Saham GIAA Melorot 4,2%, Ini Kata Analis

Saham PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. (GIAA) terjungkal ke zona merah, menyusul pernyataan pihak manajemen maskapai penerbangan Sriwijaya Air Group terkait kerja sama dengan Garuda Indonesia Group.
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 16 November 2018  |  12:42 WIB
Saham GIAA Melorot 4,2%, Ini Kata Analis
Karyawan beraktivitas di dekat papan elektronik yang menampilkan pergerakan IHSG di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (27/11). - JIBI/Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA – Saham PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. (GIAA) terjungkal ke zona merah, menyusul pernyataan pihak manajemen maskapai penerbangan Sriwijaya Air Group terkait kerja sama dengan Garuda Indonesia Group.

Berdasarkan data Bloomberg, saham GIAA melorot 4,20% atau 10 poin ke level Rp228 per saham pada akhir sesi I perdagangan hari ini, Jumat (16/11/2018). GIAA berbalik ke zona negatif setelah sempat dibuka naik 1,68% atau 4 poin ke level Rp242 per saham pada awal perdagangan hari ini.

Sementara itu, saham GIAA telah melonjak 19% atau 38 poin ke level Rp238 per saham pada perdagangan Kamis (15/11/2018). Lonjakan saham GIAA kemarin terdorong bergulirnya skema kerja sama operasional (KSO) dan peluang akuisisi Sriwijaya Air.

Analis Pilarmas Investindo Sekuritas Okie Ardiastama melihat tergelincirnya saham GIAA siang ini sebagai hal yang wajar, mengingat kenaikan yang cukup signifikan kemarin. Saham GIAA bahkan diperkirakan masih akan cukup menarik ke depannya.

Hal ini dikarenakan potensi industri penerbangan yang dipandang cukup menarik, apalagi dengan dukungan pemerintah terhadap industri pariwisata ke depannya termasuk dalam hal regulasi.

“Untuk dalam jangka waktu pendek kami rasa GIAA masih cukup menarik. Selama perusahaan mampu menjaga margin operasionalnya dan memperbaiki kinerjanya untuk dapat tumbuh lebih baik ke depannya,” tutur Okie saat dihubungi Bisnis.com.

Menurutnya, ekspektasi pasar terkait dorongan sentimen positif dari pengambilalihan pengelolaan operasional Sriwijaya Air dan NAM Air terhadap kinerja GIAA dirasa cukup berlebihan.

Ia sendiri berpendapat peluang akusisi akan terbuka jika aksi tersebut dinilai memberikan dampak yang cukup signifikan bagi kinerja perusahaan.

“Jika kontrak kerja sama operasional ini dapat berjalan dengan baik sehingga menguntungkan kedua belah pihak, ada peluang akusisi tersebut terbuka. Saat ini kita tunggu kelanjutan dari aksi korporasi tersebut hingga ada kejelasan dari manajemen,” pungkasnya.

Sebelumnya, Direktur Utama Garuda Indonesia I Gusti Ngurah Askhara Danadiputra  menyatakan Garuda Indonesia Group melalui anak perusahaannya Citilink Indonesia, mengambil alih pengelolaan operasional Sriwijaya Air dan NAM Air.

"Nantinya, keseluruhan operasional Sriwijaya Group termasuk finansial akan berada di bawah pengelolaan dari KSO tersebut," katanya dalam keterangan resmi, Rabu (14/11).

Dengan ini, tidak tertutup kemungkinan bagi GIAA untuk mengakuisisi PT Sriwijaya Air lantaran Sriwijaya memiliki sejumlah kewajiban kepada Garuda Indonesia.

Menanggapi wacana tersebut, Direktur Komersial Sriwijaya Air Grup Toto Nursatyo menegaskan bahwa dalam KSO lebih mengarah kepada kerja sama yang di dalamnya berkaitan dengan marketing, teknik dan financing.

Dengan skema KSO, tuturnya, sampai saat ini tidak ada kaitannya dengan aksi korporasi pengambilalihan saham.

"[Sebanyak] 100% saham masih dimiliki oleh Sriwijaya. Kalau akuisisi kan beli saham. Jadi ini bukan aksi korporasi," terang Toto.

Dikatakan olehnya, KSO merupakan hal yang biasa termasuk di industri penerbangan sehingga bisa membantu masing-masing maskapai di tengah situasi seperti saat ini. Ia juga menegaskan tidak ada opsi yang berkaitan dengan saham di dalam isi KSO tersebut.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
saham, garuda indonesia

Editor : Ana Noviani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top
Tutup