Moody's: Utang Perusahaan Sektor Nonkeuangan Stabil

Moody’s Investors Service memprediksi kondisi utang perusahaan di luar sektor keuangan di Tanah Air akan stabil selama 12 bulan ke depan.
Tegar Arief | 22 November 2018 21:16 WIB
Ilustrasi - www.hennionandwalsh.com

Bisnis.com, JAKARTA - Moody’s Investors Service memprediksi kondisi utang perusahaan di luar sektor keuangan di Tanah Air akan stabil selama 12 bulan ke depan.

Tak hanya itu, Moodys juga kami memperkirakan pertumbuhan laba moderat untuk perusahaan Indonesia yang dinilai, meskipun ada tekanan dari kenaikan suku bunga acuan, depresiasi rupiah terhadap dolar AS, serta risiko politik, sosial dan ekonomi menjelang pemilu.

"Kami memperkirakan pertumbuhan laba moderat sekitar 4% untuk perusahaan Indonesia yang kami nilai," kata Wakil Presiden dan Senior Credit Officer Moody’s Jacintha Poh, Kamis (22/11/2018).

Menurutnya, untuk peningkatan kualitas kredit perusahaan akan dibatasi oleh pengeluaran modal mereka yang dibiayai utang yang tinggi dan fakta bahwa perusahaan-perusahaan ini beroperasi dalam lingkungan peraturan yang berkembang.

Wakil Presiden dan Senior Credit Officer Moody’s Briand Grieser menambahkan, cakupan bunga akan melemah secara umum meskipun masih dalam batas-batas sederhana, karena meningkatnya tingkat utang dan biaya pendanaan.

"Risiko refinancing tetap dapat dikelola pada 2019, tetapi akan meningkat pada 2021-2022, dipimpin oleh emiten dengan kinerja tinggi di sektor pertambangan dan properti," ujarnya.

Kata dia, belanja modal sektor minyak dan gas yang besar akan menjadi kunci. Kinerja di sektor hulu didukung oleh harga minyak mentah yang sehat dan pertumbuhan volume produksi, tetapi kerugian di sektor hilir dari beban subsidi bahan bakar akan terus membebani arus kas operasional secara keseluruhan.

Pada sektor tambang dan jasa penambangan, Moody's memperkirakan laba terkontraksi pada 2019, menyusul asumsi harga batu bara termal senilai US$75 per ton. Di sisi lain, laba akan tetap kuat tangguh karena adanya peningkatan volume produksi dan stabilnya permintaan.

Di sektor properti, Moody's mengatakan bahwa metrik kredit perusahaan pengembang properti akan melemah pada 2018 dan 2019, karena meningkatnya belanja modal yang didanai utang, peningkatan biaya pendanaan, serta depresiasi rupiah.

Untuk sektor minyak sawit, perusahaan dengan kontribusi lebih besar dari penjualan hulu paling rentan terhadap penurunan harga minyak sawit mentah.

Sementara itu, perusahaan di sektor tekstil diperkirakan mencatat pertumbuhan pendapatan selama 12bulan hingga 18 bulan ke depan, yang didorong oleh ekspansi permintaan dan kapasitas yang kuat.

Adapun pada sektor telekomunikasi, diperkirakan akan mencatat tingkat pertumbuhan yang lebih lambat yakni di kisaran 4%-6% pada 2018 dan 2019, karena pertumbuhan pendapatan dari data tidak akan mengimbangi penurunan pendapatan dari layanan suara dan SMS.

Associate Director Fixed Income Anugerah Sekuritas Indonesia Ramdhan Ario Maruto menilai, dari sisi penerbitan surat utang perusahaan nonkeuangan akan sedikit menahan pada tahun depan.

Sebab, ada risiko kenaikan cost of fund yang disebabkan oleh naiknya suku bunga acuan. "Perusahaan sektor di luar keuangan akan menahan ekspansi, sehingga pencarian dana juga akan lebih berkurang," kata dia.

Berbeda dengan Moody's, Ramdhan menilai salah satu penyebab berkurangnya ekspansi dan penghimpunan dana perusahaan adalah karena faktor politik. Pelaku usaha, kata dia, menunggu kepastian mengenai hasil dari pemilu.

"Karena ekspansi minim atau mereka efisiensi sehingga laba diproyeksikan naik. Kalau mereka menerbitkan obligasi di tengah cost of fund yang tinggi maka butuh kerja keras untuk menaikkan laba."

Senior Analyst CSA Research Institute Reza Priyambada menilai, pelemahan nilai tukar rupiah dan kenaikan suku bunga acuan memang bukan menjadi faktor utama dari kenaikan beban utang korporasi.

Dengan catatan, perusahaan tersebut tidak menambah utang baru dan rate dari utang lama tidak berubah sejalan dengan kenaikan suku bunga. "Artinya kalau flat ya akan tetap seperti itu rate sampai jatuh tempo," ujarnya.

Dia menambahkan, dampak dari pelemahan nilai tukar rupiah akan dirasakan oleh sektor manufaktur dan industri di mana ada biaya bahan baku yang dibebankan dalam bentuk valas. Adapun, sektor keuangan akan terimbas jika ada transaksi swap valas.

"Tapi ini biasanya sudah diantisipasi dengan adanya posisi long untuk kontrak jangka waktu tertentu," tegasnya.
 

Tag : Obligasi, surat utang, moodys
Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top