Rupiah Melemah di Tengah Kekhawatiran Perang Dagang AS-China

Pergerakan nilai tukar rupiah berakhir melemah pada pengujung perdagangan pekan ini, Jumat (23/3/2018).
Renat Sofie Andriani | 23 Maret 2018 20:07 WIB
Ilustrasi - Bisnis

Bisnis.com, JAKARTA — Pergerakan nilai tukar rupiah berakhir melemah pada pengujung perdagangan pekan ini, Jumat (23/3/2018), saat mata uang lainnya di Asia bergerak variatif di tengah meningkatnya tensi perdagangan antara Amerika Serikat (AS) dan China.

Rupiah ditutup melemah 0,20% atau 27 poin di Rp13.782 per dolar AS, setelah dibuka dengan depresiasi 8 poin atau 0,06% di posisi Rp13.763 per dolar AS. Adapun pada perdagangan Kamis (22/3), rupiah berakhir menguat tipis 0,04% atau 6 poin di posisi 13.755.

Sepanjang perdagangan Jumat, rupiah bergerak di kisaran Rp13.763 – Rp13.797 per dolar AS.

Mata uang lainnya di Asia terpantau bergerak variatif terhadap dolar AS, dengan won Korea Selatan memimpin pelemahan sejumlah mata uang setelah terdepresiasi 0,93%. Di sisi lain, yen Jepang dan baht Thailand masing-masing menguat 0,27% dan 0,32% pada pukul 18.51 WIB.

Sementara itu, indeks dolar AS yang mengukur kekuatan kurs dolar AS terhadap sejumlah mata uang utama hari ini terpantau melemah 0,24% atau 0,218 poin ke level 89,639 pada pukul 18.41 WIB.

Sebelumnya indeks dolar dibuka turun 0,21% atau 0,191 poin di level 89,666, setelah pada perdagangan Kamis (22/3) berakhir naik tipis 0,08% atau 0,074 poin di posisi 89,857.

Dilansir Bloomberg, mata uang won Korea Selatan termasuk di antara yang paling terpukul oleh melonjaknya tensi perdagangan antara AS dan China.

Presiden Donald Trump meminta Perwakilan Perdagangan AS Robert Lighthizer mengenakan tarif terhadap impor China senilai setidaknya US$50 miliar. China kemudian meresponsnya dengan rencana penerapan penalti terhadap impor dari AS sebesar US$3 miliar.

Tensi dagang antara dua negara ekonomi terbesar di dunia tersebut memicu kekhawatiran timbulnya kerugian terhadap negara-negara regional.

Doddy Zulverdi, direktur eksekutif untuk manajemen moneter di Bank Indonesia, mengatakan BI telah melakukan intervensi di pasar sejak Jumat pagi dalam upaya mengelola volatilitas rupiah serta menjaga kepercayaan diri.

BI melihat sentimen global serta kebijakan perdagangan AS terhadap China merupakan faktor yang menyebabkan depresiasi rupiah hari ini, selain faktor musiman domestik.

Pemerintah Indonesia khawatir perang dagang antara AS dan China akan menyebabkan defisit perdagangannya melebar, saat raksasa Asia tersebut mencoba mencari alternatif pasar untuk ekspornya.

“Jika ada semacam penghalang dari AS terhadap ekspor dari China, yang harus kami antisipasi adalah kemungkinan adanya pergeseran dalam produk-produk ekspor China ke bagian lain dunia, termasuk Indonesia, dan kami sudah memiliki defisit perdagangan dengan China,” ujar Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional Bambang Brodjonegoro kepada Bloomberg.

China adalah mitra dagang terbesar Indonesia, dengan total perdagangan senilai lebih dari US$58 miliar pada 2017. Adapun defisit perdagangannya dengan China mencapai US$12,7 miliar, menurut data Kementerian Perdagangan Indonesia.

“Ketika perang dagang ini terjadi, kami harus memeriksa apakah kemungkinan defisit perdagangan di masa depan masih akan disebabkan oleh alasan yang sama, peningkatan impor barang modal atau karena sesuatu yang lebih terkait dengan perang dagang antara China dan AS,” lanjut Bambang.

 

Tag : Gonjang Ganjing Rupiah
Editor : Saeno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top