Ekonomi Jepang Melambat, Prospek Yen Memburuk

Awan gelap tampak menggayungi yen. Selama enam pekan beruntun, para pedagang telah meningkatkan short position pada mata uang Jepang ini di tengah tanda-tanda melambatnya pertumbuhan ekonomi.
Renat Sofie Andriani | 08 April 2019 06:55 WIB
Industri di Jepang. - .Reuters

Bisnis.com, JAKARTA – Awan gelap tampak menggayungi yen. Selama enam pekan beruntun, para pedagang telah meningkatkan short position pada mata uang Jepang ini di tengah tanda-tanda melambatnya pertumbuhan ekonomi.

Tanda-tanda tersebut memperbesar kemungkinan bahwa Bank Sentral Jepang (Bank of Japan/BoJ) akan mempertahankan stimulus moneternya.

Sementara itu, sentimen untuk aset berisiko global justru membaik ketika Amerika Serikat (AS) dan China terlihat mendekati tahap final tercapainya kesepakatan perdagangan mereka. Perkembangan positif ini serta merta menggerus permintaan untuk aset-aset safe haven seperti yen.

Data indikator ekonomi terbaru dari Jepang yang akan dirilis pekan ini bisa jadi bakal menambah sentimen bearish untuk yen. Pesanan mesin diperkirakan menyusut pada Februari dibandingkan dengan tahun sebelumnya, sedangkan inflasi harga produsen mendekati level terendahya dalam dua tahun pada Maret.

Survei Tankan yang dirilis BoJ pekan lalu telah menunjukkan tingkat kepercayaan manufaktur mencatat penurunan terbesar dalam enam tahun pada kuartal pertama, sementara pemerintah akan menaikkan pajak penjualan menjadi 10% dari 8% pada Oktober.

Bahkan satu faktor yang biasanya berdampak positif terhadap yen sejauh ini gagal memberikan dukungan. Imbal hasil tambahan pada obligasi AS atas obligasi pemerintah Jepang turun ke level terendahnya dalam lebih dari satu tahun pada bulan lalu. Sayangnya, hal ini hanya memberi dorongan jangka pendek bagi yen.

Faktor yang lebih penting ketimbang spread imbal hasil tampaknya adalah aliran investasi. Investor Jepang melakukan pembelian bersih saham dan obligasi luar negeri senilai 7,85 triliun yen (US$70,3 miliar) tahun ini hingga 29 Maret, dibandingkan dengan nilai 20,1 triliun yen pada tahun lalu, menurut data Kementerian Keuangan Jepang.

“Dolar AS cenderung mendapat dukungan selama periode tahun ini karena investor Jepang diperkirakan akan mengalokasikan lebih banyak dana mereka di luar negeri,” ujar Bart Wakabayashi, branch manager State Street Bank & Trust Co. di Tokyo

“Aliran musiman ini diperkirakan akan menjaga yen di bawah tekanan. Nilai tukar yen terhadap dolar AS bisa melemah menuju 112,30,” tambahnya, seperti dilansir Bloomberg.

Nilai tukar yen telah melemah 2,8% terhadap dolar AS selama tiga bulan terakhir dan diperdagangkan di level 111,67 per dolar AS pada Jumat malam (5/4/2019) di Tokyo.

Jika nilai tukarnya terhadap dolar AS terus turun hingga menembus 112,14, level terendah yang dibukukan pada 5 Maret, maka akan menempatkannya pada posisi terlemah tahun ini.

Sementara itu, prospek teknis untuk dolar AS dengan yen masih bearish. Indikator momentum stochastic yang lambat, menunjukkan masih di bawah wilayah overbought. Hal ini mengindikasi masih adanya ruang untuk bergerak lebih tinggi.

Pantau terus perkembangan Real Count KPU Pilpres 2019, di sini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
yen, ekonomi jepang

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top
Tutup