Fasilitas Kemudahan IPO : Sektor Tambang Minerba Diprioritaskan

Bursa Efek Indonesia akan memprioritaskan pelonggaran peraturan pencatatan perdana saham-saham perusahaan di sektor tambang mineral dan batu bara yang masih di tahap eksplorasi pada semester pertama 2019.
Emanuel B. Caesario | 05 November 2018 18:13 WIB
Seorang pria melintasi layar elektronik pergerakan harga saham di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (19/10/2018). - ANTARA/Akbar Nugroho Gumay

Bisnis.com, JAKARTA — Bursa Efek Indonesia akan memprioritaskan pelonggaran peraturan pencatatan perdana saham-saham perusahaan di sektor tambang mineral dan batu bara yang masih di tahap eksplorasi pada semester pertama 2019.

IGD Nyoman Yetna Setya, Direktur Penilaian Perusahaan Bursa Efek Indonesia, mengatakan bahwa selama ini peraturan pencatatan saham perdana hanya membolehkan perusahaan yang sudah melakukan tahap eksplorasi saja yang berhak IPO.

Padahal, perusahaan-perusahaan yang masih belia, usaha rintisan, serta perusahaan-perusahaan tambang yang masih melakukan eksplorasi juga membutuhkan pendanaan dan akses pasar modal.

Di sisi lain, bursa juga membutuhkan lebih banyak perusahaan baru untuk melantai dan memperbesar kapasitas pasar modal dalam negeri.

BEI kini fokus pada pelonggaran kebijakan pencatatan saham pada perusahaan-perusahaan baru di sektor tambang mineral dan batubara (minerba), minyak dan gas bumi (migas), perkebunan (plantation), dan energi baru terbarukan serta konservasi energi (EBTKE).

Nyoman mengatakan, saat ini BEI sudah melakukan focus group discussion (FGD) kepada pelaku usaha di keempat sektor tersebut. Kini, BEI sedang dalam tahap penyusunan draft perubahan aturan yang ditargetkan dapat rampung akhir tahun ini. Aturan yang dimaksud yakni turunan peraturan BEI I-A.

“Keempatnya akan kita jalankan tahun depan, tetapi tentu ada prioritasnya. Tambang dulu yang batu bara dan mineral, kemudian berdekatan dengan itu migas. Kemudian baru plantation dan EBTKE,” katanya, Senin (5/11/2018).

BEI menargetkan pada semester pertama 2019 peraturan baru sudah dapat berjalan dengan efektif. Peraturan IPO ini akan dikombinasikan dengan yang selama ini diterapkan pada perusahaan-perusahaan startup di IDX Incubator.

Perusahaan-perusahaan tersebut akan dicatatkan di papan baru, yakni papan akselerasi.

Nantinya, perusahaan tambang mineral dan batu bara serta migas yang masih di tahap eksplorasi sudah boleh IPO. BEI mendekati secara khusus baik sektor tambang minerba maupun migas sebab keduanya memiliki karakter berbeda.

Di sektor perkebunan, tantangan bagi perusahaan baru adalah belum adanya aliran pendapatan pada tahun-tahun awal sebab tanaman perkebunan belum menghasilkan hasil panen. Fase pertumbuhan tanaman ini bahkan bisa mencapai 6 – 8 tahun.

BEI sudah berkoordinasi dengan pelaku usaha dan pemangku kepentingan terkait dengan untuk melakukan analisis risiko dan menentukan saat yang cocok bagi suatu perusahaan baru di sektor perkebunan untuk bisa mulai menggalang dana di pasar modal.

Namun, menurutnya masih ada banyak hal yang mesti didiskusikan kembali di sektor ini serta sektor EBTKE, sehingga masih butuh waktu lebih panjang bagi penentuan kebijakan pencatatan perdana saham di kedua sektor ini.

“Pada prinsipnya mereka sangat antusias. Mereka merasa bahwa ini adalah kesempatan yang menarik karena di beberapa sektor seperti EBTKE itu banyak yang melirik dari sisi pendanaannya. Itu menjadi harapan baru bagi mereka dan kita di bursa mudah-mudahan bisa menjalankan rule-nya,” katanya.

Pantau terus perkembangan Real Count KPU Pilpres 2019, di sini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
bei, pertambangan

Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top
Tutup