REKOMENDASI SEPEKAN: Pasar Cenderung Terkonsolidasi

Sepanjang pekan ini, pasar saham dan pasar surat utang kemungkinan masih akan cenderung terkonsolidasi di level terkini dan belum menunjukkan peluang peningkatan lebih lanjut pasca-kenaikan suku bunga acuan BI 7 days repo rate.
Emanuel B. Caesario | 20 Mei 2018 19:14 WIB
Karyawan mengamati pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Dealing Room Bank Permata, Jakarta, Rabu (4/4/2018). - JIBI/Felix Jody Kinarwan

Bisnis.com, JAKARTA—Sepanjang pekan ini, pasar saham dan pasar surat utang kemungkinan masih akan cenderung terkonsolidasi di level terkini dan belum menunjukkan peluang peningkatan lebih lanjut pasca-kenaikan suku bunga acuan BI 7 days repo rate.

Kenaikan suku bunga acuan BI 7DRR memang tidak serta merta akan memulihkan pasar. Bahkan, Jumat pekan lalu pasar kompak terkoreksi sehingga seakan-akan kenaikan BI 7 DRR sehari sebelumnya sama sekali tidak ada artinya.

Seperti diberitakan sebelumnya, pada Jumat pekan lalu rupiah ditutup melemah 98 poin atau 0,7% ke level Rp14.156 per dolar AS. Sementara itu, IHSG ditutup turun 32,61 poin atau 0,56% ke level 5783, sedangkan yield surat utang negara (SUN) tenor 10 tahun meningkat 18 bps ke level 7,34%.

Valdy Kurniawan, Analis Phintraco Sekuritas, mengatakan bahwa kenaikan BI 7DRR seharusnya bisa menjadi sentimen positif jangka pendek. Pasar sudah mengantisipasi kenaikan tersebut jauh-jauh hari sebelumnya dan kini terlihat mulai terjadi jenuh jual di pasar saham.

Meskipun demikian, perkembangan pasar global tidak dapat dinafikan, terutama terkait dengan potensi kenaikan suku bunga The Fed antara 2 hingga 3 kali lagi tahun ini. Belum lagi sentimen-sentimen lain di baliknya, seperti kenaikan harga minyak, konflik nuklir, dan perang dagang.

Alhasil, fundamental Indonesia yang digadang-gadang masih kuat seperti kurang berdaya pikat. Investor asing tetap saja kabur dan investor domestik cenderung makin lama menahan diri untuk kembali ke pasar, was-was jangan sampai koreksi masih berlanjut.

Valdy mengatakan, investor seharusnya kini lebih rasional memandang pasar Indonesia. Benar bahwa pasar terkoreksi, rupiah melemah dan suku bunga acuan meningkat. Namun, di balik itu secara umum kondisi fiskal masih cukup baik. Sayangnya, psikologi investor sulit dikendalikan.

“Perkiraan kami IHSG masih akan bergerak di level bawah 5.800-5.900 sampai pekan depan karena data-data domestik juga belum ada yang signifikan akan dirilis. Lalu libur Lebaran juga cenderung membuat investor wait and see dulu, tunggu kebijakan akan seperti apa,” katanya Jumat pekan lalu.

Valdy mengatakan, titik kristis berikutnya bagi IHSG adalah di level 5.750 yang bila ditembus akan menyebabkan pelemahan selanjutnya sulit dikendalikan. Meski begitu, hingga akhir tahun ini Phintraco masih optimis IHSG akan mampu kembali lagi ke level 6.500.

Di tengah kondisi saat ini, Valdy memandang sektor yang cukup menarik adalah perbankan, konsumer, konstruksi dan industri dasar dan kimia. Hal ini erat terkait dengan arah kebijakan pemerintah yang terus mendorong investasi sektor riil.

Hal ini jelas akan membutuhkan dukungan dana perbankan dan pasokan bahan dasar dari industri dasar dan kimi. Selain itu, tren konsumsi juga tetap stabil dan proyek infrastruktur tetap menjadi fokus.

