor Service Anushka Shah mengatakan bahwa hasil perhitungan suara cepat sejauh ini menunjukkan masa jabatan kedua bagi Presiden Joko Widodo.

Perkembangan ini akan mengarah kepada kelanjutan kebijakan-kebijakan untuk pasar seperti pada periode pertamanya, dengan fokus pada beberapa reformasi yang telah dikerjakan termasuk pengembangan infrastruktur dan sumber daya manusia, serta pengurangan birokrasi secara bertahap.

"Bauran kebijakan ini telah mendukung investasi dan stabilitas pertumbuhan yang lebih luas. Lingkungan pertumbuhan yang stabil tentu akan mendorong stabilitas pasar keuangan, yang sangat penting bagi ekonomi, mengingat tingginya porsi kepemilikan asing di pasar obligasi,” ujar Anushka seperti dikutip dari keterangan resminya, Kamis (18/4/2019).

Hal tersebut sangat mencerminkan kecenderungan pasar yang ingin menghindari ketidakpastian. Seperti diketahui, ketidakpastian adalah musuh terbesar pelaku pasar.

Walaupun demikian, secara fundamental sesungguhnya masih mendukung laju rupiah untuk tetap berada di jalur Bullish.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai ekspor Maret 2019 mencapai US$14,03 miliar, lebih besar dibandingkan dengan nilai impor yang mencapai US$13,49 miliar. Hal tersebut menyebabkan neraca perdagangan Maret 2019 mengalami surplus sebesar US$540 juta.

Selain itu, defisit transaksi berjalan Indonesia sepanjang kuartal I/2019 sebesar US$6,7 miliar, lebih baik dibandingkan dengan kuartal sebelumnya, yaitu minus US$9,15 miliar.

Di lain sisi, perkembangan perundingan perdagangan yang positif, data ekonomi AS yang baik, dan perkembangan data ekonomi China yang lebih baik daripada perkiraan pasar telah meningkatkan dorongan sentimen terhadap selera investasi aset berisiko, termasuk rupiah.

Sebagai informasi, laju pertumbuhan ekonomi China pada kuartal pertama tahun ini menunjukkan pertumbuhan stabil di level 6,4% lebih baik daripada ekspektasi pasar sebesar 6,3%, dibantu oleh produksi pabrik yang meningkat tajam. 

Pantau terus perkembangan Real Count KPU Pilpres 2019, di sini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Gonjang Ganjing Rupiah, Rupiah

Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top
Tutup