Chandra Asri Bangun Suar EGF yang Ramah Lingkungan

Emiten petrokimia PT Chandra Asri Petrochemical Tbk. menunjuk Toyo Engineering Corporation dan Inti Karya Persada Teknik sebagai kontraktor teknik pengadaan dan konstruksi (EPC) untuk pemasangan Enclosed Ground Flare (EGF).
Dara Aziliya | 28 Mei 2018 18:55 WIB
Pekerja PT Chandra Asri Petrochemical (CAP) menuangkan biji plastik (polypropylene) ramah lingkungan untuk bahan membuat kantong plastik yang mudah lapuk kembali menjadi tanah dalam tempo 4 bulan, di Cilegon, Banten, Selasa (12/11). Perusahaan petrokimia tersebut memproduksi biji plastik ramah lingkungan dengan kode Asrene SF5008E untuk dipasarkan ke semua kota Besar di Indonesia untuk mengurangi dampak buruk limbah plastik konvensional yang tidak bisa lapuk dalam ratusan tahun. - antara

Bisnis.com, JAKARTA – Emiten petrokimia PT Chandra Asri Petrochemical Tbk. menunjuk Toyo Engineering Corporation dan Inti Karya Persada Teknik sebagai kontraktor teknik pengadaan dan konstruksi (EPC) untuk pemasangan Enclosed Ground Flare (EGF).

Pemasangan EGF baru tersebut akan dilakukan di komplek petrokimia perseroan di Cilegon, Banten. Adapun, EGF merupakan teknologi suar yang aman dan tanpa asap, yang secara signifikan mengurangi polusi udara, kebisingan, panas dan emisi cahaya selama proses start-up pabrik berlangsung dan apabila terjadi kegiatan operasional yang di luar dari kebiasaaan.

Presiden Direktur Chandra Asri Petrochemical Erwin Ciputra mengungkapkan penerapan EGF tersebut akan memastikan dampak operasional minimum terhadap lingkungan dan masyarakat sekitar dibandingkan dengan penggunaan suar konvensional.

“Pemasangan EGF di pabrik kami menunjukkan komitmen kami terhadap sustainability yang mana kami berinvestasi dalam teknologi terbaru untuk memastikan kegiatan operasi kami tidak membahayakan lingkungan dan masyarakat di sekitar wilayah operasi,” ungkap Erwin melalui keterangan resmi, Senin (28/5/2018).

Emiten dengan kode saham TPIA tersebut menginvestasikan US$14 juta untuk pemasangan EGF terbaru tersebut, yang ditargetkan dapat beroperasi pada 2020. Mesin EGF tersebut memiliki kapasitas yang dirancang untuk membakar 220 ton hidrokarbon per jam.

TOYO akan bertanggung jawab untuk segi teknis dan peralatan yang diimpor, sementara IKPT akan bertanggung jawab untuk perincian teknis, peralatan lokal dan konstruksi.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
chandra asri

Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top