Bahana Sekuritas : Rupiah Melemah, Sektor Konsumer Tahan Banting

Bahana Sekuritas menilai pelemahan nilai tukar rupiah yang terjadi belakangan ini tidak akan berpengaruh signifikan pada kinerja emiten sektor konsumer.
Dara Aziliya | 10 September 2018 15:30 WIB
Lembaran mata uang rupiah dan dolar AS diperlihatkan di salah satu jasa penukaran valuta asing di Jakarta, Senin (2/7/2018)./ANTARA FOTO - Puspa Perwitasari

Bisnis.com, JAKARTA -- Bahana Sekuritas menilai pelemahan nilai tukar rupiah yang terjadi belakangan ini tidak akan berpengaruh signifikan pada kinerja emiten sektor konsumer.

Atas penilaian beberapa faktor, entitas menilai emiten konsumer nasional tahan banting meski ada beberapa perusahaan yang kinerjanya dipastikan terganggu.

Dalam riset yang dipublikasikan sekuritas, Bahana menilai 5 faktor kunci yang didasarkan pada pola historis pelemahan rupiah yang cukup signifikan yang terjadi pada 2013, rupiah terdepresiasi hingga 24% dalam waktu 7 bulan dan pada 2015 kembali mengalami depresiasi sebesar 11% dalam waktu 9 bulan.

Faktor pertama yaitu tekanan valuta asing bersih yang dimiliki oleh perusanaan yakni omzet yang dimiliki oleh perusahaan dikurangi dengan beban biaya.

Kedua, faktor kemampuan perusahaan untuk menaikkan harga barang; berikutnya adalah jumlah hari persedian (inventory days); fleksibilitas dalam memotong opex dan yang terakhir dengan melihat eksposur utang valuta asing perusahaan.

‘’Ada tiga hal mendasar yang bisa kita lihat untuk melihat fleksibilitas perusahaan dalam menyesuaikan harga barang yakni apakah barang tersebut adalah bahan kebutuhan utama, tingkat persaingan dan tersedianya barang penganti atau substitute goods di pasar dan yang terakhir bagaimana tingkat harganya barang itu sendiri,’’ ungkap Analis Bahana Sekuritas Deidy Wijaya, Senin (10/9).

Dari riset tersebut, Bahana menyimpulkan PT Gudang Garam Tbk., PT Hanjaya Mandala Sampoerna Tbk., dan PT Mayora Indah Tbk. adalah tiga perusahaan yang paling tahan banting terhadap pelemahan rupiah.

Pasalnya, GGRM dan HMSP memiliki bahan baku mayoritas dari dalam negeri, hanya sebagian tembakau yang diimpor, sementara itu beban perusahaan yang paling besar adalah pembayaran cukai sehingga meskipun nilai tukar rupiah melemah, kinerja kedua perusahaan rokok ini tidak terlalu terpengaruh.

Adapun, meski sebagian besar bahan baku MYOR terpengaruh depresiasi rupiah, perusahaan makanan ini juga memiliki penjualan ekspor, sehingga beban biaya dalam dollar yang dikeluarkan bisa di offset dengan pendapatan dollar yang dihasilkan. 

"Masyarakat akan lebih mementingkan kebutuhan untuk rokok dan makanan dibanding barang lain yg lebih bersifat diskresioner, ini faktor yang menguntungkan bagi GGRM, HMSP dan MYOR,’’ papar Deidy.

Sementara itu, tiga perusahaan yang lebih sensitif terhadap pelemahan rupiah adalah PT Erajaya Swasembada Tbk., PT Mitra Adiperkasa Tbk., dan PT Ace Hardware Tbk. Masalah yang dihadapi ketiga perusahaan ini yaitu kurang diuntungkan saat nilai tukar terdepreasiasi karena porsi import yang cukup besar.

Ditambah lagi, perusahaan tidak memiliki banyak ruang untuk memotong opex karena tingkat variable opex/revenue yg relatif kecil, ditambah lagi, kemapuan perusahan untuk menaikkan harga cukup terbatas, sehingga akan berpengaruh terhadap permintaan jika harga dinaikan terlalu tinggi atau margin perusahaan bila rupiah terus terdepresiasi.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
bahana securities, nilai tukar rupiah

Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top