Aset Berisiko Kembali Memikat, Rupiah pun Bangkit

Nilai tukar rupiah berhasil bangkit dari pelemahannya, seiring dengan pulihnya daya tarik aset-aset berisiko yang mendorong rebound bursa saham Asia di pengujung perdagangan pekan ini, Jumat (12/10/2018).
Renat Sofie Andriani | 12 Oktober 2018 19:12 WIB
Kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat Rp15.043 pada 2 Oktober 2018. - Bisnis/Radityo Eko

Bisnis.com, JAKARTA — Nilai tukar rupiah berhasil bangkit dari pelemahannya, seiring dengan pulihnya daya tarik aset-aset berisiko yang mendorong rebound bursa saham Asia di pengujung perdagangan pekan ini, Jumat (12/10/2018).

Berdasarkan data Bloomberg, nilai tukar rupiah di pasar spot ditutup menguat 38 poin atau 0,25% di level Rp15.197 per dolar AS, setelah berakhir melemah 35 poin atau 0,23% di posisi 15.235 pada perdagangan Kamis (11/10).

Rupiah mulai kembali rebound saat dibuka terapresiasi 17 poin atau 0,11% di Rp15.218 per dolar AS pagi tadi. Sepanjang perdagangan hari ini, rupiah bergerak pada level Rp15.188 – Rp15.218 per dolar AS.

Bersama rupiah, beberapa mata uang di Asia menguat, dipimpin won Korea Selatan dan rupee India, masing-masing terapresiasi cukup tajam sebesar 1,15% dan 0,81%.

Di sisi lain, mata uang yuan offshore dan onshore China masing-masing terpantau melemah 0,37% dan 0,38% pada pukul 18.20 WIB, bersama beberapa mata uang lainnya, seperti yen Jepang yang terdepresiasi 0,11%.

Sementara itu, indeks dolar AS yang melacak kekuatan greenback terhadap sejumlah mata uang utama hari ini terpantau sedikit naik 0,060 poin atau 0,06% ke level 95,077 pada pukul 18.09 WIB setelah bergerak fluktuatif.

Pagi tadi, indeks dibuka di zona hijau dengan kenaikan tipis 0,02% atau 0,016 poin di level 95,033, setelah pada perdagangan Kamis (11/10) berakhir melemah 0,51% atau 0,491 poin di posisi 95,017.

Dilansir Bloomberg, won memimpin penguatan pada mata uang Asia setelah data inflasi AS yang meleset dari estimasi membebani pergerakan dolar AS.

Kenaikan harga konsumen AS yang lebih lesu daripada perkiraan menggerogoti dolar AS, sehingga para pedagang memangkas pertaruhan mereka mengenai laju kenaikan suku bunga oleh Federal Reserve.

Bursa saham di kawasan Asia pun rebound dari kemerosotannya pada perdagangan Kamis (11/10) bahkan setelah bursa Wall Street di Amerika Serikat (AS) terus melemah. Indeks Dow Jones telah turun sekitar 7% dari rekor level tertingginya di 26.951 yang dibukukan pada 3 Oktober.

Bursa saham di kawasan ini menguat, dengan indeks saham di Hong Kong, Taiwan, dan Korea Selatan masing-masing berakhir naik setidaknya 1,5%.

Menurut para pedagang, sebagian pendorong rebound bursa saham di Asia hari ini adalah spekulasi bahwa AS tidak akan melabeli China sebagai manipulator mata uang, sehingga kembali mendorong permintaan untuk aset berisiko sekaligus melemahkan permintaan untuk aset safe haven, seperti yen.

Staf Departemen Keuangan Amerika Serikat (AS) disebut-sebut telah menyampaikan pandangan kepada Menteri Keuangan Steven Mnuchin bahwa China tidak memanipulasi mata uangnya, yuan.

Konklusi itu, jika diterima oleh Mnuchin, dapat mencegah eskalasi perang perdagangan AS-China serta menghilangkan sumber keresahan untuk pasar negara berkembang.

Secara terpisah, Presiden AS Donald Trump dikabarkan akan bertemu dengan Presiden China Xi Jinping dalam KTT G-20 di Buenos Aires menjelang akhir November, seperti dilaporkan Wall Street Journal, mengutip informasi pejabat di kedua negara.

“Mata uang Asia mungkin mendapatkan pemulihan setelah data inflasi AS menunjukkan hasil yang moderat dan Presiden Trump dikabarkan merencanakan pertemuan dengan Presiden China Xi Jinping untuk meredakan tensi perdagangan,” kata Christopher Wong, pakar strategi valas senior di Maybank, Singapura, seperti dikutip Bloomberg.

“Sentimen terhadap kurs di emerging market Asia juga akan didukung oleh laporan yang mengindikasikan Departemen Keuangan AS mungkin tidak melabeli China sebagai manipulator mata uang.”

Tag : Gonjang Ganjing Rupiah
Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top