Rupiah Menguat 3 Hari Berturut-turut Didorong Surplus Neraca Dagang

Rupiah berhasil ditutup menguat selama 3 hari berturut-turut seiring dengan kembali surplusnya neraca perdagangan dalam negeri dan merekahnya selera pasar untuk berinvestasi aset berisiko.
Finna U. Ulfah | 15 April 2019 16:40 WIB
Karyawan menghitung mata uang rupiah di gerai penukaran mata uang asing Ayu Masagung, Kwitang, Jakarta Pusat, Senin (28/1/2019). - ANTARA/Sigid Kurniawan

Bisnis.com, JAKARTA— Rupiah berhasil ditutup menguat selama 3 hari berturut-turut seiring dengan kembali surplusnya neraca perdagangan dalam negeri dan merekahnya selera pasar untuk berinvestasi aset berisiko.

Berdasarkan data Bloomberg, pada penutupan perdagangan Senin (15/4/2019) rupiah ditutup menguat 0,4% menjadi Rp14.063 per dolar AS, menjadi nilai tukar dengan kinerja penguatan terbaik kedua di kelompok mata uang Asia.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai ekspor Maret 2019 mencapai US$14,03 miliar, lebih besar dibandingkan dengan nilai impor yang mencapai US$13,49 miliar.

Hal tersebut menyebabkan neraca perdagangan Maret 2019 mengalami surplus sebesar US$540 juta. Direktur Utama PT Garuda Berjangka Ibrahim mengatakan, dengan realisasi ekspor dan impor tersebut maka Indonesia berhasil mencetak surplus untuk dua bulan berturut-turut.

Pada Februari 2019, tercatat neraca perdagangan Indonesia surplus US$330 juta dan dan kembali terjadi di Maret sebesar US$540 juta. Selain itu, defisit transaksi berjalan Indonesia sepanjang kuartal I/2019 sebesar US$6,7 miliar, lebih baik dibandingkan dengan kuartal sebelumnya, yaitu minus US$9,15 miliar.

"Artinya, ada kemungkinan defisit neraca perdagangan Maret akan lebih rendah dibandingkan dengan konsensus pasar. Potensi neraca pembayaran yang lebih baik tentu menjadi sentimen positif bagi rupiah," ujar Ibrahim kepada Bisnis.com, Senin (15/4/2019).

Selain itu, pasar tengah mengalami kenaikan selera terhadap aset berisiko yang disebabkan oleh rilis notulensi rapat The Fed edisi Maret. Ibrahim mengatakan, dalam notulensi tersebut terpampang nyata bahwa suasana kebatinan dalam rapat komite pengambil kebijakan begitu murung atau dovish

Mayoritas peserta rapat memperkirakan proyeksi ekonomi dan risiko ke depan kemungkinan menyebabkan suku bunga acuan tidak berusab sampai akhir tahun.

Hasrat pelaku pasar juga bertambah besar seiring dengan perpanjangan batas waktu Brexit. Terdapat kemungkinan pemerintah Inggris akan melakukan referendum tahap kedua.

Meredanya kekhawatiran terhadap potensi penurunan pertumbuhan ekonomi China setelah data ekspor China tumbuh 14,2% yoy juga membantu rupiah. Sentimen-sentimen tersebut telah membangkitkan selera investor untuk memburu aset berisiko, salah satunya rupiah.

Ibrahim memprediksi pada perdagangan Selasa (16/4/2019) rupiah akan diperdagangkan pada level Rp14.040 per dolar AS hingga Rp14.015 per dolar AS.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Gonjang Ganjing Rupiah, Neraca Perdagangan

Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top