BKDI Bidik Pertumbuhan Volume Transaksi PBK 5%

Bursa Derivatif dan Komoditi Indonesia (BKDI) menargetkan pertumbuhan volume transaksi kontrak perdagangan berjangka komoditas (PBK) sebesar 5% pada 2019 setelah meluncurkan kotrak baru komoditas multilateral GOFX awal Oktober ini.
Mutiara Nabila
Mutiara Nabila - Bisnis.com 21 Oktober 2018  |  19:46 WIB
BKDI Bidik Pertumbuhan Volume Transaksi PBK 5%
Chief Executive Officer BKDI Lamon Rutten. - Mutiara Nabila

Bisnis.com, JAKARTA – Bursa Derivatif dan Komoditi Indonesia (BKDI) menargetkan pertumbuhan volume transaksi kontrak perdagangan berjangka komoditas (PBK) sebesar 5% pada 2019 setelah meluncurkan kotrak baru komoditas multilateral GOFX awal Oktober ini.

Chief Executive Officer BKDI Lamon Rutten mengatakan bahwa GOFX (Gold, Oil, Forex) akan menjadi kontrak andalan tahun depan untuk menumbuhkan volume transaksi PBK terutama dari sisi kontrak multilateral pada 2019.

“Emas penting sekali untuk investasi, minyak bumi juga penting untuk investasi. Forex juga, tapi kendalanya pasar forex yang digunakan di Indonesia sekarang kebanyakan masih pasar illegal. Kalau saya lihat buka Youtube pagi-pagi 80% iklan datang dari pialang ilegal yang berbahasa Indonesia,” kata Lamon di Jakarta.

Hal itu dinilai Lamon menjadi masalah besar bagi perdagangan berjangka di Indonesia. Laon melanjutkan, saat ini sudah banyak orang yang punya uang untuk berinvestasi, tapi orang itu tidak tahu banyak tentang kontrak, mereka akan melihat iklan pialang illegal itu dan masuk ke dalamnya, lalu  kemudian rugi.

BKDI berharap bisa mengedukasi semua orang yang masih mengalami hal itu dan memberitahukan bahwa pasar di bursa itu tidak buruk, bahwa di bursa orang akan lebih aman berinvestasi di pasar yang diregulasi.

“GOFX menjadi produk pertama, setelah itu akan ada produk lain. Sekarang untuk kontrak emas bisa melihat di website BKDI. Di bursa harga yang terjadi untuk jual dan beli bedanya hanya 0,002% sangat efisien,” lanjut Lamon.

Pada tahun ini, volume transaksi kontrak multilateral di BKDI merosot dengan volume transaksi sepanjang Januari hingga September 2018 turun 33,07% menjadi 123.133 lot dari periode yang sama tahun sebelumnya sejumlah 183.951 lot.

Adapun, kontrak sistem perdagangan alternative (SPA) tumbuh 14,24% menjadi 1,34 lot dari tahun sebelumnya hanya mencapai 1,18 juta lot. Dengan angka tersebut, total pertumbuhan volume transaksi di BKDI teracatat bertumbuh 7,86% menjadi 1,47 juta lot dari sebelumnya 1,36 juta lot.

“Tahun depan yang jadi andalan utama ya GOFX itu, sebenarnya inginnya jadi andalan tahun ini, tapi masih ada kendala, jadi kita geser jadi tahun depan. Kalau ini lancar nanti yang jadi andalan lainnya akan ada kripto dan timah futures,” ujar Anang Wicaksono, Manager Learning Center BKDI.

Untuk target pertumbuhan volume transaksi tahun depan, Anang mengatakan belum bisa memastikan. Memenuhi target dari Badan Pengawas Perdagangan Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) menjadi target utama.

“Dengan adanya kontrak baru itu, target minimum kita jadi 5% tahun depan dan kalau bisa transaksi SPA di Bappebti kami konversi ke kontrak multilateral. Harapannya sih, pertumbuhannya bisa lebih besar dari itu,” lanjutnya.

Selain itu, dari pihak BKDI juga akan menggencarkan edukasi dan pemberian insentif seperti cross margin untuk membantu mendorong volume transaksi.

“Intinya yang penting optimistis dulu, semuanya diurai, kendalanya apa. Misalnya ketersediaan produknya kurang, kita banyakin produknya,” kata Anang.

Sampai hari ini, BKDI sudah melakukan edukasi melalui akun Twittermya dengan menerbitkan ‘kultwit’ atau kuliah Twitter setiap Rabu. Dalam kultwit tersebut, BKDI memberi edukasi seperti perkenalan istilah-istilah dalam perdagangan berjangka kepada khalayak.

Selain itu edukasi yang berupa seminar seperti yang dilakukan bersama Bappebti diharapkan selanjutnya ada proses sertifikasi.

“Kami inginnnya nanti semua orang punya kesetaraan informasi. Dengan kesamaan informasi diharapkan bisa memicu proses petumbuhan industri yang lebih adil dan kepercayaan bisa meningkat,” ungkap Anang.

Upaya lainnya, dengan memunculkan kontrak baru, memperbaiki regulasi dan kompetensinya seperti kurikulum di Bappebti. Kemudian kami juga mengusung perubahan mekanisme pembekalan ke pialang dari 3 tahun sekali jadi 1 tahun sekali.

“Untuk kontrak lainnya seperti timah futures dan kripto kita masih terkendala regulasi dan otoritas ya, tapi mau tidak mau pasti akan jalan karena kebutuhan. Seperti di timah futures ini pelaku pasar timah fisik kan ingin memitigasi risiko. Makanya harus ada pasar berjangkanya jadi itu mestinya bisa tumbuh.”

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
bursa berjangka, icdx

Editor : Pamuji Tri Nastiti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top