Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Penurunan Proyeksi Ekonomi Global Tekan Harga Minyak

Minyak mentah West Texas Intermediate untuk kontarak Februari, yang berakhir Selasa, turun 2,3% atau US$1,23 ke level US$52,27 di New York Mercantile Exchange, penurunan terbesar sejak 27 Desember.
Aprianto Cahyo Nugroho
Aprianto Cahyo Nugroho - Bisnis.com 23 Januari 2019  |  06:55 WIB
Harga Minyak WTI - Reuters
Harga Minyak WTI - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA – Harga minyak mentah merosot paling tajam dalam hampir satu bulan terakhir pada Selasa (22/1/2019) menyusul penurunan proyeksi pertumbuhan ekonomi dari IMF.

Minyak mentah West Texas Intermediate untuk kontarak Februari, yang berakhir Selasa, turun 2,3% atau US$1,23 ke level US$52,27 di New York Mercantile Exchange, penurunan terbesar sejak 27 Desember.

Adapun kontrak Maret yang lebih aktif melemah ke level US$53,01. Tidak ada penyelesaian kontrak pada Senin karena liburan Martin Luther King Jr di AS

Sementara itu, minyak Brent kontrak Maret turun US$1,24 ke level US$61,50 per barel di ICE Futures Europe exchange. Harga patokan global tercatat lebih tinggi US$8,49 dibandingkan WTI untuk bulan yang sama.

Dilansir Bloomberg, minyak mentah mengikuti pelemahan pasar saham menyusul sebuah laporan bahwa AS telah menolak negosiasi baru dalam sengketa perdagangannya dengan Beijing, yang menyusul data perumahan yang mengecewakan dari keputusan Dana Moneter Internasional (IMF) untuk memangkas perkiraan pertumbuhan global.

Minyak memasuki awal terpanas selama setahun sejak 2001, di tengah tanda-tanda bahwa pasokan minyak mentah akan tetap tertahan pembatasan produksi dari Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutunya. Tetapi prospek untuk melemahnya permintaan bahan bakar dan lonjakan minyak shale di AS mengancam reli.

"Ketika saham turun karena laporan-laporan itu, hal tersebut juga turut menyeret minyak. Dengan produksi AS yang melonjak, mungkin ini saatnya untuk melakukan pullback," kata Kyle Cooper, konsultan di Ion Energy Group LLC, seperti dikutip Bloomberg.

Sementara itu, Sekretaris Jenderal OPEC Mohammad Barkindo mengatakan dalam wawancara televisi dari World Economic Forum, Davos, bahwa OPEC dan mitra-mitranya telah memulai "pengurangan tajam" dan pasar "telah mulai merespons secara positif,

Meskipun demikian, Arab Saudi telah mengkritik laju pemotongan output Rusia. Pertemuan pekan ini antara dua produsen terbesar tersebut saat tidak mungkin terjadi, karena Menteri Energi Saudi Khalid Al-Falih dan Menteri Energi Rusia Alexander Novak keduanya membatalkan perjalanan ke WEF.

"Kekhawatiran tentang kelebihan pasokan telah mereda untuk saat ini berkat pengurangan produksi OPEC," kata Kei Kobashi, analis senior di Sumitomo Corporation Global Research Co.

"Sekarang, sisi permintaan dipertanyakan. Orang-orang mencoba mencari tahu berapa banyak permintaan minyak mentah China dan dunia akan jatuh," lanjutnya.

IMF pada hari Senin menurunkan prospek ekonomi global untuk kedua kalinya dalam tiga bulan terakhir. IMF saat ini memprediksi pertumbuhan 3,5% tahun ini, terlemah dalam tiga tahun terakhir dan turun dari 3,7% yang diperkirakan pada Oktober. 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

harga minyak mentah
Editor : Mia Chitra Dinisari
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top