Pasar Saham Global Terus Tertekan, Ini Pemicunya

Kombinasi dari melambatnya pencapaian kinerja korporasi Amerika Serikat, tensi dagang antara Negeri Paman Sam dan China, serta kondisi geopolitik di Eropa telah menekan pasar keuangan global dalam pekan ini.
Dwi Nicken Tari
Dwi Nicken Tari - Bisnis.com 25 Oktober 2018  |  13:15 WIB
Pasar Saham Global Terus Tertekan, Ini Pemicunya
Ilustrasi - Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA- Kombinasi dari melambatnya pencapaian kinerja korporasi Amerika Serikat, tensi dagang antara Negeri Paman Sam dan China, serta kondisi geopolitik di Eropa telah menekan pasar keuangan global dalam pekan ini.

Pada Selasa (23/10) aksi jual sempat membuat indeks S&P 500 tertekan dan bergerak ke bawah pergerakan rata-rata 200 hari (MA 200). 

Adapun, pada penutupan perdagangan Rabu (24/10), indeks S&P 500 kembali melemah 3,09%.

Selain itu, bursa acuan pasar saham Asia, indeks MSCI Asia Pasifik, turut bergerak mencapai pasar bearish. Indeks MSCI Asia Pasifik terpantau turun 2,1% pada pukul 9.34 di Hong Kong.

“Lemahnya data perumahan AS, beragamnya hasil pendapatan korporasi,  dan kekhawatiran perang dagang serta perlambatan ekonomi, semuanya berkonribusi dalam aksi jual,” tulis Rivkin Securities yang berbasis di Sydney lewat catatan, seperti dikutip Reuters, Kamis (25/10/2018).

Adapun tingkat pertumbuhan pendapatan korporasi di AS yang terpantau melambat pada kuartal III/2018, setelah sempat menguat pada awal tahun ini, menunjukkan bahwa tensi dagang antara AS dan China mulai berdampak terhadap perusahaan di Negeri Paman Sam, mulai dari Caterpillar Inc. hingga Ford Motor Co.

Berdasarkan data lembaga riset Refinitiv, pendapatan perusahaan yang tergabung dalam indeks S&P 500 pada kuartal III/2018 berada di level 22,1%. Level tersebut memang masih tinggi, tetapi telah turun dari puncaknya pada kuartal pertama tahun ini di level 26,6%. Adapun, laju pertumbuhan itu diperkirakan dapat terus melemah, dengan kenaikan menjadi hanya 9% pada kuartal II/2019 karena perusahaan bakal menghadapi perbandingan yang lebih berat.

Pasalnya, pada 2018 perusahaan masih diuntungkan dari program pemangkasan pajak oleh Pemerintah AS. Sementara itu, pada tahun depan diperkirakan keuntungan dari program fiskal itu akan memudar ditambah dengan meningkatnya biaya operasional perusahaan yang disebabkan oleh pengenaan tarif impor.

Strategis Investasi di Edward Jones Kate Warne menilai pelemahan outlook laba dari korporasi-korporasi besar tersebut pun dapat menambah laju aksi jual di pasar keuangan.

“Hari ini, banyak yang kehilangan pendapatan besar, dan menurut saya, hal itu bisa membuat investor khawatir mengenai kelanjutan solidnya pertumbuhan pendapatan, khususnya saat perusahaan tidak mencapai ekspektasi dan mulai mengatakan masa depan terlihat tidak terlalu bagus,” ujarnya, seperti dikutip Bloomberg.

Selain itu, kekhawatiran untuk prospek pendapatan korporasi di AS juga berasal dari penguatan dolar dan rencana kenaikan suku bunga acuan. Pasalnya, kenaikan suku bunga The Fed membuat obligasi lebih menarik ketimbang saham.

Kombinasi dari kekhawatiran tersebut pun berhasil mengikis sentimen investor yang menyebabkan aksi jual yang tajam untuk aset global.

“[Dampak] tensi dagang mulai berdatangan dan berdampak pada fundamental pasar,” kata Tally leger, Equity Strategist di OppenheimerFunds, seperti dikutip Reuters.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Bursa Asia, bursa as

Editor : Gita Arwana Cakti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top