Saham SMGR Masih Kokoh?

Setelah mengakuisisi PT Holcim Indonesia Tbk. sebagai produsen terbesar ketiga di Indonesia, bagaimana prospek saham PT Semen Indonesia Tbk. pada tahun ini?
Muhammad Ridwan
Muhammad Ridwan - Bisnis.com 12 April 2019  |  00:13 WIB
Saham SMGR Masih Kokoh?
/Bisni

Bisnis.com, JAKARTA - Setelah mengakuisisi PT Holcim Indonesia Tbk. sebagai produsen terbesar ketiga di Indonesia, bagaimana prospek saham PT Semen Indonesia Tbk. pada tahun ini?

Analis Ciptadana Sekuritas Asia Fahalmesta Fahressi dalam risetnya menyebutkan bahwa setelah PT Solusi Bangun Indonesia Tbk. (SMCB) yang sebelumnya bernama PT Holcim Indonesia Tbk. ke dalam penghitungan keuangan PT Semen Indonesia Tbk., maka diproyeksikan pertumbuhan laba bersih perseroan akan lebih rendah.

Pada 2019, laba bersih emiten berkode saham SMGR tersebut diproyeksikan akan mencapai 18,1% secara year-on-year, pertumbuhan laba lebih rendah dibandingkan dengan 2018.

Hal tersebut disebabkan karena utang yang muncul atas aksi merger dan akuisisi. Pada 2019, beban bunga diprediksi akan melonjak menjadi Rp2,6 triliun. Di tambah dengan asumsi biaya royalti atas penggunaan merek dagang Holcim pada 2019.

Meskipun demikian, pada 2020, tanpa prediksi pertumbuhan ASP dan volume penjualan yang agresif, dia memperkirakan SMGR akan membukukan pertumbuhan pendapatan dua digit yakni 42,3% atau menjadi Rp3,59 triliun.

Melalui SMCB, seharusnya SMGR akan memiliki lebih banyak ruang untuk memenuhi permintaan di masa depan, karena total kapasitas terpasang saat ini berjumlah 50 juta ton dan tambahan 14,5 juta ton dari SMCB).

“Dengan memiliki SBI di tangan tampaknya menjadi langkah besar dalam pandangan kami,” ujarnya dalam riset.

Sebelumnya perusahaan telah mencapai sekitar 89% dari tingkat utilitas, merupakan yang tertinggi di industri semen. Selain memperluas jejak di Jawa Barat, meningkatkan efisiensi biaya dan diversifikasi variasi produk, dengan mengambil alih Holcim Indonesia, SMGR akan menghapus kemungkinan tertahan di masa depan, karena kapasitas yang mencapai tingkat utilitas maksimal.

Setelah mengkonsolidasikan SMCB, Ciptadana Sekuritas Asia memprediksikan TP berdasarkan DCF yang lebih tinggi dari Rp17.350 dan berpotensi naik 27,8%, dengan asumsi WACC 11,7% dan tingkat pertumbuhan berkelanjutan 5%.

“TP kami menyiratkan EV/EBITDA pada 2019 sebesar 14,4 kali,” pungkasnya.

Sementara itu, Budi Rustanto, Analis Valbury Sekuritas Indonesia menyebut dengan akuisisi SMCB akan membawa dampak positif bagi SMGR, seperti biaya distribusi yang lebih rendah terutama di Sumatera Utara, Tengah, Jawa Barat, dan Jakarta.

Selain itu, akuisisi tersebut dapat meningkatkan kapasitas produksi menjadi 51juta ton, dan membuat pangsa pasar yang lebih tinggi, serta diversifikasi produk. Di samping itu akuisisi tersebut meningkatkan rerata nilai jual (average selling price/ASP) di tengah konsolidasi industri.

SMGR berupaya untuk meningkatkan profitabilitas SMCB melalui strategi quick win dengan memanfaatkan sinergi rantai pasokan dan daya tawar yang lebih besar untuk pengadaan.

“Kami optimis bahwa konsolidasi akan mempercepat ekspansi hilir. Namun, akuisisi ini akan menyebabkan biaya keuangan yang lebih tinggi karena melonjaknya utang,” ujarnya.

Budi memperkirakan margin akan meningkat seiring dengan ASP yang lebih tinggi, penurunan harga batubara, dan harga minyak. Selain itu, SMGR bertujuan untuk lebih meningkatkan kinerjanya dengan penataan ulang jaringan distribusi dan merek serta mempertahankan tingkat utilitas pada 90% untuk menjaga efisiensi.

Adapun, Valbury Sekuritas Indonesia mempertahankan rekomendasi beli dengan target harga berdasarkan DCF yang lebih tinggi yaitu Rp15.000 per saham. Saham saat ini diperdagangkan pada PER 2019 dari 23,8 kali dan EV/ BITDA dari 12,6 kali.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
smgr

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top
Tutup