Ini Penyebab Defisit Arus Kas Waskita Karya (WSKT) Bakal Menciut

Defisit arus kas bersih yang diperoleh dari aktivitas operasi PT Waskita Karya (Persero) Tbk. diproyeksikan akan menyusut dari posisi Rp3,03 triliun pada semester I/2018 sejalan dengan masuknya pembayaran pekerjaan light rail transit Sumatra Selatan tahap keempat.
M. Nurhadi Pratomo | 28 September 2018 07:30 WIB
/Ilustrasi

Bisnis.com, JAKARTA— Defisit arus kas bersih yang diperoleh dari aktivitas operasi PT Waskita Karya (Persero) Tbk. diproyeksikan akan menyusut dari posisi Rp3,03 triliun pada semester I/2018 sejalan dengan masuknya pembayaran pekerjaan light rail transit Sumatra Selatan tahap keempat.

Kontraktor pelat merah itu baru saja menerima pembayaran tahap keempat untuk proyek light rail transit (LRT) Palembang senilai Rp3,9 triliun. Sebelumnya, emiten berkode saham WSKT itu tercatat telah menerima pembayaran sebanyak tiga tahap dengan total Rp1,9 triliun pada 2017.

Director of Finance and Strategy Waskita Karya Haris Gunawan mengklaim masuknya pembayaran tersebut akan membantu kinerja kas operasional perseroan. Apalagi, WSKT masih menyelesaikan pencairan pembayaran dari sejumlah proyek turn key lainnya.

Haris memproyeksikan total pembayaran yang akan masuk dari proyek-proyek turn key mencapai Rp20 triliun sampai dengan akhir 2018. Saat ini, jumlah yang telah cair mencapai Rp4,5 triliun.

Dengan masuknya dana tersebut, dia memproyeksikan arus kas dari aktivitas operasi perseroan bakal membaik pada 2018. Artinya, defisit yang dikantongi akan tergerus dari posisi Rp3,03 triliun per 30 Juni 2018.

“Defisit arus kas dari aktifitas operasi akan berkurang dan kami masih mengejar pembayaran turn key lainya,” ujarnya kepada Bisnis.com, Kamis (27/9/2018).

Selain Rp20 triliun dari pembayaran sejumlah proyek, Haris menuturkan pihaknya masih menunggu pembayaran sekitar Rp6 triliun dari Lembaga Manajemen Aset Negara (LMAN). Menurutnya, dana tersebut akan masuk secara bertahap ke kantong perseroan.

Berdasarkan data yang dihimpun Bisnis.com, arus kas dari aktivitas operasi Waskita Karya tercatat negatif pada rentang semester I/2014—Semester I/2018. Defisit tercatat merangkak naik dari 2014 hingga 2016 kemudian tergerus sampai akhir Juni 2018.

Dari sisi total liabilitas, tercatat jumlah yang dimiliki emiten berkode saham WSKT itu terus naik dari Rp6,78 triliun pada semester I/2014 menjadi Rp91,36 triliun pada semester I/2018. Sementara itu, ekuitas naik dari Rp2,34 triliun pada semester I/2014 menjadi Rp26,23 triliun pada semester I/2018.

//FACTORING//

Terkait dengan sisa pembayaran pekerjaan LRT Sumatra Selatan, Haris mengatakan pembayaran rencananya akan dilakukan dari anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) Tahun 2019. Oleh karena itu, perseroan tengah mempersiapkan skema penjualan piutang atau factoring. 

Dia menjelaskan bahwa sisa pembayaran Rp4,7 triliun akan diproses untuk mendapatkan kontrak multi years dari pemilik proyek LRT Sumatra Selatan. Setelah menjadi piutang, perseroan akan menjual pernyataan tersebut kepada investor.

“Rencananya 70% dari nilai tagihan piutang tetapi itu masih negoisasi nantinya,” paparnya.

Lewat skema tersebut, Haris berharap mengantongi kupon yang kompetitif. Artinya, beban bunga yang ditanggung tidak melebihi bunga yang dibayarkan oleh pemilik proyek LRT Sumatra Selatan.

Sebagai catatan, proyek light rail transit (LRT) Sumatra Selatan merupakan milik Kementerian Perhubungan. Kontrak yang dikantongi WSKT dari pekerjaan tersebut senilai Rp10,9 triliun.

LRT Sumatra Selatan membentang dari Bandara Sultan Mahmud Badaruddin sampai dengan Komplek Olahraga Jakabaring sepanjang 23,40 Kilometer (Km) dan melintasi Sungai Musi dengan bentang sungai 435 meter. Di sepanjang jalur LRT, terdapat 13 stasiun, 9 gardu listrik, dan 1 depo.

Di sisi lain, PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) mencatat perseroan menawarkan Obligasi Berkelanjutan III Waskita Karya Tahap III Tahun 2018 dengan jumlah pokok sebanyak-banyaknya senilai Rp2 triliun. Rincian surat utang tersebut yakni Seri A dengan jumlah pokok Rp502,00 miliar berkupon tetap 9% bertenor 3 tahun dan Seri B  bertenor 5 tahun dengan jumlah pokok Rp854,75 miliar berkupon tetap 9,75% bertenor 5 tahun.

Sisa dari jumlah pokok yang ditawarkan sebanyak-banyaknya RP643,25 miliar akan dijamin secara kesanggupan terbaik atau best effort. Sementara, masa penawaran umum dilakukan pada 25 September 2018 dengan tanggal pencatatan di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 1 Oktober 2018.

Secara terpisah, Analis Artha Sekuritas Dennies Christoper Jordan memproyeksikan pembayaran LRT Sumatra Selatan akan memperbaiki arus kas dari aktivitas operasi WSKT. Selain itu, perseroan akan memiliki cadangan kas untuk mendanai proyek-proyek lain.

“Kalau sudah terima pembayaran seperti ini kontraktor akan cenderung lebih cepat melanjutkan penyelesaian proyek,” jelasnya.

Sementara itu, Analis Kresna Sekuritas Andreas Kristo Saragih menyampaikan hal senada. Pembayaran akan berdampak positif bagi WSKT karena saat ini likuiditas perseroan terbilang sangat ketat.

Berdasarkan data Bloomberg, harga saham WSKT ditutup menguat 5 poin atau 0,30% ke level Rp1.695, pada sesi penutupan perdagangan, Kamis (27/9). Total kapitalisasi pasar yang dimiliki perseroan senilai Rp23,01 triliun.

Tag : waskita karya, wskt, kinerja emiten
Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top