OPINI: Memanfaatkan Kondisi Minyak Bumi Dunia yang Dilematis

Bila dialog AS dan China tidak menghasilkan titik temu, dan OPEC memutuskan untuk melakukan kompensasi atas terhambatnya supply dari Iran, maka kondisi akan lebih menekan harga-harga minyak mentah untuk turun.nSebaliknya, bila OPEC tidak menyesuaikan produksi dan dialog AS dan China menghasilan kesepakatan tarif, maka harga-harga minyak mentah bisa terus bergerak naik.
Isa Djohari, VP of Research & Development PT Bursa Komoditi & Derivatif Indonesia | 19 September 2018 12:51 WIB

 Bisnis.com, JAKARTA – Banyak aktivitas bisnis di dunia yang bergantung pada berbagai jenis produk bahan bakar. Berbagai produk yang lekat dengan keseharian manusia tersebut banyak yang dihasilkan dari minyak mentah.

Oleh karena itu, aktivitas-aktivitas dalam bisnis ini secara tidak langsung akan berdampak pada permintaan minyak mentah, dan sebaliknya, pergerakan harga minyak mentah yang cukup signifikan dapat juga mempengaruhi lapangan usaha tersebut. Pelaku bisnis seperti ini akan memerlukan acuan harga minyak untuk memahami potensi risiko yang dihadapinya. Salah satunya adalah pasar minyak mentah West Texas Intermediate (WT).

WTI merupakan minyak mentah dengan kualitas tinggi dan banyak diperdagangkan di bursa. Sejak pertengahan Mei lalu, harga WTI mengalami gejolak yang cukup besar, terutama seputar potensi dampak perang dagang antara AS dan China. Minyak bumi AS merupakan salah satu produk yang dikenakan tarif impor oleh Pemerintah China.

Perang dagang antara AS dan China dikhawatirkan dapat berdampak pada perlambatan laju pertumbuhan ekonomi. Potensi menurunnya permintaan produk-produk hasil manufaktur bisa berakibat pada penurunan tingkat produksi. Hal ini tentu berdampak pada tingkat permintaan bahan bakar yang merupakan hasil olahan minyak mentah.

Minyak mentah WTI sempat diperdagangkan pada harga US$72,83 per barel sebelum turun ke US$63,59 per barel pada pertengahan Mei. Harga kemudian melonjak naik dan mencapai US$75,27 per barel, tapi kemudian beranjak turun kembali hingga sempat mencapai harga US$64,43 per barel pada pertengahan Agustus akibat tingginya stok inventori minyak mentah AS dan potensi produksi yang tinggi dengan jumlah rig operasional sebanyak 869 unit, lebih tinggi dibandingkan tahun lalu yang hanya sebanyak 763 rig.

Hingga pertengahan Agustus lalu, tidak satu pun tanker minyak AS yang menuju China. Sebelumnya pengapalan minyak dari AS ke China pada Juni dan Juli bisa mencapai 300.000 barel per hari.

Harga minyak mentah WTI kemudian mulai bergerak naik sejak 16 Agustus lalu. Faktor pendorong utama kenaikan harga selama dua pekan terakhir merupakan penyerapan stok oleh refineri atas inventori minyak mentah AS dalam jumlah yang lebih besar dari perkiraan pada pertengahan Agustus.

Selain itu sudah mulai pula dirasakan dampak dari sanksi ekonomi AS atas Iran yang mulai diberlakukan pada November mendatang. Hingga akhir Agustus, harga-harga sudah mencapai diatas level US$70 per barel.

AS telah meminta negara-negara mitra dagangnya untuk mulai mengurangi pembelian minyak dari Iran. Hal ini sudah mulai dipenuhi oleh sebagian negara secara bertahap. Dengan demikian pada tanggal penerapan sanksi AS atas Iran pada awal November, bisa berlaku dengan efektif.

