Pefindo Turunkan Peringkat Intiland Jadi idBBB+ dengan Outlook Stabil

PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) menurunkan peringkat PT Intiland Development Tbk. serta obligasi II 2016 perseroan dari idA- menjadi idBBB+ dan mengubah outlook dari negatif menjadi stabil.
Emanuel B. Caesario | 13 April 2018 13:29 WIB
CEO PT Intiland Development Tbk Hendro Gondokusumo (dari kiri) berbincang dengan Direktur Pemasaran Susan Pranata, dan Direktur Pengelolaan Modal dan Investasi Archied Noto Pradono di sela-sela konferensi pers, di Senayan City, Jakarta, Kamis (12/10/2017). - JIBI/Endang Muchtar

Bisnis.com, JAKARTA — PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) menurunkan peringkat PT Intiland Development Tbk. serta obligasi II 2016 perseroan dari idA- menjadi idBBB+ dan mengubah outlook dari negatif menjadi stabil.

Pefindo juga menurunkan peringkat obligasi I 2013 seri B Intiland Rp154 miliar yang akan jatuh tempo pada 9 Juli 2018 dari idA- menjadi idBBB+. Peringkat atas emiten dengan kode saham DILD ini diberikan untuk periode 10 April 2018 hingga 1 April 2019.

Analis Pefindo Yogie Perdana mengatakan penurunan peringkat mencerminkan tingkat leverage keuangan perusahaan yang agresif, yang ditunjukkan dengan rasio utang terhadap EBITDA sebesar 8,4x pada 2017. Sementara itu, proteksi arus kas, yang diukur dari rasio dana dari operasi (Funds From Operation/FFO) terhadap utang dan EBITDA terhadap beban bunga, terus berada di bawah 1% and 2x selama 2016-2017.

Adapun perusahaan telah mempersiapkan cadangan dana berupa kas dan fasilitas pinjaman bank yang belum ditarik untuk keperluan pembayaran obligasi yang akan jatuh tempo tersebut. Per 31 Desember 2017, DILD memiliki saldo kas sebesar Rp749,5 miliar.

Penurunan juga mencerminkan ekspektasi Pefindo bahwa profil kredit perusahaan dapat tetap lemah, sebagai akibat dari tingginya utilisas utang atas proyek-proyek high rise terdahulu dengan tingkat penjualan yang rendah, terutama dari segmen kelas atas. Hal Ini mengakibatkan profil kredit tidak lagi konsisten dengan peringkat yang sebelumnya, yakni A-.

“Kami berpandangan bahwa permintaan dari segmen kelas atas dapat tetap lemah akibat beban pajak yang relatif tinggi, sedangkan mayoritas permintaan di 2016-2017 didorong segmen kelas menengah dan bawah yang mana harganya lebih terjangkau di tengah tingkat bunga yang rendah,” tulisnya dalam laporan pemeringkatan seperti dikutip Bisnis, Jumat (13/4/2018).

Obligor dengan peringkat idBBB kemampuan yang memadai dibanding obligor Indonesia lainnya untuk memenuhi komitmen keuangannya. Walaupun demikian, kemampuan obligor lebih mungkin terpengaruh oleh perubahan buruk keadaan dan kondisi ekonomi

Tanda tambah (+) menunjukkan bahwa peringkat yang diberikan relatif kuat dan di atas rata-rata kategori yang bersangkutan. Peringkat tersebut mencerminkan posisi pasar DILD yang kuat di industri properti, kualitas aset yang baik dan cadangan lahan yang cukup besar.

Namun peringkat tersebut dibatasi oleh struktur permodalan yang agresif dan proteksi arus kas yang lemah, marjin yang lebih rendah dari perusahaan sejenis, dan karakteristik industri properti yang sensitif terhadap perubahan kondisi makroekonomi.

“Kami dapat menaikkan peringkat jika DILD menurunkan tingkat financial leverage dan meningkatkan rasio proteksi arus kas secara konsisten, didukung oleh kinerja pra penjualan yang kuat disertai dengan tingkat persediaan yang lebih rendah,” tutur Yogie.

Dia menerangkan peringkat tersebut bisa diturunkan jika pendapatan dan EBITDA perusahaan secara signifikan lebih rendah dari yang diproyeksikan akibat permintaan properti yang lemah dan keterlambatan dalam penyelesaian proyek. Peringkat tersebut juga bisa berada di bawah tekanan jika utang lebih besar dari yang diproyeksikan tanpa dikompensasi dengan pendapatan dan EBITDA yang lebih tinggi, sehingga menyebabkan profil kredit perusahaan semakin memburuk.

DILD bergerak dalam sektor properti baik pembangunan maupun investasi. Portofolio perusahaan meliputi pengembangan kawasan perumahan (residential maupun high rise), kawasan industri, serta properti investasi. Sebagian besar proyek-proyek perusahaan berlokasi strategis daerah Jakarta dan Surabaya, sedangkan kawasan industri terletak di Mojokerto, Jawa Timur.

Pemegang saham utama perusahaan per Desember 2017 adalah Credit Suisse Singapore (14,3%), CIMB Securities (Singapore) Pte. Ltd. (14%), Truss Investment Partners Pte. Ltd. (11,6%), PT Bina Yatra Sentosa (11%), Bali Private Villa Pte. Ltd. (10,3%), dan publik (38,7%).

Tag : pefindo, intiland
Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top