Bursa Berjangka Kedelai Naik 3 Sesi Beruntun, Posisi Gandum Anjlok

Harga kedelai di bursa Chicago kembali mendapat dorongan mendekati titik tertinggi selama 6 pekan karena adanya curah hujan di Midwest yang mengancam akan menghambat panen dan menurunkan kualitas panen.
Mutiara Nabila | 09 Oktober 2018 15:00 WIB
Ladang gandum. - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA – Harga kedelai di bursa Chicago kembali mendapat dorongan mendekati titik tertinggi selama 6 pekan karena adanya curah hujan di Midwest yang mengancam akan menghambat panen dan menurunkan kualitas panen.

Sementara itu, harga gandum justru mengalami penurunan ke titik terendah selama sepekan karena para pengekspor dari Laut Hitam lanjut berkompetisi secara kaku di pasar internasional meskipun pasokan dari Rusia diperkirakan mengetat untuk beberapa bulan ke depan.

Pada perdagangan Selasa (9/10) harga kedelai untuk kontrak teraktif di Chicago Board of Trade menglami kenaikan 2,25 poin atau 0,26% menjadi US$872 sen per bushel, mendekati level tertinggi sejak 22 Agustus pada US$874 sen per bushel. Selama 2018 berjalan, harga kedelai sudah mencatatkan penurunan hingga 8,38%.

Pada sesi yang sama, harga gandum mengalami penurunan hingga 1,25 poin atau 0,24% menjadi US$512,75 sen per bushel dan membukukan kenaikan harga hingga 20,08% sepanjang tahun ini. Adapun, harga jagung turun tipis 0,25 poin atau 0,07% menjadi US$366,25 sen per bushel dan naik 4,42% secara year-to-date(ytd).

Curah hujan yang muncul di wilayah pertanian kedelai dan jagung di Amerika Serikat, seperti di Iowa, Nebraska, dan Minnesota, membuat panen untuk kedua komoditas pertanian itu terhenti, tapi curah hujan itu juga membuat tanah menjadi lembab sehingga cocok untuk panen gandum musim dingin di AS.

Selain itu, SovEcon menyebutkan dari data bea cukai didapat bahwa ekspor biji-bijian Rusia terpacu pada pekan lalu. Rusia tercatat mengekspor 15,7 juta ton biji-bijian selama 1 Juli hingga 4 Oktober. Jumlah tersebut naik 26% dari periode yang sama setahun lalu yang dengan ekspor gandum sejumlah 13,5 juta ton.

Hujan yang juga melanda Australia dan Argentina, sebagai pengekspor utama biji-bijian di belahan bumi Selatan, semakin menambah tekanan pada harga gandum. Ekonom agribisnis Nationa Australia Bank Phin Ziebell mengungkapkan bahwa laju ekspor dari Rusia yang sangat cepat semakin menambah tekanan pada harga gandum.

“Ada curah hujan yang cukup menguntungkan di bagian Barat Australia, sehingga medorong produksi gandum,” ujarnya, dilansir dari Reuters, Selasa (9/10).

Para trader masih menahan posisinya menuju rilis laporan dari Departemen Pertanian AS (USDA) tentang pasokan dan permintaan yang diperkirakan akan menunjukkan panen jagung dan kedelai AS yang lebih besar  dan menambah pasokan jagung, kedelai dan gandum.

Karena adanya libur nasional Columbus Day di AS, laporan panen mingguan USDA dan kondisi pertanian AS yang biasanya dirilis tiap Senin siang waktu AS jadi tertunda sehari.

Tag : komoditas, gandum
Editor : Pamuji Tri Nastiti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top