Perdagangan Batu Bara di China Kembali Lemah

Harga batu bara termal China merosot di level 580-an yuan per ton untuk pertama kalinya sejak Mei meskipun permintaan di China memuncak karena cuaca panas yang mendorong penggunaan pendingin udara.
Mutiara Nabila | 31 Juli 2018 21:47 WIB
Alat berat dioperasikan untuk membongkar muatan batu bara dari kapal tongkang, di Pelabuhan Makassar, Sulawesi Selatan, Selasa (3/4/2018). - JIBI/Paulus Tandi Bone

Bisnis.com, JAKARTA – Harga batu bara termal China merosot di level 580-an yuan per ton untuk pertama kalinya sejak Mei meskipun permintaan di China memuncak karena cuaca panas yang mendorong penggunaan pendingin udara.

Pada perdagangan Senin (30/7), harga batu bara termal China melemah 9 poin atau 1,51% dan berada di posisi 586,60 yuan per ton dengan penurunan tipis 0,31% selama tahun berjalan.

Sebelumnya, harga batu bara China sudah mengalami penurunan setelah terjadi gelombang panas pada Mei dan Juni lalu yang menekan harganya hingga ke bawah posisi 700 yuan per ton.

Adapun, dari data China Coal Resource menyebutkan bahwa harga batu bara spot di pelabuhan Qinhuangdao anjlok 5% pada bulan ini menjadi 646 yuan per ton.

Saat ini, penurunan harga kembali terpicu karena tidak ada lagi inspeksi pertambangan, yang menyebabkan persediaan di pelabuhan melonjak. Sementara itu, penggunaan pembangkit listrik tenaga air yang tinggi membatasi permintaan terhadap komoditas batu bara pada musim panas lalu.

“Ekspektasi bahwa pembakaran batu bara di pembangkit listrik akan mengurangi persediaan dan mendorong harga kini hanya jadi angan-angan,” kata Zeng Hao, analis Shanxi Fenwei Energy Information Co., dikutip dari Bloomberg, Senin (30/7/2018).

Bank investasi Morgan Stanley melaporkan bahwa curah hujan yang tinggi di seluruh China turut berkontribusi pada penurunan harga batu bara karena temperatur yang rendah justru meningkatkan daya saing penggunaan pembangkit listrik tenaga air.

“Kami memperkirakan harga batu bara akan megalami penurunan hingga 5% pada tahun ini,” kata Simon H. Y. Lee, analis Morgan Stanley.

Analis Daiwa Capital Markets Dennis Ip juga menggarisbawahi bahwa penurunan harga saat ini sudah melampaui ekspektasi, padahal biasanya pada musim ini permintaan meningkat. Hal itu disebabkan oleh jumlah persediaan di pelabuhan dan pembangkit listrik yang masih cukup banyak.

Selain itu, faktor yang membalik keadaan harga batu bara saat ini adalah adanya pembakaran batu bara secara spontan di sejumlah pelabuhan wilayah Utara China, yang memicu trader untuk melakukan aksi jual seluruh kepemilikannya dengan harga murah karena alasan keamanan.

Pada pekan lalu, Shanghai Steelhome E-Commerce Co. melaporkan bahwa persediaan batu bara di seluruh pelabuhan mainland melonjak 5,2% ke level tertingginya sejak November 2015.

“Harga batu bara kemungkinan bisa anjlok ke bawah 570 yuan per ton pada semester II/2018, level yang ditargetkan oleh pemerintah,” ungkap Li Xuegang, Wakil General Manager China Coal Market.

Hal tersebut terjadi sebagian besar karena adanya sejumlah peraturan yang telah dikeluarkan oleh pemangku kebijakan China membuat harga batu bara melemah, termasuk untuk meningkatkan kapasitas transportasi dan mendorong hasil produksi dari pertambangan yang bekerja secara efisien.

“Kami memperkirakan harga batu bara akan mengalami perubahan drastis pada Agustus mendatang. Kemungkinan harga batu bara justru akan semakin merosot karena permintaan akan melemah pada September dan Oktober,” kata Ip.

Tag : batu bara
Editor : Pamuji Tri Nastiti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top