Iran saat ini merupakan negara anggota OPEC dengan tingkat produksi terbesar ketiga. Terhentinya supply dari Iran bisa mengakibatkan kekurangan stok yang cukup besar. Oleh karena itu, OPEC diperkirakan membahas kemungkinan negara-negara anggota yang lain meningkatkan produksi minyak bumi demi mengimbangi terhentinya stok dari Iran.

Para pelaku perdagangan minyak bumi menghadapi dua kondisi yang saling berseberangan. Di satu sisi, ada perang dagang yang berpotensi menghambat laju pertumbuhan ekonomi yang bisa berakibat pada penurunan permintaan atas minyak mentah dunia dan menekan harga minyak bumi lebih rendah.

Di sisi yang lain, ada potensi berkurangnya stok mulai November terkait dengan sanksi AS atas Iran tersebut, karena berpotensi mendorong kenaikan harga-harga. Berbagai kondisi tersebut juga bisa cukup dinamis.

AS dan China masih terus berdialog mencari kesepakatan yang bisa mengakhiri perang dagang antara dua negara ekonomi terbesar dunia tersebut. OPEC pun berusaha mencari kesepakatan atas potensi penyesuaian produksi terkait dengan sanksi ekonomi AS pada Iran.

Bila dialog AS dan China tidak menghasilkan titik temu, dan OPEC memutuskan untuk melakukan kompensasi atas terhambatnya supply dari Iran, maka kondisi akan lebih menekan harga-harga minyak mentah untuk turun. Sebaliknya, bila OPEC tidak menyesuaikan produksi dan dialog AS dan China menghasilan kesepakatan tarif, maka harga-harga minyak mentah bisa terus bergerak naik.

Bagi pihak manufaktur, kenaikan harga bahan bakar bisa menambah beban biaya produksi. Sebaliknya bagi produsen minyak, penurunan harga bisa memaksa mereka menutup operasional sebagian rig.

Dengan adanya kontrak berjangka minyak mentah, pihak pembeli maupun penjual minyak mentah ataupun bahan bakar turunannya akan bisa melakukan lindung nilai di bursa. Dengan lindung nilai, dampak dari gejolak pergerakan harga bisa dikelola atau diminimalisasi.

ASET INVESTASI

Namun kontrak berjangka minyak mentah juga memiliki fungsi lain. Fungsi yang cukup menarik perhatian para pelaku pasar di bursa-bursa lain di dunia yakni sebagai aset investasi atau aset trading.

Melakukan investasi pada kontrak berjangka minyak mentah merupakan alternatif terbaik untuk bisa berkecimpung dalam perdagangan minyak mentah dengan mudah dan efisien. Pasalnya dengan bentuk investasi seperti ini investor tidak perlu mengelola fasilitas kilang dengan biaya tinggi.

Mengapa minyak mentah? Minyak mentah merupakan bahan baku energi yang paling banyak digunakan di dunia. Produk-produk hilirnya digunakan sebagai bahan bakar untuk transportasi, pemanas, dan berbagai jenis bahan bakar lainnya. Berdasarkan laporan bulanan OPEC, permintaan minyak dunia meningkat pesat hingga 98 juta barel per hari.

Sementara itu, tingkat produksi minyak mentah cukup stabil pada rentang 89−91 juta barel per hari selama dua tahun terakhir (2016−2017). Berdasarkan angka-angka tersebut, terlihat bahwa ada kelebihan permintaan dalam pasar minyak dunia. Umumnya keadaan seperti ini akan mendorong harga-harga lebih tinggi atau setidaknya membatasi kemungkinan penurunan harga.

Kontrak berjangka minyak mentah memungkinkan investor untuk meraih keuntungan dari pergerakan harga yang cukup menarik pada komoditas minyak mentah dengan menganalisa perbedaan antara supply dan demand komoditas tersebut.

*) Artikel dimuat di koran cetak Bisnis Indonesia edisi  Rabu (19/9/2018)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Harga Minyak, harga minyak mentah

Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top