Harga Karet kian Mengkeret Gara-Gara Wilbur Gertak China

nKekhawatiran atas dampak eskalasi perselisihan dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China terus menekan harga karet pada akhir perdagangan hari ketiga berturut-turut, Jumat (3/8/2018).
Renat Sofie Andriani | 03 Agustus 2018 16:01 WIB
Pekerja mengangkat getah karet di Mesuji Raya, OKI, Sumatra Selatan, Jumat (24/2). - Antara/Budi Candra Setya

Bisnis.com, JAKARTA – Kekhawatiran atas dampak eskalasi perselisihan dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China terus menekan harga karet pada akhir perdagangan hari ketiga berturut-turut, Jumat (3/8/2018).

Harga karet untuk pengiriman Januari 2019, kontrak teraktif di Tokyo Commodity Exchange (Tocom), berakhir melemah 0,41% atau 0,70 poin di 168,30 yen per kg, setelah sempat rebound saat dibuka di zona hijau dengan kenaikan 0,40 poin di posisi 169,40.

Pada perdagangan Kamis (2/8), harga karet pengiriman Januari juga terkoreksi dengan berakhir turun 0,53% atau 0,90 poin di posisi 169 yen per kg.

Di Shanghai Futures Exchange, harga karet untuk pengiriman September 2018 juga terus turun dan berakhir melemah 0,73% atau 75 poin di 10.130 yuan per ton, setelah ditutup melemah 0,78% di posisi 10.205 pada Kamis.

Menurut Naohiro Niimura, seorang partner di perusahaan riset Market Risk Advisory, bursa karet melemah akibat terbebani kekhawatiran bahwa perselisihan dagang dengan AS akan memperlambat pertumbuhan ekonomi China.

“Ujung-ujungnya akan memperlemah permintaan untuk karet,” ujar Niimura, dikutip Bloomberg.

Menteri Perdagangan AS Wilbur Ross mengisyaratkan adanya lebih banyak ‘penderitaan’ akibat tarif yang akan dialami di masa mendatang kecuali China mengubah sistem ekonominya. China memang berulang kali menyatakan tidak akan pernah menyerah pada ancaman perdagangan AS.

“Kita harus menciptakan situasi yang lebih menyakitkan bagi mereka [China] untuk melanjutkan praktik [perdagangan] mereka yang buruk,” tutur Ross dalam sebuah wawancara di Fox Business Network.

Pemerintah AS sebelumnya dikabarkan berencana menaikkan tarif impor dari China senilai US$200 miliar guna menekan China untuk mereformasi praktik perdagangannya.

 “Alasan adanya tarif adalah untuk mencoba dan meyakinkan China mengubah perilaku mereka. Sebaliknya, mereka melakukan pembalasan. Jadi, presiden [Trump] merasa sekarang waktunya memberi tekanan lebih besar, untuk mengubah perilaku mereka,” tambah Ross.

Turut membebani karet, jumlah stok karet yang dimonitor Shanghai Futures Exchange meningkat menjadi 526.989 ton pekan lalu, level tertinggi sejak setidaknya tahun 2003.

Sementara itu, nilai tukar yen hari ini terpantau berbalik melemah 0,04% atau 0,04 poin ke posisi 111,70 per dolar AS pada pukul 14.26 WIB, setelah dibuka terapresiasi tipis 0,01% di posisi 111,65.

Pergerakan Harga Karet Kontrak Januari 2019 di Tocom

Tanggal

Harga (Yen/Kg)

Perubahan

3/8/2018

168,30

-0,41%

2/8/2018

169,00

-0,53%

1/8/2018

169,90

-0,29%

31/7/2018

170,40

+0,47%

30/7/2018

169,60

+0,95%

Sumber: Bloomberg

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
harga karet

Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top