AS Tambah Produksi, Harga Minyak Setop di Bawah US$69

Harga minyak tertancap pada posisi di bawah US$69 sebagai pertanda pengeboran minyak serpih Amerika Serikat yang semakin bertambah dan membuat pasar khawatir harapan naiknya harga karena mandeknya kebijakan OPEC.
Mutiara Nabila | 23 April 2018 21:36 WIB
Prediksi Harga Minyak WTI - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA – Harga minyak tertancap pada posisi di bawah US$69 sebagai pertanda pengeboran minyak serpih Amerika Serikat yang semakin bertambah dan membuat pasar khawatir harapan naiknya harga karena mandeknya kebijakan OPEC.

Perdagangan berjangka di New York mengalami penurunan 0,4% setelah data menunjukkan pengeboran di AS menambah lima unit rig pekan lalu, menimbulkan kekhawatiran akan meningkatnya produksi minyak AS.

Kontrak minyak AS untuk Mei 2018 meningkat 1,5% pekan lalu sebelum penutupan Jumat karena kebijakan OPEC seharusnya berlanjut untuk meningkatkan kembali investasi produksi minyak dan gas.

Harga minyak mentah reli bulan ini ke level yang tidak pernah dialami sejak 2014 karena ketegangan geopolitik meningkat di Timur Tengah.

Sementara itu, organisasi negara pengekspor minyak mentah (OPEC) dan sekutunya mengurangi 97% surplus produksi yang telah menekan harga minyak selama tiga tahun terakhir. Kebijakan tersebut harus dilanjutkan, ujar perwakilan Arab Saudi pada pertemuan produsen di Jeddah pekan lalu.

“Saat Trump mengkrtitik OPEC karena menaikkan harga, pasar mempelajari setelah pertemuan di Jeddah bahwa sejumlah produsen masih akan memangkas produksi, yang akan mendorong harga untuk jangka panjang,” ujar Lim Jaekyun, analis komoditas di KB Securities di Seoul, dikutip dari Bloomberg, Senin (20/4/2018).

“AS berpikir unutk melanjutkan produksi, hanya langkah tersebut yang menjadi risiko untuk harga minyak saat ini,” lanjut Jaekyun.

Pada perdagangan Senin (23/4/2018), harga minyak mentah West Texas Intermediate untuk pengiriman Juni 2018 terjual dengan harga US$67,96 per barel, turun 0,44 poin atau 0,64% pada 16.50 WIB. Total volume yang terjual berada pada posisi 6,2% di atas rata-rata 100 hari.

Sementara itu, harga minyak mentah Brent berjangka pada perdagangan di waktu yang sama terjual pada harga US$73,68 per barel, turun 0,38 poin atau 0,51%. Harga naik pada dua minggu lalu, ditutup pada angka US$74,10 per barel. Penjualan kedua bursa patokan internasional tersebut terjual US$5,72 premium terhadap WTI Juni.

Untuk bursa berjangka Yuan-denominated pengiriman September 2018, bertambah 0,7% menjadi 439,7 yuan per barel pada perdagangan Shanghai International Energy Exchange, setelah naik 2,3% pekan lalu.

Menurut Menteri Perminyakan Arab Saudi Suhail Al Mazrouei, harga minyak masih punya ruang untuk naik dan kooperasi antarprodusen harus dilanjutkan setidaknya hingga akhir tahun, bahkan mungkin hingga kuartal I/2019. Arab Saudi ingin melihat harga minyak mencapai US$80 dan menghiraukan tuduhan Trump.

Data Baker Hughes menjelaskan, di AS pengeksplor telah menambah 23 unit rig bulan ini sehingga totalnya menjad 820 unit. Produksi minyak mentah negara tersebut telah bertambah lebih dari dua kali lipat dari produksi terendah sedekade lalu, mencapai 10 juta barel per hari (bpd) setiap pekan pada Februari.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Harga Minyak

Sumber : Bloomberg
Editor : Pamuji Tri Nastiti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Top