Ini Resep untuk Milenial yang Ingin Investasi Saham

Kalangan milenial memiliki tantangan yang cukup berat di masa depan. Gaya hidup yang bisa dibilang konsumtif mengancam kelayakan hidup kaum ini pada 10 atau 15 tahun mendatang.
Tegar Arief | 31 Oktober 2018 00:18 WIB
Petugas menjelaskan tata cara berinvestasi kepada calon investor di gedung Jakarta Investment Center (JIC), Jakarta, Kamis (2/8/2018). - JIBI/Felix Jody Kinarwan

Bisnis.com, JAKARTA - Kalangan milenial memiliki tantangan yang cukup berat di masa depan. Gaya hidup yang bisa dibilang konsumtif mengancam kelayakan hidup generasi Y pada 10 atau 15 tahun mendatang.

Salah satu upaya untuk menjaga kelayakan di masa depan adalah dengan berinvestasi. Ada berbagai instrumen investasi yang cocok untuk kalangan milenial. Salah satunya saham.

Namun menurut Senior Vice President Intermediary Business PT Schroders Investment Management Indonesia Adrian Maulana ada tiga syarat bagi milenial jika ingin investasi di saham secara langsung.

Pertama, harus mempelajari fundamental perusahaan tercatat. Ini berkaitan dengan kemampuan milenial membaca serta menganalisa laporan keuangan emiten. Kedua, kemampuan untuk menganalisa kelayakan emiten untuk dibeli.

Ketiga, memiliki waktu yang leluasa untuk memantau dan memutuskan momentum tepat untuk membeli atau menjual saham tertentu. "Kalau satu syarat saja tidak terpenuhi, lebih baik jangan investasi di saham langsung," kata Adrian, Selasa (30/10/2018).

Dia menyarankan kepada para milenial untuk investasi di saham melalui reksa dana. Namun pembelian dilakukan secara reguler. Adapun porsi investasi yang disarankan adalah 12%-15% dari gaji setiap bulannya.

"Ada kekhawatiran mereka tidak sanggup mengatasi gejolak di kemudian hari karena saham sangat fluktuatif. Salah satu caranya dia harus membeli dengan rutin melalui reksa dana," jelasnya.

Dia mengingatkan, kaum milenial tidak hanya harus berinvestasi namun juga menciptakan portofolio investasi. Artinya dana ditanamkan dalam sejumlah produk investasi, baik reksa dana saham, pasar uang, atau surat utang.

Tujuannya adalah agar jika terjadi tekanan pada set dasar tertentu investor masih berpotensi mendapatkan cuan dari produk dengan underlying asset lainnya.

Tag : investasi, reksa dana
Editor : Ana Noviani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top