Ini Kata Analis saat Indeks Dolar AS Tembus 94,22

Dolar Amerika Serikat terus melemah dengan indeknya semakin mendekati 94,00 karena dalam perang dagang AS mendapat perlawanan dari China yang menjatuhkan tarif pada barang AS senilai US$60 miliar.
Mutiara Nabila | 20 September 2018 20:04 WIB
Petugas menata tumpukan uang dolar AS di Cash Center Bank Mandiri, Jakarta, Rabu (18/4/2018)./ANTARA FOTO - Sigid Kurniawan

Bisnis.com, JAKARTA – Dolar Amerika Serikat terus melemah dengan indeknya semakin mendekati 94,00 karena dalam perang dagang AS mendapat perlawanan dari China yang menjatuhkan tarif pada barang AS senilai US$60 miliar.

Direktur sekaligus analis PT Garuda Berjangka Ibrahim mengatakan bahwa pelemahan dolar AS kali ini penyebab utamanya adala adanya perlawanan dari China, yang mengakibatkan pasar kembali positif.

Selain itu, pertemuan bank sentral Eropa (ECB) yang membahas Brexit telah menghasilkan kesepakatan yang cukup bagus. Intinya dari zona Eropa dan Inggris tidak ada masalah dan aman. Hal itu membawa sentimen positif bagi euro dan pound sterling di hadapan dolar AS.

Adapun, ekonomi di Eropa yang cukup bagus, ditambah dengan data manufaktur yang positif sehingga mengangkat nilai positif mata uang euro dan pound sterling.

Pada perdagangan Kamis (20/9), indeks dolar tercatat melemah 0,33% menjadi 94,22 dan mengalami penguatan 2,33% secara year-to-date (ytd).

“Indeks dolar melemah cukup tajam karena kemungkinan besar data pengangguran AS akan muncul negatif, mengakibatkan indeks dolar AS akan semakin melemah,” lanjutnya.

Ibrahim memperkirakan indeks dolar AS akan mencapai posisi 94,00. “Kemungkinan di Jumat akan terjadi profit taking, kalau benar data penganggurannya negatif maka dolar AS akan semakin melemah,” kata Ibrahim.

Selanjutnya, salah satu yang dinantikan pasar adalah pertemuan Federal Reserve pada 26 September mendatang. Pasar akan mengawasi apakah AS akan menaikkan suku bunga hanya tiga kali atau empat kali tahun ini.

Ibrahim mengatakan, apabila bank sentral AS hanya menaikkan suku bunga tiga kali dan berakhir pada September ini, dolar AS akan kembali menguat. Sementara itu, apabila bank sentral AS ternyata memutuskan untuk menaikkan hingga empat kali, maka dolar AS akan kembali melemah.

“[Presiden AS] Donal Trump sendiri saja tidak menginginkan dolar menguat. Kalau ternyata [suku bunga AS] naik hanya tiga kali, dolar AS akan menguat. Penguatan dolar AS akan membuat mata uang dan emas yang melawan dolar AS berguguran, sekarang kita tinggal menunggu testimoni tentang itu” paparnya.

Menurut Ibrahim, yang ditakutkan oleh pasar bukanlah kenaikkan suku bunganya, tetapi jumlah berapa kali naiknya. Seandainya naik empat kali, pelaku pasar akan melakukan posisi beli pada seluruh mata uang.

Ibrahim memprediksikan kemungkinan besar dalam pertemuan minggu depan akan menguat lalu kemudian melemah. “Ada dua pandangan, kalau menaikkan suku bunga empat kali, indeks dolar akan melemah ke 93,15. Sementara itu, kalau ternyata yang akhir September itu terakhir, indeks dolar bisa ke 96,50.”

Menurut dia,  hampir semua komoditas bisa menghijau apabila dolar AS melemah, dari logam dasar, minyak, hingga komoditas pertanian terutama yang ada kaitannya dengan perang dagang seperti kedelai.

Komoditas akan diuntungkan karena sebagian besar komoditas di bursa dijual menggunakan mata uang dolar AS. Adapun, soft commodities seperti kakao dan kopi tidak akan terlalu terpengaruh oleh pergerakan dolar AS karena tidak mendapat sentimen politik di dalamnya.

Pergerakan harga soft commodities lebih besar dipengaruhi oleh cuaca, kalau musim panas harganya naik, sedangkan saat musim hujan harganya turun sehingga saat dolar AS menguat pedagang soft commodities akan diuntungkan karena komoditas yang dijual lebih bernilai. 

Tag : dolar as
Editor : Pamuji Tri Nastiti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top