Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Shutdown Pemerintah AS Masuki Hari ke-34, Dolar Melempem

Dolar Amerika Serikat (AS) melanjutkan pelemahannya terhadap sejumlah mata uang utama pada perdagangan pagi ini, Kamis (24/1/2019), di tengah kekhawatiran seputar pertumbuhan global, government shutdown, dan diskusi perdagangan AS-China.
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 24 Januari 2019  |  11:33 WIB
Karyawan menghitung mata uang rupiah dan dolar AS di Jakarta, Senin (1/7/2019). - Bisnis/Abdullah Azzam
Karyawan menghitung mata uang rupiah dan dolar AS di Jakarta, Senin (1/7/2019). - Bisnis/Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA – Dolar Amerika Serikat (AS) melanjutkan pelemahannya terhadap sejumlah mata uang utama pada perdagangan pagi ini, Kamis (24/1/2019), di tengah kekhawatiran seputar pertumbuhan global, government shutdown, dan diskusi perdagangan AS-China.

Berdasarkan data Bloomberg, indeks dolar AS, yang mengukur kekuatan dolar AS terhadap sejumlah mata uang dunia turun 0,05% atau 0,051 poin ke level 96,072 pada pukul 10.29 WIB.

Indeks dolar kembali bergerak di zona merah setelah dibuka turun 0,054 poin atau 0,06% di level 96,069. Pada perdagangan Rabu (23/1) indeks dolar berakhir melemah 0,19% atau 0,180 poin di posisi 96,123.

Dilansir dari Reuters, penutupan sebagian layanan pemerintah di AS (partial government shutdown), yang kini memasuki hari ke-34 telah membebani sentimen investor.

Pemimpin Mayoritas Senat dari kubu Republik A. Mitch McConnell mengatakan berencana untuk mengadakan voting pada hari ini waktu setempat mengenai proposal yang diajukan pihak Demokrat untuk mendanai pemerintahan selama tiga pekan.

Kekhawatiran atas pertumbuhan global juga menghambat minat investor terhadap aset berisiko. Pada Senin (21/1), Dana Moneter Internasional (IMF) memangkas proyeksi pertumbuhan global tahun 2019 dan 2020.

Penurunan tersebut didasarkan pada perlambatan yang lebih besar dari perkiraan di China dan zona Euro. Kegagalan untuk menyelesaikan ketegangan atas konflik perdagangan juga dinilai dapat semakin mengganggu kestabilan ekonomi global.

“Tensi perdagangan adalah faktor yang paling dominan untuk sentimen investor saat ini dan akan mendorong aliran pasar,” kata Nick Twidale, chief operating officer di Rakuten Securities.

Shutdown di AS telah berlangsung terlalu lama dan pasar akan senang jika melihatnya berakhir,” tambahnya.

Secara umum, pasar tampak bearish terhadap prospek dolar AS tahun ini. Para pedagang bertaruh bahwa bank sentral AS Federal Reserve mempertahankan sikap terkait suku bunga tahun ini dalam menghadapi risiko pertumbuhan baik di dalam negeri maupun global.

Perhatian pasar saat ini akan tertuju pada kinerja mata uang euro saat investor menantikan pengumuman kebijakan moneter Bank Sentral Eropa (ECB) pada hari ini waktu setempat. ECB diperkirakan akan mempertahankan kebijakan moneternya.

Euro telah turun sekitar 1,6% dari nilainya selama dua pekan terakhir karena para pedagang memperkirakan ECB akan tetap dovish dan menjaga kebijakan moneter yang akomodatif untuk periode waktu yang lama.

Inflasi yang rendah serta aktivitas ekonomi yang lebih lesu dari perkiraan di Jerman dan Prancis, bagaimanapun, dapat menyebabkan Gubernur ECB Mario Draghi mengarah pada perlambatan yang berpotensi bertahan lebih lama.

“Jika bank sentral tersebut [ECB] menurunkan perkiraan pertumbuhan atau inflasi dan Draghi fokus pada pertumbuhan yang lebih lemah, kita bisa melihat nilai tukar euro terhadap dolar AS turun ke level US$1,12 dengan mudah,” ujar Kathy Lien, direktur pelaksana strategi mata uang di BK Asset Management.

Nilai tukar euro pagi ini terpantau  naik tipis 0,06% ke US$1,1388 pada pukul 10.39 WIB, setelah berakhir menguat 0,18% di US$1,1381 pada perdagangan Rabu (23/1).

Posisi indeks dolar AS                                                        

24/1/2019

(Pk. 10.29 WIB)

96,072

(-0,05%)

23/1/201996,123

(-0,19%)

22/1/201996,303

(-0,03%)

21/1/2019

 

96,336

(0%)

18/1/201996,336

(+0,28%)

Sumber: Bloomberg

 

 

 


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

dolar as
Editor : Mia Chitra Dinisari

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top