DEPRESIASI NILAI TUKAR: Empat Perusahaan Indonesia Ini Dinilai Bakal Terganggu

Kinerja empat koporasi domestik diprediksi terganggu akibat pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar. Keempatnya dinilai tidak memiliki proteksi cukup kuat untuk menyiasati depresiasi rupiah, meski memiliki pinjaman signifikan dalam denominasi dolar.
Dara Aziliya | 28 Juni 2018 21:44 WIB
Moody Investors Service - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA – Kinerja empat koporasi domestik diprediksi terganggu akibat pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar. Keempatnya dinilai tidak memiliki proteksi cukup kuat untuk menyiasati depresiasi rupiah, meski memiliki pinjaman signifikan dalam denominasi dolar.

Keempat perusahaan tersebut adalah PT MNC Investama Tbk., PT Gajah Tunggal Tbk., PT Lippo Karawaci Tbk., dan PT Alam Sutra Realty Tbk. Meski arus kas perusahaan menggunakan rupiah, keempatnya memiliki lebih dari 70% utang dolar.

Berdasarkan laporan yang dipublikasikan Moody’s, keempat perusahaan Indonesia tersebut masuk ke dalam daftar lima perusahaan yang kinerjanya rentan terganggu saat mata uang lokal terus mengalami depresiasi terhadap greenback.

Lembaga pemeringkat tersebut baru saja merampungkan laporannya tentang daya tahan perusahaan-perusahaan di Asia Tenggara dan Asia Selatan terhadap depresiasi mata uang lokal. Moody’s mengecek apakah level utang dan Ebitda peruahaan tersebut tetap dapat berada di level aman saat depresiasi mata uang lokal terhadap dolar menyentuh 15%.

Vice President and Senior Credit Officer Moody’s, Annalisa DiChiara menyampaikan 27 dari 49 perusahaan yang telah di-rating Moody’s di Asean dan Asia Selatan telah menggunakan dolar untuk operasional mereka. Beberapa perusahaan juga telah mengantongi kontrak harga dalam dolar sehingga dapat meminimalisasi dampak buruk dari fluktuasi nilai tukar.

“Tujuh perusahaan telah mengonversi 15%—25%  pendapatan mereka ke dalam dolar sehingga memiliki cadangan dolar dalam neraca keuangan. Beberapa lainnya memiliki proteksi hedging dan batas waktu pinjaman yang lebih panjang,” ungkap Annalisa, Kamis (28/6).

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top