PASAR OBLIGASI: November, Arus Masuk Investasi Asing Mulai Deras

Sepanjang November, yield surat utang negara-negara di Asean rata-rata mengalami penurunan, dengan penurunan paling tajam terjadi di Indonesia dan Filipina.
Emanuel B. Caesario | 19 November 2018 06:10 WIB
SURAT UTANG NEGARA

Bisnis.com, JAKARTA—Sepanjang November, yield surat utang negara-negara di Asean rata-rata mengalami penurunan, dengan penurunan paling tajam terjadi di Indonesia dan Filipina.

Berdasarkan data Asian Bonds Online, Indonesia dan Filipina memang menjadi dua negara dengan tingkat penurunan yield paling besar sepanjang November hingga Kamis (15/11).

Penurunan yield surat utang 10 tahun Fillipina adalah yang tertinggi, mencapai 60,2 bps ke level 7,41%, sedangkan Indonesia di posisi kedua dengan penurunan 42,5 bps ke posisi 8,12%.

Selanjutnya, Singapura hanya turun 5,97 bps, Thailand turun 4,6 bps, dan Viet Nam tidak berubah. Malaysia justru meningkat 4,7 bps. Sementara itu, Asia Timur, yakni RRC turun 12,4 bps, Hong Kong turun 8,9 bps, Jepang turun 1,8 bps, dan Korea Selatan turun 1,5 bps.

Penurunan yang tajam pada yield kedua negara sebanding dengan tingkat kenaikkannya sepanjang tahun ini. Filipina masih tercatat sebagai negara dengan kenaikan yield tertinggi sepanjang tahun ini, yakni mencapai 223,9 bps, sedangkan Indonesia naik 179,9 bps.

Desmon Silitonga, Riset Analis Capital Asset Management, mengatakan bahwa penguatan yang terjadi pasar obligasi dalam negeri didukung oleh membaiknya kepercayaan investor asing terhadap surat utang Indonesia.

Hal ini didukung oleh neraca keseimbangan primer yang tercatat surplus pada Agustus 2018 sebesar Rp11,5 triliun dan hanya defisit Rp2,4 triliun hingga September 2018. Ini cukup baik jika dibandingkan dengan September 2017 yang mana keseimbangan primer defisit Rp99,2 triliun.

Hal ini menandakan pengelolaan fiskal pemerintah Indonesia sangat baik. Alhasil, investor asing tercatat melakukan beli bersih surat berharga negara (SBN) Indonesia senilai Rp13,47 triliun sepanjang Oktober 2018 dan Rp16,7 triliun sepanjang November 2018.

Di sisi lain, Desmon menilai spread atau selisih antara imbal hasil surat utang Indonesia dengan US Treasury sudah melebar melebihi 500 bps. Spread ini bahkan sudah melebihi spread India yang sebelumnya justru lebih tinggi dibandingkan dengan Indonesia.

“Dari situ kita bisa ambil kesimpulan bahwa memang harga bond kita sudah terlalu rendah, tidak sesuai dengan fundamental kita,” katanya pekan lalu.

Desmon mengatakan, dibandingkan dengan negara lain, masalah Indonesia memang adalah pada tingginya angka CAD serta kurs yang tidak stabil. Namun, dari segi prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia jauh lebih menjanjikan.

Menurutnya, tren penguatan rupiah sepanjang November ini menjadi katalis yang mendukung pemulihan pasar obligasi sepanjang bulan ini. Namun, sejauh ini sentimen eksternal belum sepenuhnya kondusif sehingga cukup sulit untuk berharap penguatan akan bertahan cukup lama.

“Kalau Fed Fund Rate naik, yield US Treasury akan naik lagi sehingga saya pikir spread 500 bps saat ini sudah merupakan keseimbangan baru untuk Indonesia yang diminta oleh investor. Tadinya, spread wajar kita di 390 hingga 400 bps,” katanya.

Ramdhan Ario Maruto, Associate Director Fixed Income Anugerah Sekuritas Indonesia, mengatakan bahwa pasar obligasi cenderung bullish sepanjang November karena menguatnya rupiah. Hal ini didukung oleh beberapa regulasi pemerintah yang mendukung pasar, seperti adanya fasilitas DNDF.

Kembali tingginya arus masuk asing pada Oktober dan November setelah sebelumnya cenderung selalu keluar dari pasar SBN hanya membuktikan bahwa daya tarik Indonesia sangat tinggi. Pasar hanya berusaha mencari momentum yang tepat untuk masuk.

“Kalau rupiah melemah lagi, pasar akan ikut melemah lagi. Kecenderungan investor untuk wait and see saat ini sangat besar. Kalau asing keluar lagi, lokalnya akan cenderung menunggu sampai ada pemicu baru,” katanya.

Maximilianus Nico Demus, Direktur Riset dan Investasi Kiwoom Sekuritas Indonesia, mengatakan bahwa kendati ada penguatan yield sepanjang November, tetapi keputusan Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan pekan lalu secara alami akan mendorong  yield kembali meningkat.

Menurutnya, spread wajar antara yield surat utang negara (SUN) 10 tahun dengan BI 7-DRR sepanjang tahun ini adalah rata-rata 246 bps. Artinya, dengan BI 7-DRR yang kini di level 6,00%, yield SUN 10 tahun sewajarkan akan bergerak ke level 8,46%.

Sejauh ini, respons atas kenaikan BI 7-DRR oleh pasar masih relatif positif, tetapi investor harus tetap memperhatikan sejumlah sentimen global yang masih bergulir. Fokus investor selanjutnya adalah adanya kemungkinan The Fed tidak menaikkan suku bunganya pada akhir tahun ini seperti yang diantisipasi pasar.

Hal tersebut diisyaratkan Gubernur The Fed Powell dalam satu acara The Fed di Dallas. Meskipun demikian, sejauh ini probabilitas kenaikan The Fed pada akhir tahun ini masih berkisar 72,3%.

 

Tag : Obligasi, Obligasi Pemerintah
Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top