AS Minta Arab Saudi Naikkan Produksi Minyak, Iran Murka

Pihak Iran mengatakan bahwa permintaan Amerika Serikat pada Arab Saudi untuk memompa minyak dalam jumlah yang lebih besar untuk menutupi kemerosotan ekspor Iran adalah gila dan mengherankan.
Mutiara Nabila | 10 Juni 2018 12:18 WIB
Suasana sidang OPEC di Vienna, Austria, Rabu (30/11/2018). - REUTERS/Heinz/Peter Bader

 

Bisnis.com, JAKARTA – Iran dibuat murka dengan permintaan AS agar Arab Saudi meningkatkan produksi minyaknya.

Pihak Iran mengatakan bahwa permintaan Amerika Serikat pada Arab Saudi untuk memompa minyak dalam jumlah yang lebih besar untuk menutupi kemerosotan ekspor Iran adalah “gila dan mengherankan”.

Iran juga mengatakan bahwa OPEC tidak akan menghiraukan permohonan tersebut, mempersulit pembahasan pertemuan OPEC pada akhir bulan ini.

Iran, saingan Arab Saudi, punya sejarah meningkatkan tantangan pada pertemuan organisasi negara pengekspor minyak (OPEC). Sebelumnya, pada 2015, Teheran menolak menyetujui kebijakan OPEC, mengatakan bahwa OPEC seharusnya meningkatkan hasil produksi karena sanksi yang berkurang setelah melakukan kesepakatan nuklir dengan kekuatan dunia.

Presiden AS Donald Trump menarik kesepaktan nuklir itu bulan lalu dan mengumumkan sanksi tingkat tinggi pada Iran, produsen terbesar OPEC setelah Arab Saudi dan Irak.

“Itu gila, dan mengherankan, melihat instruksi itu datang dari AS meminta Saudi untuk bertindak menutupi kemerosotan ekspor Iran karena sanksi ilegal mereka terhadap Iran dan Venezuela,” tutur Gubernur OPEC Iran Hossein Kazempour Ardebili, dikutip dari Reuters, Minggu (10/6/2018).

Sebelumnya pada April Trump sempat mengatakan lewat kicauan di akun twitternya bahwa harga minyak yang tinggi merupakan hal yang disengaja oleh OPEC.

Pemerintah AS juga secara tidak resmi meminta Arab Saudi dan sejumlah produsen OPEC untuk meningkatkan hasil produksinya sehari sebelum AS menjatuhkan sanksi baru ke Teheran.

Pada sanksi AS sebelumnya, yang bekerja sama dengan Uni Eropa, ekspor minyak Iran sudah jatuh lebih dari setengahnya menjadi kurang dari 1 juta barel per hari. Saat ini, Uni Eropa tidak berniat ikut andil dalam sanksi yang baru dan meminta AS memberikan keringanan pada perusahaan Uni Eropa untuk tetap dapat melanjutkan bisnis dengan Teheran.

Namun, banyak perusahaan Eropa yang sudah memutus hubungan dengann Teheran atas ketakutan sanksi kedua dari AS, yang berarti akan kehilangan akses ke sistem kliring dolar AS.

Sanksi AS pada industri minyak Iran akan mulai berpengaruh setelah 180 hari periode peralihan yang berakhir pada 4 November. Namun, sebelum periode tersebut habis, pengolah minyak Eropa sudah mengalihkan pembelian minyaknya dari Iran.

Iran telah meminta OPEC untuk mendikskusikan sanksi yang dinilai ilegal tersebut, pada pertemuan OPEC 22 Juni mendatang, yang juga akan membicarakan soal debat kebijakan produksi.

OPEC dan sekutunya yang dipimpin oleh Rusia telah memangkas total hasil produksi sebanyak 1,8 juta barel per hari sejak Januari 2017 dan kebijakan pemangkasan tersebut semestinya berakhir pada akhir 2018.

Namun, Arab Saudi dan Rusia mengatakan bahwa kebijakan pemangkasan tersebut akan dikurangi setelah menerima permohonan dari konsumennya, termasuk AS, Chna, dan India untuk mendorong pasokan global.

Kazempour memprediksi bahwa OPEC tidak akan menghiraukan permintaan AS itu dan mengatakan bahwa harga minyak akan melonjak sebagai respons atas sanksi AS ke Iran dan Venezuela. Hal serupa penah dilakukan OPEC atas sanksi AS ke Iran sebelumnya.

 

Tag : Harga Minyak, opec
Editor : Saeno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top