Ini Alasan Sejumlah Korporasi Tunda IPO Hingga Pilpres 2019

Jumlah perusahaan yang menunda pelaksanaan initial public offering(IPO) terus bertambah seiring dengan tingginya volatilitas pasar dan kekhawatiran terhadap pemilihan presiden tahun depan.
Tegar Arief | 27 September 2018 06:25 WIB
Siluet pengunjung mengamati layar informasi IHSG, di gedung Bursa Efek Indonesia Jakarta, Senin (17/9/2018). - JIBI/Dwi Prasetya

Bisnis.com, JAKARTA – Jumlah perusahaan yang menunda pelaksanaan initial public offering(IPO) terus bertambah seiring dengan tingginya volatilitas pasar dan kekhawatiran terhadap pemilihan presiden tahun depan.

Mayoritas korporasi baru akan merealisasikan rencana IPO usai kepastian pemerintahan baru, yakni pada tahun depan.

Direktur Utama Mandiri Sekuritas Silvano Rumantir mengatakan bahwa pada awalnya perseroan akan memboyong tiga perusahaan untuk melantai di bursa pada sisa tahun ini. Namun, semuanya batal.

"Kami ada dua hingga tiga IPO yang tadinya direncanakan tahun ini diubah menjadi tahun depan. Di antaranya perusahaan cat dan perusahaan pipa," kata, Rabu (26/9).

Menurutnya, dua diantara tiga perusahaan tersebut adalah perusahaan yang menjalankan bisnis produksi dan distribusi produk cat dan pipa.

Berdasarka catatan Bisnis.com, sejumlah perusahaan yang telah menyatakan penundaan IPO adalah PT Artajasa Pembayaran Elektronis, PT Harvest Time, PT Wahana Vinyl Nusantara, PT Wika Realty, PT PG Rajawali I, dan Gresik Jasatama. Wika Realty menjadi satu-satunya perusahaan pelat merah yang menunda IPO.

Silvano menilai, perusahaan cenderung memilih pendanaan dari sektor lain selama masih ada pilihan dibandingkan dengan IPO. "Kalau tidak ada pilihan lain selain IPO, mereka pilih IPO setelah pemilu," ujarnya.

Penundaan IPO juga dilakukan oleh klien PT Corpus Sekuritas Indonesia. Sejauh ini, perseroan telah mengantongi mandat IPO dari 7 perusahaan. Rencana awal, satu dari tujuh perusahaan tersebut akan mencatatkan sahamnya di pasar modal pada kuartal keempat tahun ini.

Komisaris Utrama PT Corpus Sekuritas Indonesia Kristhiono Gunarso memastikan IPO dari tujuh perusahaan tersebut akan dilangsungkan pada akhir tahun depan, karena mempertimbangkan pelaksanaan pemilihan presiden.

Akhir tahun dipilih dengan alasan perusahaan masih menunggu kepastian mengenai pilpres, termasuk antisipasi jika terjadi kegaduhan politik. "Tahun depan ada pemilu, kemungkinan akan kami geser ke akhir tahun," ujarnya.

Selain itu, ada kendala dalam hal pengecekan administrasi di internal perusahaan. Sebab, mayoritas klien Corpus adalah perusahaan yang bermarkas di daerah sehingga butuh waktu lebih lama untuk penyelesaian tahapan. "Kalau di daerah itu buku akuntingnya tidak sebagus di pusat. Kami melakukan koreksi-koreksi, itu butuh waktu bisa satu tahun bisa dua tahun," jelasnya.

Sebenarnya, minat IPO tahun ini cukup tinggi. Jumlah perusahaan yang mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia (BEI) tahun ini berpotensi mencapai rekor baru.

Sejauh ini, target 35 emiten baru yang dipatok otoritas pasar modal telah terealisasi. Berdasarkan catatan Bisnis, masih tersisa setidaknya 23 perusahaan lagi dalam pipeline IPO.

Akan tetapi, jumlah perusahaan yang menunda IPO berpotensi bertambah. Pasalnya, dari 23 pipeline IPO, 10 diantaranya menggunakan laporan keuangan per 31 Maret 2018. Artinya, mereka harus merealisasikan IPO maksimal pada akhir bulan ini.

Di sisi lain, otoritas pasar modal masih optimistis perusahaan tersebut akan merealisasikan IPO tepat waktu. "Kita lihat saja nanti sampai akhir bulan. Kami percaya mereka akan komitmen," kata Direktur Penilaian Perusahaan BEI Nyoman Yetna.

Tag : ipo, Pilpres 2019
Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top