GEJOLAK PASAR: Untuk Investasi Jangka Pendek, Beli Reksa Dana Pasar Uang Sekarang

Sejumlah manajer investasi merekomendasikan reksa dana pasar uang bagi investor yang ingin meraih keuntungan investasi dalam jangka pendek di tengah tingginya volatilitas psar saat ini.
Tegar Arief | 12 Oktober 2018 01:11 WIB

Bisnis.com, JAKARTA — Sejumlah manajer investasi merekomendasikan reksa dana pasar uang bagi investor yang ingin meraih keuntungan investasi dalam jangka pendek di tengah tingginya volatilitas psar saat ini.

Sejak awal tahun, kinerja reksa dana pasar uang terbilang moncer. Berdasarkan data Infovesta Utama, kinerja indeks reksa dana pasar uang yang tercermin dari Infovesta Money Market Fund Index secara year-to-date (ytd) per 5 Oktober lalu mencapai 3,06%.

Indeks reksa dana pasar uang menjadi satu-satunya produk yang mencatatkan kinerja positif sepanjang tahun berjalan 2018. "Untuk jangka pendek kami rekomendasikan reksa dana pasar uang karena risikonya kecil dan hampir tidak ada pengaruh terhadap ketidakpastian pasar," kata Head of Investment Division PT BNI Asset Management Susanto Chandra saat dihubungi Bisnis.com, Kamis (11/10).

Dia menambahkan, reksa dana pasar uang tidak memiliki sensitivitas yang tinggi terhadap kondisi pasar dan tekanan ekonomi global. Ini berbeda dengan reksa dana beraset dasar saham dan surat utang, baik surat utang negara maupun korporasi.

Hal senada disampaikan Presiden Direktur PT Sucorinvest Asset Management Jemmy Paul Wawointana. Reksa dana pasar uang menjadi pilihan terbaik untuk investor yang ingin menanamkan uangnya jangka pendek, yakni selama 3 bulan hingga 5 bulan.

Investor, kata dia, bisa memanfaatkan pelemahan rupiah terhadap dolar AS yang diprediksi masih berlanjut hingga beberapa bulan ke depan. "Pelemahan rupiah menguntungkan pasar uang, dan ini sudah banyak yang masuk untuk investasi jangka pendek," kata dia.

Dia menambahkan, investor yang mulai masuk ke pasar uang mayoritas berasal dari investor ritel yang biasanya kurang siap menghadapi volatilitas pasar, baik saham maupun di obligasi. Sementara itu, investor institusi, sambungnya, justru mulai masuk ke reksa dana saham dan reksa dana pendapatan tetap.

Pasalnya, secara valuasi saat ini saham dan obligasi dianggap membaik. Namun, langkah ini biasanya dilakukan oleh investor institusi yang menanamkan dananya dalam jangka waktu panjang, seperti investor asuransi dan dana pensiun.

Investor institusi, menurutnya, justru memanfaatkan pelemahan indeks harga saham gabungan (IHSG) untuk melakukan aksi beli dengan keyakinan pasar akan kembali membaik pada penghujung tahun seperti tren yang selama ini terjadi.

"Secara historical tekanan memang selalu datang sampai November. Namun, Desember kenaikannya selalu tajam. Sehingga sekarang saatnya beli karena secara valuasi sudah menarik," paparnya.

Ivan Jaya, Head of Wealth Management & Retail Digital Business Bank Commonwealth mengatakan bahwa reksa dana saham merupakan pilihan tepat untuk nasabah yang memiliki rencana investasi jangka panjang dan memiliki profil risiko yang tinggi dengan kondisi pasar saat ini. Namun, jika investasi hanya akan dilakukan dalam waktu singkat, investasi reksa dana pasar uang tepat untuk dilakukan.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk investasi dua bulan ke depan adalah hasil laporan keuangan emiten kuartal III/2018 yang jadwalnya dimulai pada 12 Oktober, isu perang dagang lanjutan, serta mid-election AS pada November mendatang.

Tag : reksa dana
Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top