WTI Melonjak ke Level Tertinggi Sejak 2014

Minyak mentah West Texas Intermediate untuk pengiriman Agustus menguat 3,2% atau US$2,23 dan ditutup pada US$72,76 per barel di New York Mercantile Exchange. Ketika WTI mencapai tertinggi sejak tahun 2014, pedagang opsi minyak bertaruh pada kenaikan jangka pendek lebih lanjut.
Aprianto Cahyo Nugroho | 28 Juni 2018 06:48 WIB
Harga Minyak WTI - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA – Harga minyak mentah melonjak ke level tertinggi sejak tahun 2014 pada perdagangan Rabu (27/6/2018), setelah stok minyak mentah AS jatuh paling tajam dalam hampir dua tahun terakhir.

Minyak mentah West Texas Intermediate untuk pengiriman Agustus menguat 3,2% atau US$2,23 dan ditutup pada US$72,76 per barel di New York Mercantile Exchange. Ketika WTI mencapai tertinggi sejak tahun 2014, pedagang opsi minyak bertaruh pada kenaikan jangka pendek lebih lanjut.

Sementara itu, minyak Brent berjangka untuk kontrak Agustus menguat US$1,31 dan ditutup ada US$77,62 di bursa ICE Futures Europe yang berbasis di London. Minyak mentah patokan global berada pada premium US$4,86 dibanding WTI.

Dilansir Bloomberg, Energy Information Administration menyatakan persediaan minyak mentah AS turun 9,89 juta barel pekan lalu, karena kilang-kilang mendorong tingkat pengolahan minyak mentah dan ekspor ke rekor tertinggi.

Sementara itu, minyak mentah yang disimpan di jaringan pipa utama di Cushing, Oklahoma, menyusut selama enam minggu berturut-turut.

Harga telah menguat setelah pemerintahan Presiden AS Donald Trump berusaha menghalangi pembelian minyak dari Iran, produsen minyak mentah terbesar ketiga OPEC. Upaya untuk mengisolasi dan menggoyahkan Iran membayangi rencana Arab Saudi untuk menaikkan output minyak.

"Jelas, ini penurunan cadangan AS yang sangat bullish, didorong oleh rekor ekspor minyak mentah dan tingkat pengolahan kilang,” kata Nick Holmes, analis di Tortoise, seperti dikutip Bloomberg.

Risiko mengenai pasokan mulai dari Iran hingga Venezuela telah mendorong pasar minyak mentah, bahkan ketika Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan rekannya seperti Rusia berjanji untuk memperlonggar batas produksi.

Sementara itu, rekor ekspor minyak mentah AS pekan lalu mengindikasikan produsen di AS mengirim lebih banyak minyak mentah dibandingkan Iran, menurut perhitungan Bloomberg.

Permintaan luar negeri untuk minyak mentah AS akan bertahan karena sanksi tersebut memangkas pangsa pasar Iran, sementara output Venezuela terus runtuh, dan Saudi memperluas kapasitas produksi mereka, kata Holmes.

"Kapasitas cadangan, secara global, cukup tipis dan itu menjadi pertanda baik untuk harga,” lanjutnya.

Setidaknya sejumlah pembeli minyak Iran mempertimbangkan untuk menyetujui permintaan Trump. Fuji Oil Co. dari Jepang dan Formosa Petrochemical Corp di Taiwan sedang mendiskusikan untuk mengakhiri impor dari negara penyumbang 10% output OPEC tersebut, meskipun belum ada keputusan final yang dibuat.

Tag : harga minyak mentah
Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top