Wijaya Karya (WIKA) Pasang Target Agresif Tahun Ini, Apa Saja Strateginya?

PT Wijaya Karya (Persero) Tbk. memasang target agresif untuk pertumbuhan kinerja keuangan tahun ini sejalan dengan pencapaian periode 2018 serta sejumlah strategi yang telah disiapkan.
M. Nurhadi Pratomo | 21 Maret 2019 09:16 WIB
Presiden Direktur PT Wijaya Karya (Persero) Tbk. Tumiyana (kanan) memberikan paparan saat berkunjung ke kantor redaksi Bisnis Indonesia, di Jakarta, Rabu (17/10/2018). - JIBI/Felix Jody Kinarwan

Bisnis.com, JAKARTA — PT Wijaya Karya (Persero) Tbk. memasang target agresif untuk pertumbuhan kinerja keuangan tahun ini sejalan dengan pencapaian periode 2018 serta sejumlah strategi yang telah disiapkan.

Sekretaris Perusahaan Wijaya Karya Puspita Anggraeni mengatakan bahwa target penjualan senilai Rp42,13 triliun pada 2019. Nilai itu meningkat 35,22% dari capaian penjualan perseroan senilai Rp31,16 triliun pada 2018.

Puspita mengatakan laba bersih yang dibidik senilai Rp3,01 triliun pada 2019. Jumlah itu menurutnya meningkat 45,20% dari perolehan laba bersih perseroan Rp2,07 triliun pada 2018.

“Peningkatan laba perseroan pada 2019 ditargetkan akan diperoleh dari konstruksi kereta cepat Jakarta—Bandung yang ditargetkan mencapai progres 60%,” jelasnya kepada Bisnis.com, Rabu (20/3/2019).

Selain itu, dia menyebut WIKA juga menerapkan teknologi building information modelling (BIM) di proyek yang dikerjakan. Dengan demikian, strategi itu akan menciptakan efisiensi.

Dalam siaran pers, Direktur Utama Wijaya Karya Tumiyana menjelaskan bahwa net profit margin (NPM) mengalami kenaikan sebesar 6,65% dibandingkan dengan capaian 2017 sebesar 5,18%. Pencapaian ini membuat perseroan optimistis merealisasikan target 2019.

“Performa WIKA selama 2018 menunjukkan bahwa kami sudah on track menghasilkan efisiensi dan berpotensi untuk terus bertumbuh secara finansial maupun portofolio proyek,” jelasnya.

Berdasarkan laporan keuangan 2018, Wijaya Karya mengantongi pendapatan Rp31,15 triliun pada 2018. Jumlah itu naik 19,03% dari Rp26,17 triliun pada 2017.

Dengan demikian, emiten berkode saham WIKA itu mengamankan laba yang dapat diatribusikan ke pemilik entitas induk Rp1,73 triliun per akhir 2018. Realisasi tersebut tumbuh 43,94% dari Rp1,20 triliun pada 2017.

Di sisi lain, WIKA tercatat memiliki total liabilitas Rp42,01 triliun per akhir 2018 atau naik 35,30% secara tahunan. Sementara itu, ekuitas tercatat senilai Rp17,21 triliun atau tumbuh 17,66% secara tahunan.

Adapun, total aset yang dimiliki kontraktor pelat merah itu senilai Rp59,23 triliun per akhir 2018. Jumlah tersebut naik 29,65% dari Rp45,68 triliun pada 2017.

Berdasarkan data yang dihimpun Bisnis.com, pencapaian laba bersih WIKA pada 2018 menjadi yang tertinggi sepanjang 2014—2018. Jumlah yang dikantongi perseroan juga terus naik dari Rp615,18 miliar pada 2014, Rp625,04 miliar pada 2015, Rp1,01 triliun pada 2016, Rp1,20 triliun pada 2017, dan Rp1,73 triliun pada 2018.

Saat dihubungi Bisnis.com, Direktur Operasi III Wijaya Karya Destiawan Soewardjono mengungkapkan pekerjaan luar negeri berkontribusi 12% terhadap perolehan kontrak baru WIKA tahun lalu. Untuk kontribusi laba, kontribusi yang diberikan hampir mencapai 5%.

“Untuk tahun ini [targetnya] masing-masing tumbuh 30% dan 20%,” jelasnya.

Destiawan mengungkapkan optimisme tersebut sejalan dengan masih besarnya potensi pasar proyek di luar negeri, salah satunya di Afrika. Apalagi, perseroan mendapatkan dukungan fasilitas dari Eximbank sehingga produksi luar negeri dapat terus ditingkatkan.

Pantau terus perkembangan Real Count KPU Pilpres 2019, di sini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
wijaya karya, wika, kinerja emiten

Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top
Tutup