Harga Batu Bara Terus Naik Meski Minyak Melorot

Harga batu bara terus menguat pada akhir perdagangan Kamis (18/10/2018).
Renat Sofie Andriani | 19 Oktober 2018 07:57 WIB

Bisnis.com, JAKARTA – Harga batu bara terus menguat pada akhir perdagangan Kamis (18/10/2018). 

Berdasarkan data Bloomberg, harga batu bara di bursa ICE Newcastle untuk kontrak Januari 2019 berakhir menguat 1,91% atau 2,10 poin di level US$111,95 per metrik ton, kenaikan pada sesi ketiga berturut-turut.

Adapun harga batu bara ICE Newcastle untuk kontrak teraktif Desember 2018 berakhir menguat 2,20% atau 2,40 poin di US$111,65 per metrik ton, setelah ditutup dengan kenaikan 0,83% atau 0,90 poin di level 109,25 pada Rabu (17/10).

Di bursa ICE Rotterdam, harga batu bara untuk kontrak teraktif Desember 2018 ikut melanjutkan kenaikannya dengan berakhir menguat 0,95% di level 100,60 pada Kamis (18/10).

Sebaliknya di Zhengzhou Commodity Exchange, harga batu bara thermal untuk pengiriman Januari 2019 tergelincir dari penguatannya dan berakhir turun 0,81% atau 5,4 poin di level 658,2 yuan per metrik ton pada perdagangan kemarin.

“Pembangkit listrik memiliki sedikit insentif untuk membeli pasokan spot di tengah harga yang tinggi saat jumlah persediaan terlihat cukup sementara penggunaan sehari-hari tetap lemah,” jelas China Coal Transport and Distribution Association, seperti dikutip Bloomberg.

Proyeksi awal dari National Climate Centre menunjukkan sebagian besar wilayah China akan mengalami suhu yang lebih tinggi dari normal pada musim dingin ini.

Sementara itu, harga minyak mentah melanjutkan pelemahannya pada akhir perdagangan Kamis (18/10). Minyak West Texas Intermediate untuk pengiriman November 2018 ditutup melemah 1,6% atau 1,10 poin di level US$68,65 per barel di New York Mercantile Exchange.

Adapun minyak Brent untuk pengiriman Desember 2018 berakhir turun 0,76 poin atau 0,9% di level US$79,29 per barel di bursa ICE Futures Europe yang berbasis di London.

Harga minyak melemah setelah cadangan minyak AS meningkat 6,49 juta barel pekan lalu, menurut data pemerintah yang dirilis Rabu (17/10), lebih dari dua kali jumlah perkiraan dalam survei Bloomberg.

“Sepertinya hal-hal semacam itu sudah tenang. Saya pikir ada koreksi di pasar dan kekhawatiran seputar hilangnya ekspor Iran akan muncul kembali dan pasar akan stabil,” kata Gene McGillian, manajer riset pasar di Tradition Energy, seperti dikutip Bloomberg.

Minyak mentah melonjak awal bulan ini karena ketidakpastian apakah Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutunya dapat mengimbangi kerugian pasokan dari Iran setelah sanksi dimulai pada November.

Kenaikan itu didukung oleh ketegangan AS-Saudi setelah Trump berjanji menjatuhkan "hukuman berat" jika kerajaan terkait dengan hilangnya Khashoggi. Namun, peningkatan stok dan kekhawatiran permintaan telah menyeret harga kembali dari level tertinggi empat tahun.

"Stok meningkat di AS, dan alasannya adalah karena output AS untuk ekspor dimaksimalkan sementara produksi AS meningkat," kata Bjarne Schieldrop, kepala analis komoditas di SEB AB.

Stok minyak mentah di AS telah meningkat selama empat pekan berturut-turut, kenaikan terpanjang sejak awal 2017. Persediaan di pusat penyimpanan Cushing, Oklahoma, juga meningkat 1,78 juta barel pekan lalu menjadi lebih dari 28 juta barel, level tertinggi dalam hampir empat bulan.

Pergerakan harga batu bara kontrak Januari 2019 di bursa Newcastle

Tanggal                                    

US$/MT

18 Oktober

111,95

(+1,91%)

17 Oktober

109,85                   

(+1,81%)

16 Oktober

107,90

(+0,56%)

15 Oktober

107,30

(-0,05%)

12 Oktober

107,35

(-0,28%)

Sumber: Bloomberg

Tag : harga batu bara
Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top