Ini Penyebab Indeks Reksa Dana Campuran Mampu Menyalip Indeks Saham dan Pendapatan Tetap

Kinerja indeks reksa dana campuran menjadi yang paling tinggi dibandingkan reksa dana lainnya sepanjang tahun berjalan 2019. Hal itu ditopang oleh underlying asset reksa dana campuran yang ditempatkan di deposito.
Dwi Nicken Tari
Dwi Nicken Tari - Bisnis.com 20 Februari 2019  |  09:40 WIB
Ini Penyebab Indeks Reksa Dana Campuran Mampu Menyalip Indeks Saham dan Pendapatan Tetap
Ilustrasi

Bisnis.com, JAKARTA — Kinerja indeks reksa dana campuran menjadi yang paling tinggi dibandingkan reksa dana lainnya sepanjang tahun berjalan 2019. Hal itu ditopang oleh underlying asset reksa dana campuran yang ditempatkan di deposito.

Berdasarkan data Infovesta Utama per 15 Februari 2019, kinerja indeks reksa dana campuran tercatat pada level 1,83% atau lebih rendah (underperform) dibandingkan indeks acuannya di level 2,13%.

Selanjutnya, kinerja indeks reksa dana pendapatan tetap mencatatkan imbal hasil sebesar 1,08%, outperform dari indeks acuannya sebesar 0,96%, dan kinerja indeks reksa dana pasar uang yang sebesar 0,69% underperform dari indeks acuannya sebesar 0,71%.

Di posisi terakhir, indeks reksa dana saham mencatatkan return sebesar 0,60% atau jauh dari indeks acuannya, yakni IHSG yang berada di level 3,14%. Padahal, indeks reksa dana saham sempat memiliki return tertinggi pada akhir bulan lalu dengan pencapaian 3,56%. 

Chief Investment Officer PT Paytren Aset Management Achfas Achsien menjelaskan, komposisi investasi produk reksa dana campuran yang mengkombinasikan investasi saham, obligasi, dan deposito menjadi penopang kinerja indeks tersebut di tengah koreksi pasar keuangan belakangan ini.

“Di reksa dana campuran memang ada koreksi. [Tapi] kan tidak semua reksa dana campuran berinvestasi di obligasi dan saham, ada juga di deposito. Kebetulan di deposito tidak ikut koreksi,” tuturnya ketika dihubungi Bisnis.com, Selasa (19/2/2019).

Dia melanjutkan, prospek produk reksa dana campuran ke depannya memamg cukup menantang dengan meningkatnya ketidakpastian di pasar akibat sentimen global dan domestik.

Lantaran reksa dana campuran memiliki balancing antara saham dan instrumen pendapatan tetap (fixed-income instrument), para manajer investasi pun diharapkan lebih jeli dalam menyusun atau mengalokasikan kelas aset produk reksa dananya.

“Kapan harus masuk ke saham, kapan harus masuk ke obligasi, kapan hanya stay di deposito saja,” imbuh Achfas sambil menambahkan bahwa penyusunan kelas aset tersebut juga harus sesuai dengan aturan dan batasan yang ditetapkan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Menurutnya, wajar apabila ketika terjadi koreksi di harga saham dan harga obligasi lantas manajer keuangan memilih untuk bertahan sementara di deposito. Walaupun memang apabila dibandingkan dengan obligasi, imbal hasil yang ditawarkan dari deposito terbilang lebih kecil.

Dengan demikian, untuk saat ini Achfas masih merekomendasikan produk reksa dana campuran dan pasar uang. Pasalnya, kedua jenis produk reksa dana tersebut lebih resisten terhadap gejolak yang terjadi di pasar uang.

“[Reksa dana campuran] untuk di kondisi ketidakpastiannya tinggi. Tapi kalau mau aman sekalian ya di reksa dana pasar uang,” tuturnya.

Senada, Executive Vice President Intermediary Business Schroders Indonesia Bonny Iriawan menilai semua kelas aset masih berada dalam volatilitas untuk jangka pendek. “Mungkin hanya [reksa dana] pasar uang yang relatif stabil. Tetapi, medium hingga jangka panjang, [kelas aset] saham dan obligasi bisa perform,” ujarnya.

Dia menjelaskan, volatilitas saham dan obligasi semakin tinggi belakangan ini karena investor tengah mencermati tenggat akhir dari perundingan dagang antara Amerika Serikat dan China,

Apabila hasil perundingan dagang tersebut positif dan melegakan, Indonesia selaku salah satu pasar negara berkembang (emerging market) pun bakal dapat menikmati aliran modal masuk asing (capital inflow).

Selain itu, sentimen positif juga dapat datang dari momentum Pemilu, yang secara historis dapat memperkokoh posisi IHSG. “Ritel mungkin masih menunggu hasil setelah 17 April 2019. Kalau Pemilu berjalan damai, ritel akan mengakumulasi,” katanya.

Adapun, industri reksa dana mencatat kinerja yang tidak menggembirakan pada penutupan pekan lalu. Anjloknya kinerja IHSG dan koreksi yang terjadi pada pasar obligasi menyebabkan buruknya kinerja indeks reksa dana saham, campuran, dan pendapatan tetap sehingga masing-masing mencatatkan return -2.46%, -1.38%, dan -0.45%.

Satu-satunya indeks reksa dana yang mencatatkan pertumbuhan hanya lah jenis pasar uang, meski tumbuh terbatas sebesar 0,11%.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
reksa dana

Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top