Rupiah Terdepresiasi, Martina Berto Bidik Segmen Kelas Atas  

PT Martina Berto Tbk., yang menaungi beberapa produk kosmetik terkenal di Indonesia, akan meluncurkan produk baru dengan kualitas tinggi untuk segmen kelas atas di tengahnya mahalnya biaya produksi akibat pelemahan rupiah.
Ni Putu Eka Wiratmini | 13 September 2018 16:38 WIB
Martina Berto - Ilustrasi/mix.co.id

Bisnis.com, DENPASAR -- PT Martina Berto Tbk., yang menaungi beberapa produk kosmetik terkenal di Indonesia, akan meluncurkan produk baru dengan kualitas tinggi untuk segmen kelas atas di tengahnya mahalnya biaya produksi akibat pelemahan rupiah.
 
Emiten berkode saham MBTO ini memproduksi merek Sariayu Martha Tilaar, Belia Martha Tilaar, Biokos Martha Tilaar, Caring Colours Martha Tilaar, Dewi Sri Spa Martha Tilaar, Cempaka, PAC, Rudi Hadisuwarno Cosmetics, dan Mirabella.
 
Direktur Utama MBTO Bryan David Emil mengatakan biaya produksi yang tinggi akibat pelemahan rupiah tidak dapat didongkrak dengan promo maupun diskon. Untuk menyelamatkan margin yang makin tipis, pihaknya akan menyasar segmen kelas atas.

Upaya ini akan dilakukan melalui meluncurkan produk baru dengan kualitas lebih tinggi. Namun, dia memastikan pihaknya juga akan tetap melayani segmen eksisting.
 
"Namun, untuk penetrasi pasar yang baru belum bisa serta merta dirasakan hasilnya. Di samping butuh upaya pemasaran yang lebih intens, segmen yang lebih tinggi dan lebih selektif dalam memilih merek dan produk serta pasarnya tidak seluas segmen di bawahnya," papar Bryan dalam public expose di Denpasar, Bali, Kamis (13/9/2018).

Pada 2017, MBTO mencatat rugi bersih Rp24,34 miliar. Padahal, pada tahun sebelumnya perseroan mampu membukukan laba bersih Rp8,81 miliar.

Kondisi ini diklaim disebabkan menurunnya tingkat konsumsi masyarakat. 

Tahun lalu, perseroan meningkatkan bujet dan melakukan pemasaran yang lebih gencar. Upaya ini disebut sempat memberikan kontribusi terhadap kenaikan penjualan sebesar 6,7%.

Namun, biaya operasional turut membengkak 18,4% sehingga perseroan harus mengalami rugi bersih.
 
"Memasuki 2018, selain daya beli belum pulih, tren kenaikan harga energi dan kebijakan tarif Presiden AS Donald Trump serta defisit neraca perdagangan juga membuat pelemahan rupiah yang menyebabkan kenaikan biaya produksi," tutur Bryan.
 
Saat ini, pihaknya pun menghadapi persaingan dari produk kosmetik lainnya. Hal ini menimbulkan tekanan tersendiri terhadap penjualan MBTO walaupun permintaan konsumen atas produk tersebut masih cukup tinggi. 
 
Hingga semester I/2018, hampir semua produk mengalami penurunan penjualan. Produk kosmetik misalnya, mengalami penurunan penjualan 18,4% secara year-on-year (yoy).

Penjualan produk skin and body care juga menyusut 4,1% dan hair care terpangkas 16,7%. Sementara itu, produk cologne, fragrance, bath, and shower merosot 26,4%.

Hanya produk herbal yang mencatatkan kinerja positif setelah penjualannya meroket 414,3% secara tahunan.
 
"Kondisi ini jauh berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, yang biasanya produk color cosmetics selalu memberikan kontribusi terbesar. Pada semester I/2018, produk color and cosmetics justru kontribusinya lebih rendah dan di bawah produk katagori skin and body care," ungkapnya. 
 
Menurut Bryan, perseroan harus menanggung biaya material dan biaya overhead yang lebih tinggi karena kecilnya volume penjualan. Akibatnya, marjin keuntungan kotor juga menurun.

Di samping itu, biaya pemasaran dan penjualan tidak bisa serta merta ditekan lebih rendah karena adanya kontrak program dengan gerai-gerai ritel modern.
 
"Dengan semakin panjangnya umur piutang dan inventory dibanding umur utang dagang, perseroan membutuhkan lebih banyak pinjaman bank untuk menutup pembayaran ke supplier yang telah jatuh tempo. Hal ini juga menyebabkan penurunan current ratio dan peningkatan debt to equity," tambahnya. 

Tag : martina berto, kosmetik
Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top