Spekulasi Soal Manipulasi Kurs Bebani Yen, Bursa Jepang Rebound

Bursa saham Jepang berhasil rebound pada akhir perdagangan hari ini, Jumat (12/10/2018), sejalan dengan pelemahan nilai tukar yen yang berpotensi mendorong prospek laba eksportir.
Renat Sofie Andriani | 12 Oktober 2018 15:58 WIB

Bisnis.com, JAKARTA – Bursa saham Jepang berhasil rebound pada akhir perdagangan hari ini, Jumat (12/10/2018), sejalan dengan pelemahan nilai tukar yen yang berpotensi mendorong prospek laba eksportir.

Indeks Topix rebound dan berakhir di zona hijau dengan kenaikan tipis 0,03% atau 0,59 poin di level 1.702,45, setelah sempat melanjutkan koreksinya dengan dibuka melemah 0,73% atau 12,36 poin di posisi 1.689,50.

Berdasarkan data Bloomberg, dari 2.097 saham pada indeks Topix, 1.121  saham di antaranya menguat, 924 saham melemah, dan 52 saham stagnan.

Saham SoftBank Group Corp. dan Nintendo Co. Ltd. yang masing-masing naik 4,63% dan 3,49% menjadi pendongkrak utama atas rebound Topix pada akhir perdagangan hari ini.

Sejalan dengan Topix, indeks Nikkei 225 rebound dan berakhir di zona hijau dengan kenaikan 0,46% atau 103,80 poin di level 22.694,66, setelah melanjutkan koreksinya dengan dibuka melemah 1,18% atau 267,43 poin di posisi 22.323,43.

Sebanyak 108 saham menguat, 113 saham melemah, dan 4 saham stagnan dari 225 saham pada indeks Nikkei. Saham SoftBank Group Corp. (+4,63%), Tokyo Electron Ltd. (+4,32%), dan FANUC Corp. (+2,34%) mendorong rebound indeks Nikkei 225 hari ini.

Baik Topix dan Nikkei 25 berakhir anjlok lebih dari 3,5% pada perdagangan Kamis (11/10), sebagian karena kekhawatiran investor seputar perselisihan perdagangan yang sedang berlangsung antara Amerika Serikat (AS) dan China 

Sementara itu, nilai tukar yen terpantau terdepresiasi 0,18 poin atau 0,16% ke level 112,34 yen per dolar AS pada pukul 15.15 WIB, sekaligus mematahkan apresiasi yang mampu dicatatkan enam hari berturut-turut sebelumnya.

Dilansir Bloomberg, yen melemah saat bursa saham rebound dan spekulasi bahwa AS tidak akan melabeli China sebagai manipulator mata uang mendorong permintaan untuk aset berisiko.

Sentimen tersebut kembali mengangkat daya tarik aset berisiko sekaligus melemahkan permintaan untuk aset safe haven, seperti yen

Staf Departemen Keuangan Amerika Serikat (AS) disebut-sebut telah menyampaikan pandangan kepada Menteri Keuangan Steven Mnuchin bahwa China tidak memanipulasi mata uangnya, yuan.

Konklusi itu, jika diterima oleh Mnuchin, dapat mencegah eskalasi perang perdagangan AS-China serta menghilangkan sumber keresahan untuk pasar negara berkembang.

Presiden Donald Trump diketahui telah menekan Mnuchin untuk menyatakan China sebagai manipulator mata uang, tetapi staf Departemen Keuangan belum menemukan alasan untuk melakukannya, menurut sumber terkait permasalahan ini.

Meski tidak berpotensi memicu sanksi atau penalti lainnya dari AS, mendeklarasikan China sebagai manipulator mata uang dapat meningkatkan ketegangan perdagangan antara dua ekonomi terbesar di dunia ini serta berpotensi memicu reaksi pasar.

Tag : bursa jepang
Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top