Saham-saham pilihan perbankan yakni 4 bank big cap yang secara fundamental sangat kuat, yaitu BBCA, BBRI, BMRI, dan BBNI. Di industri dasar dan kimia pilihannya pada TPIA, sementara pada konstruksi adalah saham-saham BUMN, yakni WSKT, WIKA, ADHI dan PTPP. Untuk konsumer, pilihannya yakni INDF, ICBP, dan UNVR.

Janson Nasrial, Wakil Presiden Senior Royal Investium Sekuritas, mengatakan bahwa investor saat ini terlihat masih menunggu sejauh mana pelemahan lanjutan masih mungkin untuk terjadi, baik di pasar saham maupun obligasi.

“Aberdeen Asset Management sudah masuk lagi di pasar kita, walaupun masih di obligasi. Begitu juga dengan Goldman Sachs Asset Management. Kalau dua ini sudah masuk, mestinya fund manager yang lain juga ikut, cuma tampaknya mereka tunggu seperti apa bottom-nya,” katanya.

Jason memperkirakan, level terendah bagi pasar Indonesia kemungkinan adalah di kisaran 5600-5700 bagi IHSG, Rp14.100 bagi nilai tukar rupiah, dan 7,1% - 7,2% bagi yield SUN 10 tahun. Setelah menyentuh level tersebut, investor asing kemungkinan baru akan kembali lagi ke Indonesia.

“Kapannya saya tidak tahu, karena fundamental kita sebenarnya oke. Mereka juga tidak akan selamanya tetap di Amerika Serikat, karena sebagus-bagusnya ekonomi AS, mereka juga ada pelemahan, current account deficit mereka juga tinggi,” katanya.

Jason menilai, saham-saham yang menarik untuk dikoleksi yakni UNVR, ICBP dan CPIN untuk sektor konsumer, lalu WSKT untuk konstruksi. Di sektor perbankan, Jason memvaforitkan BBRI, sedangkan di sektor telekomunikasi ada TLKM.

I Made Adi Saputra, Kepala Riset Fixed Income MNC Sekuritas, mengatakan bahwa pengaruh kenaikan BI 7DRR mungkin akan relatif lambat di pasar. Namun, untuk pasar obligasi, indikasi jenuh jual sudah terlihat.

Pada lelang sukuk negara pekan lalu, terlihat mulai ada peningkatan permintaan investor. Hal ini memberi harapan lelang SUN yang akan digelar pekan ini akan mengalami peningkatan permintaan juga.

Seperti diketahui, lelang SUN dua pekan lalu hanya mendulang minat Rp7,19 triliun dengan yield yang terlalu tinggi, sehingga pemerintah memutuskan membatalkan seluruh lelang. Kini, setelah level yield di pasar sekunder mencapai titik tertinggi, permintaan yield yang tinggi di lelang menjadi wajar.

“Memang sudah mulai ada sinyal balik ke market sehingga harapannya sudah akan ada peningkatan permintaan lagi, walaupun mungkin pemerintah juga harus lihat penyesuaian yield-nya. Pemerintah juga sudah turunkan target tinggal Rp10 triliun [dari sebelumnya Rp17],” katanya.

Made menilai, baik pasar saham maupun obligasi baru akan bisa benar-benar bergerak positif setelah gejolak nilai tukar mereda. Untuk itu, tentu butuh waktu dan strategi yang tepat dari pemerintah. Namun, bila terlalu lama, investor mungkin akan berpersepsi negatif.

Menurutnya, tekanan nilai tukar rupiah baru akan mulai mereda secara bertahap setelah Bank Indonesia mulai kembali melelang Sertifikat Bank Indonesia. BI harus benar-benar hati-hati mempersiapkan instrumen ini. Bila tidak, resikonya pelemahan berlanjut pada nilai tukar rupiah akan cukup mengawatirkan, sebab akan menekan inflasi import dan biaya dana korporasi.

Tag : IHSG, Obligasi
Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top