BI: Pelemahan Rupiah Bukan Karena Defisit Transaksi Berjalan

Bank Indonesia menegaskan pelemahan rupiah bukan dipicu oleh faktor internal, yakni defisit transaksi berjalan yang melebar.
Hadijah Alaydrus | 12 Februari 2019 13:07 WIB
Karyawan menata uang untuk pengisian ATM, di Cash Center PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI), Jakarta, Kamis (20/12/2018). - Bisnis/Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA-- Bank Indonesia menegaskan pelemahan rupiah bukan dipicu oleh faktor internal, yakni defisit transaksi berjalan yang melebar.

Defisit transaksi berjalan pada kuartal IV/2018 mencapai US$9,1 miliar atau melebar hingga 3,57% terhadap PDB.

Sementara itu, defisit transaksi berjalan tahunannya mencapai 2,98% terhadap PDB atau US$31,1 miliar.

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter Bank Indonesia (BI) Nanang Hendarsah menuturkan rupiah yang melemah disebabkan oleh penguatan dolar AS.

Mata uang negeri Paman Sam ini menguat dalam skala global, baik terhadap mata uang utama maupun mata uang negara berkembang.

"Penguatan dolar dipicu meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap keberlangsungan negosiasi sengketa dagang antara AS dengan China serta kegiatan ekonomi di Eropa dan global yang terus merosot," papar Nanang, Selasa (12/2).

Meskipun saat ini pembicaraan dagang (trade talk) antara petinggi AS dan China masih berlangsung, namun sikap 'plin-plan' AS yang terus menekan Huawei membuat pelaku pasar skeptis terkait dengan kesepakatan kedua negara untuk mengakhiri perang dagang.

Euro melemah ke level terendah tahun ini dipengaruhi oleh kekhawatiran pertumbuhan ekonomi regional dan stabilitas politik, sementara poundsterling melemah karena data PDB UK pada kuartal IV/2018 menunjukkan level terendah sejak 2012 dan diperparah oleh ketidakpastian Brexit.

Pergerakan Rupiah, Selasa (12/2), bergerak melemah 0,34% ke level Rp14.081,50 per dolar AS pada penutupan pasar siang ini, pukul 12.00 WIB.

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top