Ditopang Ekspektasi Stabilisasi Ekonomi China, Bursa Asia Menguat

Bursa saham Asia menguat pada perdagangan Selasa (16/4/2019). Harapan atas stabilisasi ekonomi China membantu investor mengabaikan kinerja buruk Wall Street.
Aprianto Cahyo Nugroho
Aprianto Cahyo Nugroho - Bisnis.com 16 April 2019  |  16:13 WIB
Ditopang Ekspektasi Stabilisasi Ekonomi China, Bursa Asia Menguat
Bursa Asia MSCI - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA – Bursa saham Asia menguat pada perdagangan Selasa (16/4/2019). Harapan atas stabilisasi ekonomi China membantu investor mengabaikan kinerja buruk Wall Street karena kinerja perbankan yang mengecewakan.

Indeks MSCI Asia Pacific di luar Jepang menguat 0,3 persen. Sementara itu, indeks Nikkei 225 dan Hang Seng menguat 0,24 persen dan 1,07 persen, sedangkan indeks Shanghai Composite melonjak 2,39 persen. Di sisi lain, indeks Topix melemah 0,09 persen.

Kemarin, indeks telah naik ke level tertinggi sejak Juli 2018. Itu terjadi setelah data ekspor dan perbankan China yang dirilis pekan lalu meredakan kekhawatiran investor atas kesehatan ekonomi negeri itu.

"Data China baru-baru ini meningkatkan kepercayaan terhadap ekonomi negara tersebut, sedangkan pendapatannya juga tidak buruk," kata Yukino Yamada, analis senior di Daiwa Securities, seperti dikutip Reuters.

Harapan bahwa negosiator perdagangan China dan AS akan segera mencapai kesepakatan juga masih jadi sentimen pendorong pasar.

Perselisihan perdagangan AS-China, tanda-tanda pelambatan pendapatan perusahaan global dan investasi bisnis, semuanya memberikan tekanan pada aset berisiko dalam satu tahun terakhir, sehingga investor dengan cepat bereaksi begitu ada berita positif.

Pergerakan bursa Asia berbanding terbalik dengan Wall Street yang terseret ke zona merah karena kinerja perbankan yang kurang memuaskan sehingga menahan antusiasme investor.

Banyak investor menunggu data produk domestik bruto (PDB) China yang dirilis pada Rabu sebagai petunjuk tentang kesehatan negara dengan ekonomi terbesar kedua di dunia tersebut.

Sebuah jajak pendapat Reuters memperkirakan pertumbuhan PDB kuartal pertama China telah menurun jadi 6,3 persen, laju terlemah dalam setidaknya 27 tahun terakhir. Tetapi berbagai langkah untuk meningkatkan permintaan domestik mungkin telah memberikan fundamental yang kuat.

"Prospek untuk Asia secara kritis bergantung pada prospek pertumbuhan China dan pembicaraan perdagangan AS-China yang sedang berlangsung. Di kedua sisi, pembuat kebijakan dan investor percaya bahwa hasil dari dua masalah ini menjadi lebih positif," tulis analis di Bank of America Merrill Lynch.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Bursa Asia

Editor : Saeno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top