Rupiah Sempat Rp14.200 Per Dolar AS, Analis Prediksi Pelemahan Berlanjut

Rupiah sempat menyentuh Rp 14.200 per dolar AS pada Senin (21/5) meskipun Bank Indonesia sudah menaikkan suku bunga 7 Days Reverse Repo Rate. Sejumlah analis memperkirakan pelemahan rupiah dipicu oleh penguatan dolar AS yang terdorong oleh berbagai faktor.
Mutiara Nabila | 21 Mei 2018 21:42 WIB
Uang rupiah. - Bloomberg/Brent Lewin

Bisnis.com, JAKARTA – Rupiah sempat menyentuh Rp 14.200 per dolar AS pada Senin (21/5) meskipun Bank Indonesia sudah menaikkan suku bunga 7 Days Reverse Repo Rate. Sejumlah analis memperkirakan pelemahan rupiah dipicu oleh penguatan dolar AS yang terdorong oleh berbagai faktor.

Direktur PT Garuda Berjangka Ibrahim mengatakan ada beberapa faktor yang mendorong penguatan dolar AS. Pertama, menurunnya perang dagang antara AS-China yang pada pertemuan lalu memang membahas tetang langkah untuk menyeimbangkan ekspor-impor dari masing-masing negara.

“Pada pertemuan tersebut, belum ada keputusan lebih lanjut terkait dengan jadinya perang dagang atau tidak, itu yang mendorong penguatan dolar AS,” ujar Ibrahim pada Bisnis, Senin (21/5/2018).

Kedua, kenaikan treasury  yields AS untuk tenor 10 tahun hingga mencapai hampir 3,1% membuat investor lebih tertarik pada dolar AS. Adapun, kenaikan imbal hasil itu juga meningkatkan ekspektasi pasar pada kenaikan suku bunga AS yang rencananya akan kembali dinaikkan pada Juni mendatang yang semakin mendorong penguatan dolar AS.

Ketiga, adanya sentimen politik dari Italia. Partai politik di Italia menjanjikan adanya pemotongan pajak besar-besaran dan menaikkan belanja sosial agar bisa memenangkan pemilu.

Pernyataan itu memicu perdebatan para analis terkait dengan sumber dana yang akan menopang janji kerja partai politik itu. Hal itu menambahh tekanan pada harga jual euro sehingga dolar AS terdorong menguat.

Ibrahim memprediksikan rupiah bisa menyentuh Rp14.219 per dolar AS besok, dan untuk sepekan kedepan rupiah akan bergerak pada Rp14.180 – Rp14.250 per dolar AS.

“Upaya BI menaikkan suku bunga sudah cukup, tetapi masalah eksternalnya memang berat sekali. Dolar AS menguat dipicu kenaikan yields hingga 3,09%. Lalu dari sentimen tersebut, indeks dolar bisa sampai 95,” kata Ibrahim terkait dengan upaya intervensi yang sudah dilakukan BI.

Analis PT Monex Investindo Futures Faisyal juga menyampaikan hal serupa. Alasan pelemahan rupiah masih dipicu oleh penguatan dolar AS.

“Ekspektasi pasar masih besar pada kenaikan suku bunga AS pada Juni nanti,” ujar Faisyal pada Bisnis, Senin (21/5/2018).

Menurutnya BI bisa melakukan intervensi lain untuk membantu rupiah untuk menguat. Saat ini pasar tengah menantikan keputusan pemerintah dan BI yang sedang mengkaji langkah-langkah yang dapat dilakukan ke depan.

“Pemerintah dan BI bisa saja mengucurkan dolar, menaikkan suku bunga lebih lanjut, atau memberi kelonggaran kebijakan bagi para pengusaha sehingga bisa menarik minat investor untuk kemabali berinvestasi ke Indonesia,” kata Faisyal. Dia memprediksi rupiah akan kembali melemah besok pada kisaran Rp14.150 – Rp14.250 per dolar AS.

Pada 2015, rupiah juga sempat melemah tercatat lebih rendah dari posisi rupiah saat ini. Pada September 2015 rupiah menyentuh Rp14.828, lebih rendah 4,30% dibandingkan dengan tahun ini.

Pada Senin (21/5) rupiah tercatat ditutup melemah 34 poin atau 0,24% menjadi Rp14.190 per dolar AS dari penutupan sebelumnya pada posisi Rp14.156 per dolar AS. Secara year-to-date (ytd) rupiah melemah 4,77%.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Gonjang Ganjing Rupiah

Editor : Pamuji Tri Nastiti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Top