Fund Manager Reksa Dana Andalkan Sektor Pertambangan

Pertambangan menjadi andalan sejumlah manajer investasi (MI) untuk dijadikan underlying dalam pengelolaan reksa dana di tengah penurunan indeks harga saham gabungan (IHSG) dan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.
Tegar Arief | 26 April 2018 16:07 WIB
Reksa dana - Ilustrasi

Bisnis.com, JAKARTA - Pertambangan menjadi andalan sejumlah manajer investasi (MI) untuk dijadikan underlying dalam pengelolaan reksa dana di tengah penurunan indeks harga saham gabungan (IHSG) dan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.

Sebab, sektor tersebut akan diuntungkan dengan pelemahan nilai tukar mengingat sebagian besar produknya dipasarkan di luar negeri. Adapun untuk sektor lain, masih cukup tertekan sehingga belum mampu menjadi pilihan menarik.

"Kami lebih mengandalkan sektor-sektor yang dapat diuntungkan dari pergerakan mata uang seperti pertambangan yang memiliki porsi ekspor besar," kata Head of Investment Division PT BNI Asset Management, Susanto Chandra saat dihubungi, Kamis (26/4/2018).

Menurutnya, pelemahan IHSG yang terus terjadi bahkan berada di bawah level Rp6.000 ini merupakan dampak dari jebloknya nilai tukar rupiah. Untuk itu, fund manager harus cermat dalam memilih sektor saham yang masih mampu menghasilkan return untuk reksa dana.

Selain pertambangan, saham sektor konsumsi juga cukup menarik. Namun menurut Susanto, hal ini harus ditopang dengan peningkatan daya beli masyarakat. Dengan kata lain, saham sektor konsumsi akan menarik selama daya beli masyarakat meningkat.

Tahun ini, sambungnya, sektor konsumsi akan diuntungkan karena merupakan tahun politik di mana pemerintah akan berupaya memberikan stimulus untuk menjaga daya beli masyarakat.
"Tinggal timingnya yang perlu dicermati, apakah semester pertama atau kedua. Sepertinya sektor konsumsi akan baik pada paruh kedua karena saat ini masih terbebani naiknya harga bahan baku," jelasnya.

Hal senada disampaikan oleh Katarina Setiawan, Chief Economist & Investment Strategist PT Manulife Asset Management Indonesia. Menurutnya, untuk saat ini saham sektor komoditas menjadi pilihan yang menarik bagi manajer investasi."Ada beberapa sektor yang kami andalkan, terutama komoditas dan pertambangan," kata dia.

Dia menambahkan, khusus untuk sektor konsumsi akan ada perbaikan dalam waktu dekat karena sejumlah faktor. Pertama pemerintah menahan kenaikan harga tarif dasar listrik dan bahan bakar minyak bersubsidi.

Kedua pemerintah menaikkan anggaran sosial, ketiga akan cairnya gaji ke-13, keempat pencairan tunjangan hari raya (THR) dalam waktu dekat, dan kelima pemangkasan pajak bagi usaha mikro dan kecil menengah. Kelima faktor ini menjadi pengerek laju daya beli masyarakat. "Kami optimistis daya beli akan naik karena dukungan dan upaya yang dilakukan oleh pemerintah," ujarnya.

Sementara itu, Katarina optimistis pergerakan IHSG akan kembali membaik sejalan dengan moncernya kinerja mayoritas emiten serta potensi pertumbuhan gross domestic bruto (GDP) di dalam negeri.

Adapun untuk reksa dana yang menggunakan acuan obligasi masih cukup menarik. Apalagi, yield obligasi pemerintah terus naik. Bahkan hari ini yield Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun telah menembus level 7%. "Dengan yield yang mencapai 7% sebetulnya sudah sangat menjanjikan daya tarik yang lebih tinggi."

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
reksa dana

Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top