Wall Street Tumbang, Bursa Asia Meluncur

Bursa saham Asia meluncur pada perdagangan pagi ini, Kamis (11/10/2018), setelah bursa Wall Street mengalami penurunan terburuknya, yang dapat mengancam kepercayaan bisnis dan investasi di seluruh dunia.
Renat Sofie Andriani | 11 Oktober 2018 09:23 WIB
bursa asia

Bisnis.com, JAKARTA – Bursa saham Asia meluncur pada perdagangan pagi ini, Kamis (11/10/2018), setelah bursa Wall Street mengalami penurunan terburuknya, yang dapat mengancam kepercayaan bisnis dan investasi di seluruh dunia.

Dilansir Reuters, indeks MSCI Asia Pacific, selain Jepang, turun 0,9% ke level terendahnya dalam 17 bulan, sedangkan indeks Nikkei Jepang tersungkur 3,2% di awal perdagangan, penurunan harian terbesar sejak Maret.

Di bursa Wall Street Amerika Serikat (AS), indeks saham S&P 500 mengalami penurunan satu hari terbesarnya sejak Februari saat saham teknologi jatuh akibat kekhawatiran melambatnya permintaan. Sektor teknologi pada S&P turun 4,8%, dengan Apple Inc melemah 4,6%.

Pada perdagangan Rabu (10/10), indeks Dow Jones Industrial Average ditutup terjerembap 3,15% atau 831,83 poin di level 25.598,74, indeks S&P 500 anjlok 3,29% atau 94,66 poin di 2.785,68, sedangkan indeks Nasdaq Composite berakhir tersungkur 4,08% atau 315,97 poin di level 7.422,05.

Penurunan tersebut cukup buruk untuk menarik perhatian Presiden AS Donald Trump, yang berulang kali mengeluhkan langkah penaikan suku bunga oleh bank sentral AS Federal Reserve.

“Saya benar-benar tidak setuju dengan apa yang The Fed lakukan,” kata Trump kepada wartawan sebelum menghadiri agenda politik di Pennsylvania. “Saya pikir The Fed sudah gila.”

Komentar hawkish dari para pembuat kebijakan The Fed memicu aksi jual pada obligasi AS pekan lalu sekaligus membawa imbal hasil bertenor jangka panjang ke level tertingginya dalam tujuh tahun.

Lonjakan tersebut membuat saham terlihat kurang menarik dibandingkan dengan obligasi, serta juga mengancam membatasi aktivitas dan keuntungan ekonomi.

Pertaruhan untuk data inflasi AS yang akan dirilis hari ini waktu setempat pun meningkat. Hasil yang tinggi hanya akan memicu spekulasi kenaikan suku bunga lebih agresif oleh The Fed.

“Pasar ekuitas terkunci dalam aksi jual tajam, dengan kekhawatiran di sekitar seberapa jauh imbal hasil akan naik, peringatan dari IMF tentang risiko stabilitas keuangan, dan ketegangan perdagangan lebuh lanjut. Semuanya mendorong ketidakpastian,” kata analis di ANZ.

Kenaikan lebih tinggi dalam imbal hasil juga mengancam untuk menyedot dana keluar dari pasar negara berkembang (emerging market), memberikan tekanan khusus pada mata uang yuan China di tengah upaya pemerintah Tiongkok menghadapi pertikaian dagang yang berlarut-larut dengan Amerika Serikat.

Bank sentral China telah membimbing yuan yang terus melemah, menembus batas psikologis 6,9000. Ini memaksa mata uang emerging market lainnya untuk melemah agar tetap kompetitif serta menarik kemarahan AS yang melihatnya sebagai devaluasi yang tidak adil.

Tag : bursa asia, wall street
Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top