Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Persediaan Biji Kakao Dunia Turun 91.000 Ton

Persediaan biji kakao global mencapai 1,48 juta ton pada periode 2017/2018. Jumlah tersebut turun sebanyak 91.000 ton dibandingkan dengan periode sebelumnya sebesar 1,57 juta ton.
Dika Irawan
Dika Irawan - Bisnis.com 19 Februari 2019  |  15:59 WIB
Pekerja memeriksa buah kakao di Sunggal, Deli Serdang, Sumut, Selasa (8/1). - Bisnis.com
Pekerja memeriksa buah kakao di Sunggal, Deli Serdang, Sumut, Selasa (8/1). - Bisnis.com

Bisnis.com, JAKARTA – Persediaan biji kakao global mencapai 1,48 juta ton pada periode 2017/2018. Jumlah tersebut turun sebanyak 91.000 ton dibandingkan dengan periode sebelumnya sebesar 1,57 juta ton.

Demikian laporan hasil peninjauan kelompok kerja pakar Organisasi Kakao Internasional (International Cocoa Organization/ICCO) mengenai tingkat stok biji kakao global,  pada akhir Januari lalu, dikutip dari laman resmi ICCO, Selasa (19/2).

Penurunan stok tersebut berbeda dari perkiraan statistik yang diterbitkan oleh ICCO pada November 2018. Dalam statistik itu disebutkan, stok kakao surplus tipis sebanyak 22.000 ton untuk musim 2017/2018. Sejauh ini, Sekretariat ICCO mempertahankan estimasi tersebut.

Tim tersebut juga melaporkan sebanyak 76% persediaan biji tersebut berada di negara-negara importir. Sementara itu, sekitar 19% disimpan di negara-negara produsen, dan 5% kapal kargo pada 30 September tahun lalu.

Sebelumnya, sejumlah analis yang disurvei oleh Reuters, Minggu (17/2), memperkirakan, harga kakao global akan naik tipis pada tahun ini.

Sebanyak tujuh analis tersebut memperkirakan, harga kakao bursa ICE New York pada akhir tahun berada pada level US$2,450 per ton. Adapun harga kakao di bursa ICE London, bertengger pada level 1.850 pound sterling.

Mereka beralasan, faktor kunci yang mesti diperhatikan dalam pasar kakao ini, yaitu volatilitas mata uang, ketika Inggris bersiap meninggalkan Uni Eropa.  

Dalam perdagangan kakao, pound sterling digunakan untuk bertransaksi sehingga kenaikan dan penurunannya mempengaruhi harga.

Selain itu, para analis juga mengingatkan tentang prospek gangguan panen karena cuaca di negara produsen seperti Kamerun juga bakal mempengaruhi harga. Di samping Kamerun, trader juga akan terus mencermati cuaca di Pantai Gading dan tanda-tanda gejolak politik menjelang pemilihan presiden 2020.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

kakao produksi kakao biji kakao
Editor : Riendy Astria
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top