Minyak WTI Terbebani Sinyal Perlambatan, Harga Batu Bara Newcastle Mampu Naik

Harga batu bara Newcastle berhasil berakhir menguat pada perdagangan Senin (25/3/2019).
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 26 Maret 2019  |  08:53 WIB
Minyak WTI Terbebani Sinyal Perlambatan, Harga Batu Bara Newcastle Mampu Naik
Aktivitas penambangan batu bara di Tambang Air Laya, Tanjung Enim, Sumatra Selatan, Minggu (3/3/2019). - Bisnis/Felix Jody Kinarwan

Bisnis.com, JAKARTA – Harga batu bara Newcastle berhasil berakhir menguat pada perdagangan Senin (25/3/2019).

Berdasarkan data Bloomberg, harga batu bara di bursa ICE Newcastle untuk kontrak teraktif Mei 2019 ditutup menguat 0,68% atau 1,40 poin di level US$88,65 per metrik ton, setelah berakhir melemah 0,73% atau 0,65 poin di level US$88,05 per metrik ton pada perdagangan Jumat (22/3).

Sebaliknya di bursa ICE Rotterdam, harga batu bara untuk kontrak teraktif April 2019 berakhir melemah 0,91% atau 0,60 poin di posisi 65,55 pada Senin.

Harga batu bara thermal untuk pengiriman Mei 2019 di  Zhengzhou Commodity Exchange, juga berakhir melemah 0,23% atau 1,4 poin di level 595,4 yuan per metrik ton pada perdagangan kemarin.

“Penggunaan batu bara oleh pembangkit-pembangkit listrik telah pulih setelah pertemuan legislatif tahunan China berakhir bulan ini, tetapi pembelian di pasar spot tetap lemah,” jelas Shanghai Cifco Futures dalam risetnya, seperti dikutip Bloomberg.

Sementara itu, harga minyak mentah Amerika Serikat (AS) terus melemah pada akhir perdagangan Senin (25/3), di tengah keresahan para pedagang mengenai tanda-tanda perlambatan ekonomi AS.

Harga minyak West Texas Intermediate untuk kontrak pengiriman Mei 2019 ditutup melemah 0,37% atau 0,22 poin di level US$58,82 per barel di New York Mercantile Exchange, level terendahnya sejak 15 Maret. Pada perdagangan Jumat (22/3), minyak WTI juga tertekan dan berakhir melorot 1,57% di posisi 58,82.

Meski demikian, minyak Brent untuk kontrak Mei 2019 mampu rebound dan berakhir naik 0,18 poin atau 0,27% di level US$67,21 per barel pada Senin (25/3), setelah ditutup melorot 1,22% di level US$67,03 per barel pada Jumat (22/3).

Para pelaku pasar tetap berhati-hati setelah indeks Treasury AS berinversi pada Jumat (22/3), yang menandakan kemungkinan resesi dalam waktu dekat.

Sentimen pergolakan di Venezuela, di mana AS memperingatkan Rusia untuk tidak melakukan intervensi, dan penurunan dolar AS tidak cukup untuk mencegah pelemahan harga minyak AS lebih lanjut pada Senin.

“Meski pasokan minyak mentah global menipis, kita menjadi lebih sensitif atas kapan resesi berikutnya datang,” ujar Cailin Birch, seorang ekonom global di Economist Intelligence Unit, London.

Minyak mentah AS pun tergelincir turun setelah mencapai level US$60 per barel pekan lalu. Data ekonomi yang mengecewakan dan berlanjutnya ketidakpastian atas perang dagang AS-Tiongkok telah mengurangi sentimen pendorongnya.

Hal tersebut mengimbangi tanda-tanda lanjutan komitmen upaya pembatasan produksi minyak oleh koalisi produsen yang dipimpin Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC).

“Terlepas dari tanda-tanda peringatan ekonomi, ancaman terhadap konsumsi minyak tampaknya terlalu berlebihan,” tutur Phil Flynn, analis pasar senior di Price Futures Group Inc., Chicago.

Menurutnya, tingkat pengangguran di AS tetap rendah, permintaan bensin kuat dan pasokan minyak mentah terlihat semakin ketat dalam beberapa bulan mendatang berkat langkah pemangkasan oleh OPEC dan mitranya.

"Tidak ada tanda nyata jika Anda melihat ekonomi bahwa akan terjadi resesi dalam waktu dekat," kata Flynn. "Apakah pasar minyak peduli dengan hal itu hari ini? Mungkin tidak. Tapi pasar akan mulai peduli tentangnya ketika melihat persediaan menurun.”

Pergerakan harga batu bara kontrak Mei 2019 di bursa Newcastle

Tanggal                                    

US$/MT

25 Maret

88,65

(+0,68%)

22 Maret

88,05

(-0,73%)

21 Maret

88,70

(-1,77%)

Sumber: Bloomberg

 

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Harga Minyak, harga batu bara

Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top