Pasar Mata Uang Minim Insentif, Rupiah Kendur

Nilai tukar rupiah dan mayoritas mata uang di Asia kompak melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan hari ini, Kamis (14/2/2019).
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 14 Februari 2019  |  18:40 WIB
Pasar Mata Uang Minim Insentif, Rupiah Kendur
Karyawan menghitung mata uang rupiah dan dolar AS di Jakarta, Senin (1/7/2019). - Bisnis/Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA – Nilai tukar rupiah dan mayoritas mata uang di Asia kompak melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan hari ini, Kamis (14/2/2019).

Berdasarkan data Bloomberg, nilai tukar rupiah di pasar spot ditutup melemah 31 poin atau 0,22% di level Rp14.090 per dolar AS, dari level penutupan perdagangan sebelumnya.

Pada perdagangan Rabu (13/2), rupiah mampu rebound dan mengakhiri pergerakannya dengan apresiasi 9 poin atau 0,06% di level Rp14.059 per dolar AS.

Tenaga rupiah mulai mengendur terhadap dolar AS ketika dibuka terdepresiasi 12 poin atau 0,09% di level Rp14.071 per dolar AS pagi tadi. Sepanjang perdagangan hari ini, rupiah bergerak di level Rp14.068 – Rp14.095 per dolar AS.

Bersama rupiah, mayoritas mata uang di Asia melemah terhadap dolar AS, dipimpin peso Filipina dan rupee India yang masing-masing terdepresiasi 0,65% dan 0,4%.

Sementara itu, indeks dolar AS, yang mengukur kekuatan greenback terhadap sejumlah mata uang utama terpantau lanjut menguat 0,055 poin atau 0,06% ke level 97,184 pada pukul 17.32 WIB.

Pergerakan indeks sebelumnya dibuka naik tipis 0,009 poin atau 0,01% di level 97,138, setelah pada perdagangan Rabu (13/2) berakhir menguat 0,43% atau 0,420 poin di posisi 97,129.

Dari pasar saham di Asia, investor cenderung menahan diri untuk bertaruh pada saham-saham baru dan indeks MSCI pun turun 0,3%.

Menurut William Jackson, kepala ekonom pasar berkembang di Capital Economics, pergerakan saham cenderung sepi karena tidak ada hal signifikan yang terjadi. Senada, ekonom di SMBC Nikko Securities melihat kurangnya dorongan bagi pasar.

“Mata uang Asia berada di bawah tekanan karena penguatan dolar AS secara umum dan karena pergerakan saham yang lebih lesu di kawasan regional,” kata Kota Hirayama, ekonom senior pasar berkembang di SMBC Nikko Securities, Tokyo.

“Sentimen terhadap mata uang Asia tidak selalu buruk, tetapi pasar kurang memiliki insentif untuk bangkit kembali dalam waktu dekat,” lanjutnya, sebagaimana dikutip Bloomberg.

Ekspor China secara tak terduga meningkat pada Januari 2019 setelah penurunan mengejutkan pada bulan sebelumnya, sedangkan impor turun jauh lebih rendah dari yang diperkirakan.

Berdasarkan data Administrasi Bea Cukai China, ekspor Januari naik 9,1% dari tahun sebelumnya. Ekonom yang disurvei oleh Reuters memperkirakan penurunan 3,2% menyusul kontraksi 4,4% pada Desember 2018.

Adapun impor turun 1,5% dibandingkan bulan yang sama tahun sebelumnya, jauh lebih baik dari proyeksi analis yang memperkirakan penurunan 10%. Angka ekspor impor tersebut membuat China mencatat surplus neraca perdagangan sebesar US$39,16 miliar untuk Januari, lebih tinggi dari perkiraan sebesar US$33,5 miliar.

Kendati demikian, sejumlah analis mengatakan hal tersebut kemungkinan karena faktor musiman dan mereka memperkirakan pelemahan perdagangan ke depannya.

“Ekspor China meningkat lebih dari yang diharapkan, tetapi ini lebih karena rebound setelah penurunan besar pada Desember,” lanjut Hirayama.

Menurut Leo Putera Rinaldy, ekonom Mandiri Sekuritas, Bank Indonesia (BI) mungkin masih perlu menaikkan tingkat suku bunga sebesar 25 basis poin tahun ini karena bertahannya risiko eksternal dan defisit transaksi berjalan yang terus-menerus tinggi.

“Defisit transaksi berjalan diperkirakan akan menyempit menjadi 2,8% dari PDB pada 2019 setelah mencapai 2,98% tahun lalu, tetapi masih di atas level 2,5% yang dipandang dapat diterima,” paparnya, sebagaimana dilansir Bloomberg.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Gonjang Ganjing Rupiah

Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top