Star Energy Siap Terbitkan Global Bond US$580 Juta

Lembaga pemeringkat internasional Moody's Investors Service memberikan rating Ba3 dengan prospek stabil terhadap surat utang Star Energy Gerothermal (Wayang Windu) sebesar US$580 juta.
Hafiyyan | 23 April 2018 21:55 WIB
Pekerja melakukan pemeriksaan rutin jaringan instalasi pipa di wilayah Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Salak yang berkapasitas 377 megawatt (MW) milik Star Energy Geothermal, di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, Rabu (4/4/2018). - JIBI/Rachman

Bisnis.com, JAKARTALembaga pemeringkat internasional Moody's Investors Service memberikan rating Ba3 dengan prospek stabil terhadap surat utang Star Energy Gerothermal (Wayang Windu) sebesar US$580 juta.

Wakil Presiden dan analis senior Moody's Spencer Ng menyampaikan, pihaknya memberikan peringkat Ba3 dengan prospek stabil terhadap surat utang yang akan diterbitkan Star Energy Geothermal (Wayang Windu) Limited sebesar US$580 juta. Kupon obligasi ialah 6,75% dan akan jatuh tempo pada 2033.

Nilai surat utang tersebut turun dari rencana awal. Sebelumnya, pada 27 Februari 2018, Moody's Investor Service juga memberikan rating Ba3 terhadap obligasi senilai US$650 juta yang akan diterbitkan perusahaan dengan outlook stabil.

Peringkat Ba3 mencerminkan profil pendapatan Star Energy yang sesuai ekspektasi ke depannya. Hal itu didukung operasi perusahaan yang solid dan pembayaran yang stabil di bawah kontrak penjualan energi dengan PT PLN.

"Kami menganggap perubahan nilai penerbitan obligasi adalah netral," tulisnya dalam keterangan resmi, Jumat (20/4/2018).

Peringkat Ba3 mencerminkan prospek kinerja operasional perusahaan yang positif. Namun, profil kredit Star Energy dibatasi dua hal, yakni ketergantungan perusahaan terhadap pasokan sumber daya panas bumi dan tingginya biaya modal kerja.

Oleh karena itu, perusahaan perlu melakukan perawatan berkala untuk menjaga suplai panas bumi. Di sisi lain, Star Energy diharapkan melakukan pengeboran di sumur-sumur baru.

Moody's memprediksi adanya shortfall dalam cadangan kas perusahaan hanya sementara, dan diperkirakan membaik pada Juni 2018. Momentum tersebut berdekatan dengan rencana akuisisi PT Barito Pacific Tbk. (BRPT) terhadap Star Energy Group Holdings Pte Ltd (SEGH).

Menurut Ng, setelah menerbitkan surat utang US$580 juta, debt service coverage ratio (DSCR) Star Energy akan mencapai 1,28 kali. DSCR ialah pembagian laba bersih total terhadap total pelunasan utang.

Sementara itu, outlook stabil mencerminkan ekspektasi Moody kinerja Star Energy cenderung stabil dalam 12 bulan-18 bulan ke depan. Namun, rating bisa saja dinaikkan jika DSCR perusahaan bisa melampaui 1,35x.

Sebaliknya, peringkat tersebut bisa diturunkan jika DSCR perusahaan turun secara konsisten ke bawah 1,15x. Hal ini bisa terjadi jika produksi panas bumi dilakukan lebih cepat dari estimasi sehingga biaya pengeboran membengkak.

Star Energy Geothermal (Wayang Windu) Limited mengoperasikan salah satu pembangkit listrik tenaga panas bumi terbesar di Indonesia. Di Jawa, perusahaan menghasilkan listrik sebesar 227 MW.

Operasi komersial unit 1 dimulai pada Juni 2000, kemudian diikuti unit 2 berkapasitas 117 MW pada Maret 2009. Semua listrik yang dihasilkan dijual ke PLN di bawah kontrak penjualan energi (ESC).

Saham Star Energy Geothermal (Wayang Windu) Limited dimiliki oleh Star Energy Geothermal Pte Ltd (SEG), yang 60% sahamnya dipegang SEGH. SEG dan SEGH mengoperasikan pembangkit listrik panas bumi di Jawa Barat dengan daya 648 MW.

Tag : emiten, star energy geothermal
Editor : Pamuji Tri Nastiti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top