Aksi IPO Akan Lebih Marak di Semester II

Penawaran umum perdana saham emiten baru diyakini akan lebih marak pada semester kedua mendatang sehingga target 75 emiten baru yang ditetapkan Bursa Efek Indonesia tahun ini tetap bisa tercapai.
Emanuel B. Caesario | 10 April 2019 17:40 WIB
Karyawan melintas di dekat papan elektronik yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (18/2/2019). - Bisnis/Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA — Penawaran umum perdana saham emiten baru diyakini akan lebih marak pada semester kedua mendatang sehingga target 75 emiten baru yang ditetapkan Bursa Efek Indonesia tahun ini tetap bisa tercapai.

Boumediene Sihombing, Direktur Investment Banking – Capital Market Danareksa Sekuritas, mengatakan bahwa pada semester pertama tahun ini, tidak dapat dipungkiri bahwa baik emiten baru maupun investor sama-sama bersikap wait and see untuk masuk ke pasar.

Faktor pemilu menjadi alasan utama sikap menunggu pelaku pasar. Meskipun sepanjang sejarah, kinerja IHSG cenderung tetap positif selama tahun pemilu, tetapi adanya ketidakpastian tetap menjadi faktor yang ingin dihindari pelaku pasar dalam mengambil langkah strategis seperti IPO.

Boumediene mengatakan, langkah IPO suatu korporasi ditentukan oleh banyak faktor pertimbangan, terutama terkait dengan momentum. Momentum ini relatif berbeda antara satu calon emiten dengan calon emiten lainnya.

Hanya saja, secara umum pelaku pasar berekspektasi kondisi pasar secara umum sudah akan lebih baik pada semester kedua mendatang, sehingga cenderung menunggu. Menurutnya, usainya pilpres akan menjadi titik awal calon emiten untuk mulai menjajaki peluang IPO tahun ini.

“Sekarang memang orang lagi wait and see, tetapi persiapan jalan terus. Saya perkirakan, di semester kedua sih IPO baru akan lari kencang. Kita harapkan setelah pilpres, confidence level investor akan pulih juga,” katanya, Rabu (10/4/2019).

Selain faktor hilangnya ketidakpastian setelah pilpres, dirinya menilai faktor lain yang mendukung laju emisi di semester kedua nanti adalah ancaman pengetatan suku bunga global yang mengecil, bahkan justru kemungkinan melonggar. Hal ini akan memberikan stabilitas bagi pasar keuangan global.

Sektor pertama yang akan mendapatkan efek positif dari stabilitas suku bunga global adalah sektor perbankan. Stabilnya bisnis perbankan akan berdampak pula terhadap sektor riil.

Boumediene mengatakan, Danareksa Sekuritas tahun ini menargetkan untuk lebih agresif menyasar pasar penjaminan emisi penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO) setelah menjadi anak usaha PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI).

Kendati enggan mengungkapkan target penjaminan emisi tahun ini, tetapi perseroan telah menyiapkan strategi untuk bisa lebih baik dari tahun lalu. Tahun lalu, Danareksa Sekuritas hanya menangani 3 mandat IPO, sedangkan 2 lainnya tertunda karena momentumnya berubah akibat dinamika kondisi makro ekonomi global dan domestik.

Pantau terus perkembangan Real Count KPU Pilpres 2019, di sini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
ipo, bei

Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top
Tutup