Bijih Besi Keluar dari Zona Bearish, Perang Dagang Tak Berpengaruh

Bijih besi menjadi salah satu komoditas yang tidak terpengaruh oleh eskalasi perang dagang yang merugikan sejumlah jenis komoditas, dengan China sebagai pengimpor dan pengguna utama komoditas logam itu. Hal itu membantu harga patokan bijih besi tetap stabil.
Mutiara Nabila | 18 Juli 2018 21:45 WIB
Seorang pekerja sedang meratakan bijih besi di atas kereta cargo di stasiun kereta Chitradurga, di Karnataka, India (9/11/2012)/Reuters/Danish Siddiqui

Bisnis.com, JAKARTA – Bijih besi menjadi salah satu komoditas yang tidak terpengaruh oleh eskalasi perang dagang yang merugikan sejumlah jenis komoditas, dengan China sebagai pengimpor dan pengguna utama komoditas logam itu. Hal itu membantu harga patokan bijih besi tetap stabil.

Saat harga tembaga di London menuju penurunan mingguan keenam dan Indeks Komoditas Bloomberg ambruk dari puncaknya pada Mei, pergerakan harga bijih besi justru tetap stabil pada kisaran posisi US$60 per ton.

Tercatat pada perdagangan Rabu (18/7) harga bijih besi 62% China naik 0,1 poin atau 0,16% menjadi US$63,85 per ton, dengan kisaran pergerakan harian pada posisi US$63,65–US$63,85 per ton.

Adapun, kinerja komoditas bijih besi dengan kualitas yang lebih tinggi juga lebih baik, dengan mencapai harga di kisaran US$90 per ton dan melampaui harga puncaknya sejak Maret 2018.

Laporan resmi Bank Morgan Stanley menuturkan bahwa harga bijih besi tetap kuat di tengah kekacauan pasar. Sebagian besar karena perbedaan sifat pasarnya, kebanyakan baja berada di saham modal domestik sehingga tidak langsung terkena dampak dari perang tarif internasional.

Ketahanan komoditas bijih besi dalam beberapa pekan terakhir meskipun perang dagang terus menguat membawa keuntungan bagi penambang global, termasuk Rio Tinto Group, BHP Billiton Ltd., dan Vale SA, yang memberikan laporan angka hasil produksi yang cukup tinggi.

Sementara itu, tarif dari Presiden AS Donald Trump pada barang China bernilai miliaran dolar AS, ditambah dengan janji Beijing untuk memberikan balasan serupa, telah memberi kerugian bagi sejumlah produsen bahan mentah. Industri baja China masih memproduksi dengan volume yang mencapai rekor.

“Data yang terkait dengan bijih besi kemungkinan akan jauh lebih positif dibandingkan dengan sektor lainnya, produksi baja naik sekitar 7%. Outlook di pasar saat ini jauh lebih positif,” ujar Daniel Hynes, Senior Ahli Strategi Komoditas di Australia & New Zealand Banking Group Ltd., dilansir dari Bloomberg, Rabu (18/7/2018).

Pada perdagangan Rabu (18/7) dengan perdagangan berjangka di Singapura yang tercatat menguat di posisi US$64,00, naik 0,58 poin dari posisi sesi sebelumnya. Sementara itu, di London Metal Exchange (LME), harga tembaga, nikel, dan timah mengalami pelemahan. Selain itu, perdagangan berjangka SGX AsiaClear naik 0,4% pada posisi harga US$63,95 per ton.

China mengolah jumlah volume baja yang mencapai rekor pada semester I/2018 ini setelah margin sejumlah pabriknya membaik di tengah pertumbuhan permintaan dari sejumlah sektor seperti pada sektor properti.

Pada saat yang sama, para pemangku kebijakan China juga meningkatkan upayanya untuk memperbaiki kualitas udara dengan cara mengurangi kapasitas produksi, yang membantu mendorong harga baja dan menopang permintaan untuk bijih besi berkualitas tinggi.

“Yang kami lihat saat ini adalah perubahan keseluruhannya karena kebijakan polusi di China kepada bijih besi berkualitas tinggi. Saat in kami melihat minat pada bijih besi melonjak ke level yang belum pernah terlihat sebelumnya,” ujar Vivek Dhar, analis Commonweaalth Bank of Australia.

Sumber : Bloomberg

Tag : komoditas, baja, bijih besi
Editor : Pamuji Tri Nastiti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top