Rupiah Nyaris Sentuh 14.200, Ekonom: Beri Contoh Kewajiban Devisa Ekspor Ditahan di Bank Versi Thailand

Pemerintah diharapkan melakukan sejumlah kebijakan untuk kembali menguatkan kurs rupiah atas dollar Amerika Serikat yang siang ini nyaris menyentuh 14.200. Pemerintah bisa lakukan bauran kebijakan antara stimulus fiskal maupun moneter, kata Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Bhima Yudhistira kepada Bisnis.com, hari ini, Senin (21/5/2018).
Linda Teti Silitonga | 21 Mei 2018 11:28 WIB
Petugas menata tumpukan uang rupiah. - JIBI/Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA— Pemerintah diharapkan melakukan sejumlah kebijakan untuk kembali menguatkan kurs rupiah atas dollar Amerika Serikat yang siang ini nyaris menyentuh 14.200.

“Pemerintah bisa lakukan bauran kebijakan antara stimulus fiskal maupun moneter,” kata Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Bhima Yudhistira kepada Bisnis.com, hari ini, Senin (21/5/2018).

Dari sisi fiskal ujarnya, kinerja ekspor memang perlu didorong lewat berbagai insentif seperti tax holiday bagi perusahaan yang berorientasi ekspor.

Dari sisi moneter, bisa terbitkan aturan tentang kewajiban devisa hasil ekspor ditahan di bank dalam negeri dalam kurun waktu minimum 6 bulan-9 bulan, seperti yang dilakukan Thailand.

“Karena cukup mendesak bentuknya paling tepat adalah Perpu UU No.24/1999 tentang Lalu Lintas Devisa dan Sistem Nilai Tukar. Sejak awal tahun Thailand berhasil mengalami apresiasi 1,6% (ytd),” kata Bhima.

Seperti diketahui, kurs rupiah atas dollar Amerika Serikat melemah pada perdagangan hari ini, Senin (21/5/2018) melemah hingga nyaris menyentuh 13.200.

Pada pk. 10:29 WIB, kurs rupiah atas dollar AS melemah 42 poin atau 0,3% ke Rp14.198 per dollar AS.

Sementara itu pada pk. 10:56 WIB, indeks dollar AS menguat 0,21% ke level 93,834.

Imbal hasil obligasi AS memang telah meninggalkan level tertingginya, tapi tetap berada di atas 3%. Pada pk. 11:06 WIB yield bertenor 10 tahun ke 3,06%.

“Rupiah diproyeksi melemah hingga 14.300 sampai pekan depan,” kata Bhima.

Dia mengemukakan efek dari kenaikan bunga acuan BI memang tidak terlalu berdampak positif ke pelaku pasar, karena hanya naik 25 bps menjadi 4,5%.

“Respons BI agak terlambat dan hanya naik 25 bps bukan 50 bps.” Kata Bhima.

Sebelumnya investor sudah melakukan price in atau antisipasi kebijakan bunga acuan ke harga saham. Efek kenaikan bunga acuan juga tidak bisa menahan besarnya tekanan global.

Salah satunya yield spread antara Treasury bills 10 tahun dan SBN makin lebar. Yield Treasury tenor 10 tahun naik cukup signifikan menjadi 3,11% sementara SBN ditenor yg sama saat ini sebesar 7,3%. Ada spread 419 basis poin. Lebarnya perbedaan yield menjadi indikasi investor cenderung melepas kepemilikan SBN.

Faktor lain karena indeks dolar terus mengalami kenaikan dalam 1 bulan terakhir. Indeks dolar merupakan perbandingan kurs dolar AS dengan 6 mata uang paling dominan di dunia.

“Jika dolar index naik artinya secara rata rata mata uang dolar semakin perkasa,” kata Bhima.

Sementara tambahnya, investor juga masih mencermati data ekonomi global seperti laporan klaim pengangguran dan data manufaktur AS. Hal ini untuk menentukan arah kenaikan bunga acuan Fed rate berikutnya, khususnya bulan Juni mendatang di rapat FOMC.

Disisi yang lain laporan Beige Book yang dirilis Goldman Sachs mengungkap kekhawatiran para investor terkait perang dagang AS China.

“Alhasil dalam satu minggu terakhir investor asing masih melakukan net sales atau penjualan bersih saham Rp3,2 triliun,” kata Bhima.

Investor juga terus mengevaluasi data dalam negeri seperti pertumbuhan ekonomi yang stagnan, neraca perdagangan yang negatif di April dan defisit transaksi berjalan kuartal I/2018 mencapai US$5,5 miliar.

“Faktor global dan domestik ini bisa menentukan fluktuasi nilai tukar rupiah dalam jangka panjang,” kata Bhima.

Tag : Gonjang Ganjing Rupiah
Editor : Linda Teti Silitonga

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top